KAMPUS 3 | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat layanan akademik melalui pengembangan infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Salah satu langkah strategis yang kini disiapkan ialah pembangunan rumah sakit pendidikan di kawasan Kampus 3 UIN Malang yang telah mulai dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jumat, 22 Mei 2026.
Rencana tersebut mengemuka dalam kegiatan “Jumat Menanam” yang digelar di kawasan Kampus 3 UIN Malang. Kegiatan itu dihadiri sekitar 300 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, dan civitas kampus, termasuk Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus.
Dalam sambutannya, Benjamin mengaku terkejut melihat perkembangan Kampus 3 UIN Malang yang dinilainya tumbuh pesat dengan fasilitas modern.
“Sebagai orang Batu, saya tidak menyangka ada kampus semegah ini dengan perkembangan yang sangat cepat,” ujarnya.
Kunjungan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi pengembangan UIN Malang, terutama dalam mendukung penguatan Fakultas Kedokteran dan layanan kesehatan berbasis pendidikan.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Malang, Basri, menyebut kehadiran jajaran pejabat tinggi Kementerian Kesehatan memberikan optimisme baru bagi arah pengembangan kampus ke depan.
“Civitas akademika tidak pernah menyangka Pak Wamen bersama para direktur hadir langsung ke Kampus 3. Ini menjadi energi positif bagi pengembangan kampus,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Malang, Zainal Habib, menjelaskan bahwa pihak kampus telah menyiapkan konsep pembangunan rumah sakit yang akan diberi nama Maliki Islamic Hospital.
Menurut Zainal, rumah sakit tersebut dirancang sebagai rumah sakit pendidikan bertaraf internasional yang tidak hanya mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Kedokteran, tetapi juga melayani masyarakat luas di wilayah Malang Raya dan Kota Batu.
“Kami ingin membangun rumah sakit yang memiliki standar pelayanan baik dan dapat dimanfaatkan secara luas, bukan hanya untuk kepentingan akademik,” ujarnya.
UIN Malang saat ini masih menunggu arahan lebih lanjut dari Kementerian Kesehatan terkait tahapan pembangunan. Namun, kajian teknis dan perencanaan kebutuhan rumah sakit terus dimatangkan. Peletakan batu pertama pembangunan diperkirakan dapat dimulai pada 2027.
Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UIN Malang, Ita Hidayatus Sholihah, menilai pembangunan rumah sakit pendidikan bukan sekadar menghadirkan fasilitas fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas layanan kesehatan nasional.
“Membangun Rumah Sakit Pendidikan UIN Malang bukan hanya membangun fasilitas kesehatan, tetapi juga membangun masa depan pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Selain Wakil Menteri Kesehatan, kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah dan pimpinan universitas, di antaranya Kepala Biro Keuangan dan Barang Milik Negara Setjen Kemenkes Zan Susilo Wahyu Mutaqin serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar.
Dari jajaran pimpinan kampus hadir pula Wakil Rektor III Triyo Supriyatno, Wakil Rektor IV M. Abdul Hamid, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Yuyun Yueniwati, serta sejumlah dekan, kepala biro, dan civitas akademika UIN Malang.