IDUL FITRI TANPA MUDIK
Dr. HM. Zainuddin, MA Sabtu, 15 Mei 2021 . in Wakil Rektor I . 980 views




Penyekatan arus lalu lintas di berbagai titik mudik pada hari pertama larangan mudik, Kamis (6/5/2021) sudah mulai diterapkan dengan tegas oleh pemerintah melalui Kementerian perhubungan dan kepolisian. Operasi Ketupat telah menurunkan petugas sebanyak 155.000 personel gabungan terdari TNI-POLRI. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah tradisi mudik dan mengantisipasi penyebaran baru Covid-19, yang selama ini sudah berangsur-angsur menurun dan membaik.



Karena, belajar dari pengalaman India, ledakan kasus dan lonjakan jumlah kematian akibat Covid-19 di India menjadi perhatian besar dunia dan memberi pelajaran penting bagi kita semua. Kita tidak boleh mengulang kesalahan  serupa dan kasus tersebut menjadi ujian solidaritas bangsa-bangsa untuk saling membantu mengatasi pandemi tersebut yang sudah berjalan setahun lebih.



Sebagaimana yang dirilis oleh Our World Data, bahwa kurva epidemiologi Covid-19 di India pada 16-17 September 2020 mencapai pucaknya lebih dari 93.000 angka kasus, dan pada14 Pebruari 2021 terus mengalami penurunan hingga level terendah dengan angka 11.199 kasus perhari. Di hadapan para pemimpin negara yang menghadiri forum ekonomi dunia, akhirnya Januari 2021 Perdana Menteri India, Narendra Modi mengekspresikan kepercayaan dirinya soal infra struktur kesehatan dan kesiapsiagaan India menghadapi Covid-19. Namun keberhasilan India itu hanya berlangsung hingga pertengahan Pebruari 2021, setelah itu kasus baru perlahan meningkat, bahkan sejak Maret 2021 kasus tersebut mulai melesat dengan kurva epidemiologi naik tajam akibat pemerintah pusat dan negara bagian melonggarkan pembatasan dan protokol kesehatan sehingga menyebabkan masyarakat berani melepas masker di ruang publik dan melakukan ritual massif serta melaksanakan pemilu di lima negara bagian. Hal ini yang menyebabkan ribuan korban meninggal mencapai 211.853 (Kompas, 3/5/2021).



Selama bulan puasa Ramadhan umat Islam telah melakukan ritual besar, yaitu shiyam ramadhan, plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lainnya, seperti shalat taraweh dan shalat sunnah lainnya, demikian juga tadarrus al-Qur’an. Maka bulan Syawal, mereka digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula (Ied al-Fitri). Idul fitri ada karena adanya shiyam Ramadhan, dan tidak ada identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan shiyam Ramadhan tersebut.



Kenapa umat Islam pada hari raya fitri dikembalikan ke fitrahnya? Karena selama bulan Ramadhan hingga Syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah kepada umat Islam. Paling tidak ada tujuh macam karunia itu: pertama, diturunkannya rahmat pada putaran sepuluh pertama (al-‘asyr al awwal); kedua, diberikannya ampunan (maghfirah) pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-‘asyr al-ausath); ketiga, pembebasan dari siksa neraka, yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-‘asyr al-awakhir); keempat, diturunkan lailat al qadar pada malam-malam ganjil yang nilainya lebih baik dari seribu bulan setara dengan 83 usia manusia; kelima, pelaksanaan zakat fitrah, yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia; keenam, pahala puasa sunnah 6 hari syawal, yang nilainya setara dengan puasa satu tahun; ketujuh, halal bi halal, saling memaafkan di antara mereka yang dapat menghapus dosa antarsesama.



Larangan Mudik



Dalam Idul Fitri umat Islam memulai lembaran baru dengan mengisi amal-amal shalih. Tradisi silaturahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu adalah perilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam berlatih untuk tetap menjalankan kesabaran dalam berbagai hal, karena orang sabar adalah kekasih Tuhan.



Namun saat ini karena idul fitri masih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir dan pemerintah telah melakukan kebijakan larangan mudik atau PPKM, maka orang kota tidak dapat mudik seperti bisanya. Hanya yang perlu diantisipasi oleh pemerintah juga, bahwa larangan mudik bagi orang-orang kota akan dimanfaatkan berbelanja atau rekreasi di beberapa mall dan tempat-tempat wisata lain. Dsinilah, maka peluang untuk berkerumun dan mungkin berdesakan juga tidak dapat dielakaan. Kasus pelonjakan jumlah dan angka penyebaran covid-19 di India karena pelonggaran peraturan yang diterapkan oleh pemerintah dan euforianya masyarakat harus menjadi pelajaran bersama.  



Belajar dari pengalaman India tersebut, maka kita bangsa Indonesia harus taat asas dan mengikuti kebijakan pemerintah untuk menjaga keselamatan jiwa (hifdz al-nafs). Karen dalam kaidah Islam pun dinyatakan, bahwa ”menolak kerusakan (penyakit) harus didahulukan dari pada meraih kemaslahatan”. Tanpa mengurangi nilai silaturrahim sebagai sebuah tradisi yang baik bangsa ini, maka halal bi halal juga dapat dilakukan secara on line, bisa melalui WA, SMS, FB, IG, messanger, zoom, v-meet dsb. Karena implementasi dari iman dan ibadah ritual dalam ajaran Islam mesti berdampak nilai (impact value) terhadap kemanusiaan. Maka, seseorang belum diakui imannya sebelum mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri.



Sebuah riwayat menceritakan, bahwa suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabat:Tahukah kalian, siapakah yang disebut orang yang bangkrut (muflis) itu? Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes". Kemudian Nabi menegaskan: "Bukan, bukan itu yang disebut orang bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari kiamat dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu saudaranya, tetangga, merampas hak orang lain) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka."



            Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.  Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi. Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya.



            Namun beruntung, umat Islam masih memiliki tradisi yang baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur’an, tahlil dan yasin berjamaah, berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim, baik di tingkat RT maupun RW. Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk  ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran Islam dan tradisi Islam Nusantara. Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, meski melalui media sosial adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: Jika seseorang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka supaya menjalin silaturahim. Akhirnya, meski lebaran tanpa disertai mudik, kita tetap menjaga silaturrahmi, dan semoga ibadah puasa kita selama bulan ramadhan berdampak pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan.***


(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up