Pagi itu, halaman UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terasa berbeda. Ratusan calon peserta Beasiswa Teladan berbaris rapi dengan atasan putih dan bawahan hitam. Wajah-wajah tegang bercampur harap. Mereka bersiap memasuki ruang ujian yang tersebar di Gedung Perkuliahan A, kantor HTQ, hingga Sport Center.
Di antara keramaian itu, ada satu sosok yang diam-diam mencuri perhatian.
Namanya Ahmad Syihab Athaillah. Ia datang bukan hanya membawa berkas dan harapan, tetapi juga cerita panjang tentang ketekunan. Putra tunggal dari pasangan Kasiono dan Syaiful Qulubiyah asal Kota Batu itu merupakan satu-satunya peserta tuna netra dengan hafalan 30 juz.
Langkahnya menuju ruang ujian di kantor HTQ didampingi kedua orang tuanya. Tidak ada kegaduhan, tidak ada keraguan. Hanya ketenangan yang terasa.
Di dalam ruangan, suasana hening. Penguji mulai melantunkan potongan ayat. Tanpa ragu, Syihab melanjutkannya. Lancar. Fasih. Tajwidnya terjaga. Seolah setiap ayat sudah menyatu dalam ingatannya, bukan sekadar dihafal.
Perjalanannya tidak instan. Syihab mulai menghafal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Metodenya sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran luar biasa. Ia mendengarkan ayat demi ayat, mengulangnya berkali-kali hingga benar-benar melekat. Setiap hafalan kemudian ditashih oleh guru, diperbaiki, disempurnakan.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting. Ia berhasil menuntaskan hafalan 30 juz lengkap dengan syahadah dan sanad. Sebuah capaian yang bagi banyak orang terasa berat, tetapi bagi Syihab justru menjadi awal dari mimpi yang lebih besar.
Di teras Masjid Ulul Albab, ia bercerita dengan nada tenang. Mimpinya sederhana, tetapi dalam. Ia ingin menjadi pengajar Al-Qur’an. Lebih dari itu, ia ingin mendirikan pesantren khusus bagi penyandang tuna netra, tanpa biaya.
“Saya meyakini bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” ucapnya mantap.
Di sampingnya, sang ibu, Syaiful Qulubiyah, hanya tersenyum. Matanya menyimpan kebanggaan yang sulit disembunyikan. Baginya, semangat Syihab adalah api yang tak pernah padam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana putranya berjuang, jatuh, bangkit, dan terus melangkah.
Prestasi Syihab bukan cerita baru. Dari tingkat lokal hingga nasional telah ia jelajahi. Salah satu yang paling membanggakan adalah saat ia meraih juara 1 Musabaqah Hifdzil Qur’an difabel tingkat Jawa Timur dalam ajang yang digelar Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia ke-25.
Namun, di balik deretan prestasi itu, ada satu hal yang terasa lebih kuat: ketulusan.
Di tengah hiruk pikuk seleksi dan ambisi ratusan peserta, Syihab mengingatkan satu hal sederhana. Bahwa keterbatasan tidak selalu berarti kekurangan. Kadang, justru menjadi jalan untuk menemukan kekuatan yang tidak dimiliki semua orang.
Pagi itu, UIN Malang tidak hanya menjadi tempat ujian. Ia menjadi saksi bahwa cahaya bisa hadir dari arah yang tak terduga. Dan Syihab, dengan caranya sendiri, telah menyalakannya.