Skip to Content

Bangun Pola Pikir Inovatif, Mahasiswa UIN Malang Didorong Berani Menyelesaikan Masalah di Sekitar

Bangun Pola Pikir Inovatif, Mahasiswa UIN Malang Didorong Berani Menyelesaikan Masalah di Sekitar
September 6, 2026 by
Bangun Pola Pikir Inovatif, Mahasiswa UIN Malang Didorong Berani Menyelesaikan Masalah di Sekitar
Dhafa Afriandito pratama

Malang, 2 September 2026 — Kemampuan melihat persoalan secara kritis dan menemukan solusi yang relevan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis. Tidak hanya dituntut memahami pengetahuan akademik, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, memahami kebutuhan, serta menciptakan solusi yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya inovasi dan problem solving di lingkungan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang). Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mahasiswa UIN Malang memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kreativitas, mengeksplorasi berbagai gagasan, serta menghasilkan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan kampus, tetapi juga masyarakat. Inovasi pada dasarnya tidak selalu berkaitan dengan teknologi canggih, bisnis besar, maupun penciptaan sesuatu yang sepenuhnya baru. Inovasi dapat dimulai dari persoalan sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah dalam kegiatan perkuliahan, organisasi mahasiswa, kepanitiaan, komunitas, kegiatan sosial, pelayanan kampus, media digital, hingga persoalan di masyarakat dapat menjadi titik awal untuk melahirkan sebuah inovasi.

Karena itu, mahasiswa perlu membangun cara pandang bahwa setiap persoalan dapat menjadi peluang untuk belajar dan mencari perbaikan. Kreativitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan berbagai gagasan dan kemungkinan baru, sedangkan inovasi merupakan proses ketika gagasan tersebut diwujudkan sehingga menghasilkan nilai atau manfaat. Dengan kata lain, memiliki ide saja belum cukup. Sebuah gagasan perlu diterapkan dan dibuktikan manfaatnya agar dapat benar-benar memberikan dampak. Dalam proses tersebut, mahasiswa juga perlu mengubah cara pandang ketika menemukan sebuah persoalan. Pertanyaan yang muncul tidak hanya sebatas, “Apa yang ingin saya buat?”, tetapi juga, “Masalah siapa yang sedang saya coba selesaikan?” Pertanyaan tersebut membantu mahasiswa untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang yang mengalami masalah, bukan hanya dari sudut pandang pembuat solusi. Pemahaman terhadap kebutuhan menjadi hal penting karena seseorang pada dasarnya tidak hanya membutuhkan sebuah produk, kegiatan, atau layanan, tetapi juga nilai yang mereka dapatkan. Oleh sebab itu, solusi yang baik adalah solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan dan memberikan manfaat bagi penggunanya.

