PUISI SEPI,
Meski Saling Adu Strategi
Di antra branta.
Sedang digelar pilkada.
Entah siapa memilih siapa.
Partai apa mengusung mana.
Saling adu isu dengan adu kuasa.
Bahkan gulingkan sebelum berlaga.
Sepi.
Hanya ada puisi.
Meski saling adu strategi.
Tanpa jedah sambung partai.
Selalu menginisiasi lalu mencari.
Modal sosial dengan sangat penuh arti.
Siapa saja kalah tanpa dengan upaya manipulasi.
Garis puji telah gugur bahkan sudah jauh terlewati.
Tanpa bekas dan tanpa menjadi sebuah histori.
Sepi.
Puisi tinggal sendiri.
Mencela dan juga memuji.
Diantara puing-puing tergergaji.
Sudah hilang puji hilang juga nilai.
Semangat kontestasi bukan prestasi.
Sepi.
Puisi tinggal sepi.
Ide-ide tinggal di hati.
Di kepala dan di sanubari.
Tak mungkin dapat direalisasi.
Ilusi menghantui sepanjang hari.
Surabaya, 21 Jan 2018
'Abd Al Haris Al Muhasibiy



