MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Ada pesan yang disampaikan layaknya seorang ibu melepas anak-anaknya melangkah jauh. Bukan sekadar sambutan pembukaan, tetapi nasihat yang lahir dari kedekatan, kasih sayang, sekaligus harapan besar Bunda Rektor kepada ribuan Maliki Muda yang baru memulai perjalanan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Suasana itu terasa dalam Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Malang, Selasa (18/8/2026). Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menyapa mahasiswa baru dengan penuh kehangatan. Di hadapan mereka, Bunda Rektor tidak hanya berbicara tentang kampus dan perjalanan akademik, tetapi juga menitipkan pesan-pesan sederhana yang begitu dekat dengan kehidupan seorang anak dan orang tuanya. Salah satunya, jangan pernah melupakan orang tua.
Bunda Rektor mengajak Maliki Muda untuk selalu mengingat kedua orang tua dalam setiap langkah. Ketika berangkat kuliah, ataupun hendak melakukan aktivitas lainnya, pamitlah kepada mereka. Sebab, di balik perjalanan seorang anak hingga mampu berdiri di gerbang perguruan tinggi, ada doa, perjuangan, dan harapan orang tua yang tidak pernah putus.
Pesan itu mengalir begitu dalam hingga suasana seketika berubah haru. Nasihat Bunda Rektor tentang orang tua, salat, niat, dan masa depan menjadi pengingat bagi Maliki Muda agar menjaga diri, menghormati orang tua dan guru, serta tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan.
Di penghujung sambutannya, Bunda Rektor kembali menegaskan makna amanah. Ia mengibaratkan amanah seperti memegang bara api di tangan. Selama mampu menjaganya, seseorang harus kuat menahannya. Namun ketika tidak sanggup mengembannya, bara itu harus dilepaskan sebelum membakar dan melukai. Amanah, menurutnya, bukan sesuatu yang boleh dipermainkan. Ketika seseorang diberi kepercayaan, kemudian memilih untuk melakukan penyelewengan, maka yang dikhianati bukan hanya kepercayaan manusia. Lebih dari itu, pengkhianatan terbesar adalah kepada orang tua yang telah berjuang dan menggantungkan harapan, juga kepada agama yang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab.

Namun kehangatan Bunda Rektor tidak berhenti di atas panggung. Usai pembukaan, ia menghampiri para mahasiswa baru secara langsung. Bunda Rektor berjalan mendekat, menyapa, dan berinteraksi dengan Maliki Muda satu per satu dengan penuh keakraban. Momen itu kembali menghadirkan suasana haru. Kedekatan yang terbangun seketika membuat sejumlah mahasiswa tak mampu menyembunyikan perasaan mereka. Bahkan, ada mahasiswa yang menangis haru ketika disapa langsung oleh Bunda Rektor. Bagi mereka, hari pertama sebagai mahasiswa UIN Malang bukan hanya tentang mengikuti seremoni pembukaan PBAK. Ada sambutan hangat yang membuat mereka merasa diterima, diperhatikan, dan dipeluk sebagai bagian dari keluarga besar Maliki.

Pesan itu menjadi begitu nyata: bahwa memasuki gerbang UIN Malang bukan hanya tentang menjadi mahasiswa dan mengejar gelar, tetapi juga tentang menjadi bagian dari sebuah keluarga. Keluarga yang dibangun dengan kasih sayang, kepercayaan, dan amanah.
Di hadapan Bunda Rektor, ribuan mahasiswa baru seakan tidak hanya disambut sebagai mahasiswa. Mereka dipeluk sebagai anak-anak baru dalam keluarga besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan kasih sayang, doa, dan harapan agar kelak pulang membawa kebanggaan bagi orang tua, agama, dan negeri.