Mengikuti Rapat Akbar Memperingati Resolusi Jihad
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 6 November 2016 . in Dosen . 1358 views

Pada hari Sabtu, tanggal 5 Nopember 2016, di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, diselenggarakan rapat akbar memperingati Resolusi Jihad. Semestinya acara itu akan dihadiri oleh Panglima TNI, namun oleh karena suatu dan hal diwakilkan pada Mayjen Irwanto. Pembicara lainnya adalah dari OJK dan juga saya sendiri. Pada kesempatan yang baik itu, saya diminta memberikan pandangan tentang implementasi Resolusi Jihad di bidang pendidikan.

Pada forum tersebut, saya menyampaikan bahwa, sebenarnya pesantren memiliki konsep pendidikan yang sedemikian sempurna. Konsep pendidikan yang dijadikan pegangan oleh para kyai telah meliputi semua aspek yang ada pada diri manusia, mulai dari wilayah hati, pikiran, dan juga ketrampilan atau anggota tubuh manusia. Konsep dimaksud sebenarnya telah memiliki sandaran yang tidak terbantahkan oleh karena bersumber dari kitab suci al Qur'an dan juga Hadits Nabi.

Masih dalam kesempatan tersebut, saya menyebutkan bahwa bangsa ini telah mengimport beras, jagung, buah-buahan, kedelai, daging, dan seterusnya, tetapi sebenarnya tidak perlu mengimport konsep pendidikan dari bangsa lain. Para kyai sejak sebelaum Indonesia merdeka sudah merumuskan konsep dimaksud. Hanya saja, pada tataran implementasinya belum dilakukan secara utuh oleh karena keterbatasan pesantren, terutama menyangkut finansialnya. Selama ini, pesantren menjalankan pendidikan secara mandiri dan tidak memperoleh bantuan dari pemerintah. Sekalipun demikian, tampak banyak prestasi yang dihasilkan oleh lembaga itu.

Sebagai contoh keberhasilan pesantren yang tidak bisa diabaikan adalah dalam pengajaran bahasa asing. Pesantren sekalipun hanya menggunakan fasilitas pendidikan seadanya, tetapi mampu menjadikan para santri menguasai Bahasa Arab. Tidak pernah ada lulusan pesantren yang tidak mampu membaca dan memahami kitab kuning, yang kitab itu menggunakan Bahasa Arab. Sementara itu di sekolah umum, sekalipun fasilitas yang disediakan serba cukup, ternyata mereka belum tentu berhasil menguasai Bahasa Inggris. Buktinya, ketika mereka mendapatkan tawaran belajar dari luar negeri, kendalanya adalah kemampuan bahasa asing dimaksud.

Selain itu, pendidikan di pesantren lebih mendahulukan aspek yang amat strategis, yaitu kekuatan penggerak dan penentu kehidupan manusia ialah hati. Dari hati itulah sebenarnya perilaku manusia itu muncul. Apapun bentuk perilaku manusia berawal dari hati. Bahkan, semua anggota tubuh manusia menjadi berfungsi oleh karena hatinya itu. Ketika manusia sedang tidur dan apalagi mati, maka semua anggota tubuh tidak berfungsi. Mata tidak bisa digunakan untuk melihat, telinga tidak bisa digunakan untuk mendengar, dan hati tidak dapat digunakan untuk berpikir. Itulah sebabnya, kehidupan ini tergantung pada hatinya.

Memahami konsep tersebut, maka untuk membentuk perilaku seseorang, terlebih dahulu yang seharusnya dididik adalah hatinya, dan bukan pikirannya. Posisi pikiran sebenarnya tidak lebih sekedar alat yang digunakan oleh hati untuk berpikir, dan hal itu sama dengan telinga yang digunakan untuk mendengar, mata untuk melihat, dan seterusnya. Oleh karena itu manakala hati seseorang sudah berhasil menjadi baik, maka aspek yang lain akan mengikut, dan begitu pula sebaliknya.

Selama ini di Indonesia belum diketemukan cara mendasar untuk memberantas korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya . Sekalipun telah ada polisi dan juga jaksa, pemerintah membentuk KPK yang diharapkan berhasil memberantas korupsi. Usaha tersebut memang sudah banyak hasilnya. Banyak pejabat yang tertangkap dan kemudian dimasukkan ke penjara. Akan tetapi, usaha pemerintah tersebut sebenarnya tidak akan mampu menyelesaikan esensi masalah tersebut. Buktinya, sekalipun sudah banyak yang ditangkap, kasus-kasus korupsi lainnya masih berunculan

Perilaku korup adalah bersumber dari hati seseorang. Penyimpangan itu ada yang menyuruh atau membimbingnya. Sedangkan kekuatan yang menyuruh, sebagaimana disebutkan di muka, adalah berasal dari hati tersebut. Oleh karena itu, sehebat apapun, pemberantasan korupsi tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Orang yang ditangkap karena korupsi akan bertambah banyak, tetapi pertambahan koruptor juga tidak berhasil dikur. Hal demikian itu, harena sumber korupsi tidak tersentuh, yaitu pada hati mereka.

Hal tersebut sengaja saya sampaikan pada momentum tersebut, agar dalam peringatan Resolusi Jihad, pikiran-pikiran arif dan cerdas yang ada pada para kyai tetap menjadi pegangan dan bahkan syukur jika digunakan di dalam membangun pendidikan bangsa ini. Betapa pentingnya pendidikan dalam memperbaiki hati setiap orang, sebenarnya sudah dikonsep oleh para kyai yang peduli pada pendidikan. Hanya saja konsep tersebut, oleh karena keterbatasannya, maka belum diimplementasikan secara utuh. Namun demikian, melalui konsep dimaksud, pesantren telah melahirkan anak-anak yang mandiri, cerdas, dan berwatak atau berkarakter.

Akhirnya, jika rapat akbar untuk memperingati Resolusi Jihad mampu menyadarkan para pihak yang hadir, maka kegiatan dimaksud telah memberi sumbangan besar terhadap bangsa ini. Resolusi jihad sendiri adalah merupakan fatwa KH Hasym Asy'ari pada tangga;l 22 Oktober 1945 di Jombang, yang isinya menyatakan bahwa perang melawan penjajah hukumnya adalah fardhu ain bagi seluruh bangsa Indonesaia. Fatwa dimaksud dulu telah diikuti oleh para santri, dan dipimpin oleh para kyai terjun ke medan perang mengusir penjajah. Membaca sejarah itu, kyai sebenarnya tidak saja mengurus agama, tetapi juga ikut menyelamatkan bangsa dan negara. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up