Manusia dilahirkan di muka bumi di tempat yang berbeda-beda. Perbedaan itu kemudian menjadikan seseorang tergolong suku, etnis, bangsa yang berbeda-beda. Seseorang tidak ada yang bisa memilih akan dilahirkan di tempat mana, masuk suku apa, dan juga bangsa apa. Semua itu adalah merupakan keputusan Tuhan sendiri. Bahkan seseorang dilahirkan dalam jenis kelamin laki-laki atau perempuan, juga tidak ada yang bisa memilih.
Seseorang menjadi bangsa Eropa yang biasanya bentuk badannya tinggi besar, berkulit warna keputih-putihan, dan berhidung macung, berambut pirang, semuanya adalah karunia yang harus diterimanya. Berbeda dengan bangsa Eropa adalah bangsa Afrika, mereka berkulit kehitam-hitaman, berambut keriting, tubuhnya berukuran besar, dan hidungnya tidak terlalu mancung.
Berbeda lagi adalah orang Indonesia, badannya berukuran agak kecil, bentuk rambutnya bermacam-macam, mulai dari yang paling barat, yaitu suku Aceh berambut lurus, tetapi semakin ke timur rambut mereka semakin keriting, hingga yang paling timur, yaitu suku Papua rambut mereka amat keriting. Itu semua adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri. Perbedaan itu juga menyangkut adat istiadat, jenis makanan, bahasa, dan juga agama. Pada umumnya, agama masyarakat bukan diperoleh dari hasil pencaharian, melainkan mengikuti agama orang tua dan atau lingkungannya.
Di tengah-tengah perbedaan semua itu ternyata di antara mereka masih ada kesamaannya, yaitu menyangkut suara batinnya. Orang yang dilahirkan dari suku apapun ternyata memiliki suara batin yang sama. Tatkala melihat orang lain yang sedang mengalami kesusahan, tampak lapar dan tidak ada yang dimakan misalnya, maka orang dari suku apapun akan merasa iba dan terpanggil untuk menolongnya. Ketika ada seseorang yang diperlakukan tidak adil, disiksa, dan atau diperlakukan secara tidak manusiawi, maka siapapun akan ikut merasakan kesedihannya.
Begitu pula ketika mendengar ada anak durhaka terhadap orang tuanya, maka dari siapapun akan muncul rasa benci dan mengatakan bahwa perilaku itu buruk. Hal demikian dirasakan oleh semua orang dari suku, etnis, bangsa, dan juga pemeluk agama apapun. Memperhatikan kenyataan itu, maka sebenarnya setiap orang tanpa melihat asal muasal, suku, bangsa, dan agama, ternyata memiliki suara batin yang sama. Suara batin itulah yang disebut dengan ruh, iman, cahaya, atau nur. Oleh karena itu setiap manusia, dilahirkan di manapun memiliki rasa yang sama. Rasa itulah merupakan karunia Tuhan yang diberikan secara sama, dan seharusnya selalu dipelihara.
Manakala seseorang ketika melihat penderitaan, ketidak adilan, ketidak jujuran, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya selalu mengabaikan dan tidak peduli, maka rasa yang telah dikaruniakan kepadanya sudah mati. Orang menyebutnya telah mati rasa. Mereka yang demikian itu sebenarnya harkat kemanusiaannya sudah hilang. Di dalam al Qur'an disebutkan bahwa, mereka itu dikaruniai telinga tetapi tidak dapat digunakan untujk mendengar, dikaruniai mata, tetapi tidak dapat digunakan untuk melihat, dikarjuniai hati tetapi tidak dapat digunakan untuk berpikir. Mereka itu bagaikan binatang, tetapi sebenarnya lebih sesat.
Seseorang yang masih memiliki rasa, sekalipun yang bersangkutan berasal dari suku bangsa, kepercayaan, dan agama apapun masih mampu berbuat baik. Mereka itu memiliki suara batin yang sama. Apa yang dirasakan oleh orang lain, sebagai sesuatu yang dianggap tidak adil, tidak jujur, dan atau salah, maka akan dirasakan sebagai hal yang sama. Oleh karena itu, jika terdapat orang yang berlainan suku, bangsa, dan juga agama, tetapi mampu berbuat baik sebagaimana yang seharusnya kita lakukan, maka orang dimaksud sebenarnya memiliki suara batin yang sama. Agama memberikan petunjuk agar suara batin itu selalu dirawat. Islam memberi tuntunan tentang cara merawatnya, ialah dengan selalu ingat pada Allah dan menjalankan shalat secara khusu'. Wallahu a'lam.