Dalam memecahkan masalah, mahasiswa juga perlu menghindari kebiasaan untuk langsung menentukan solusi sebelum memahami persoalan secara mendalam. Masalah yang terlihat di permukaan belum tentu menjadi akar masalah yang sebenarnya. Sebagai contoh, mahasiswa yang terlihat tidak aktif dalam kegiatan kampus belum tentu tidak memiliki minat. Bisa saja terdapat faktor lain, seperti kurangnya informasi, jadwal yang tidak sesuai, keterbatasan akses, atau alasan lain yang perlu dipahami terlebih dahulu. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku yang sama belum tentu memiliki penyebab yang sama. Karena itu, proses penyelesaian masalah dapat dimulai dengan memahami masalah, menganalisis penyebabnya, kemudian menentukan solusi yang sesuai. Salah satu metode sederhana yang dapat digunakan adalah 5 Why, yaitu dengan terus mempertanyakan “mengapa” untuk menggali penyebab yang lebih mendalam hingga ditemukan akar persoalan. Pola berpikir tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendekatan Design Thinking yang terdiri atas lima tahapan, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Tahap Empathize mengajak mahasiswa memahami pengalaman, kebutuhan, dan perspektif orang yang mengalami masalah. Setelah itu, masalah dirumuskan secara lebih spesifik melalui tahap Define agar solusi yang dihasilkan tidak terlalu luas. Tahap berikutnya adalah Ideate, yaitu menghasilkan berbagai kemungkinan solusi. Pada tahap ini, mahasiswa didorong untuk berani mengeksplorasi ide dan tidak terlalu cepat membatasi gagasan. Setelah menentukan solusi yang akan dikembangkan, mahasiswa dapat membuat prototype atau bentuk awal dari solusi tersebut. Prototipe tidak harus sempurna dan dapat berupa sketsa, simulasi, desain awal, mock-up, maupun bentuk sederhana lainnya. Solusi tersebut kemudian diuji melalui tahap Test. Pengujian memungkinkan mahasiswa mendapatkan masukan secara langsung dari orang yang akan menggunakan solusi tersebut. Proses ini menjadi penting karena solusi yang menurut pembuatnya baik belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dalam proses inovasi, feedback tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk penolakan. Sebaliknya, masukan merupakan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, proses inovasi menjadi sebuah siklus yang terus berkembang melalui proses mencoba, mendapatkan masukan, melakukan perbaikan, dan menguji kembali solusi yang dibuat. Lingkungan UIN Malang sendiri memiliki berbagai ruang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Organisasi, komunitas, kegiatan akademik, penelitian, kewirausahaan, kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengelolaan media digital dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar menyelesaikan persoalan secara langsung. Mahasiswa dapat memulai dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya, bagaimana membuat proses belajar menjadi lebih efektif, bagaimana meningkatkan komunikasi dalam organisasi, bagaimana mempermudah mahasiswa mendapatkan informasi kegiatan kampus, bagaimana mengembangkan kegiatan sosial yang lebih tepat sasaran, atau bagaimana memanfaatkan teknologi dan media digital untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Dari persoalan sederhana tersebut, sebuah gagasan dapat berkembang menjadi program organisasi, proyek sosial, penelitian, inovasi layanan, karya digital, maupun usaha. Artinya, inovasi tidak selalu harus dimulai dari sebuah startup atau proyek berskala besar. Terkadang, inovasi justru lahir dari seseorang yang merasa terganggu oleh sebuah persoalan sederhana dan kemudian berusaha mencari cara untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.


Masa perkuliahan juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen. Mahasiswa tidak harus menunggu menjadi ahli untuk mulai mencoba sesuatu. Berbagai pengalaman yang diperoleh selama kuliah dapat menjadi proses pembelajaran untuk mengenali masalah, mengembangkan ide, menguji solusi, menerima kritik, dan melakukan perbaikan. Kegagalan dalam sebuah proyek maupun kegiatan juga tidak selalu berarti akhir dari proses. Kegagalan dapat menjadi sumber informasi mengenai hal-hal yang belum berjalan dengan baik. Begitu pula ketika mahasiswa belum menemukan sebuah ide. Kondisi tersebut tidak harus dimaknai sebagai ketidakmampuan untuk berinovasi. Daripada mengatakan, “Saya tidak punya ide,” mahasiswa dapat mengubahnya menjadi, “Saya belum menemukan ide.” Perubahan cara pandang tersebut dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengamati, mengeksplorasi, dan mencari kemungkinan baru. Pada akhirnya, inovasi dan problem solving bukan hanya tentang siapa yang memiliki ide paling besar atau paling menarik. Lebih dari itu, kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu melihat persoalan, memahami manusia yang berada di balik persoalan tersebut, menganalisis akar masalah, menciptakan solusi, berani mencoba, serta terbuka terhadap masukan dan perbaikan. Dengan keberagaman disiplin ilmu dan aktivitas mahasiswa yang dimiliki UIN Malang, lingkungan kampus dapat menjadi ruang yang strategis untuk membangun budaya inovasi. Setiap mahasiswa, apa pun program studi dan latar belakang keilmuannya, memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui perspektif dan kemampuan yang dimiliki. Budaya inovasi dapat dimulai dari langkah sederhana, yaitu melihat masalah, memahami kebutuhan, mencari akar persoalan, menciptakan solusi, mengujinya, menerima feedback, dan terus melakukan perbaikan. Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi pembelajar di ruang kelas, tetapi juga dapat berkembang menjadi problem solver, inovator, dan agen perubahan yang mampu memberikan dampak bagi kampus maupun masyarakat.


Editor: Humas
Reporter: Dhafa Afriandito Pratama
Fotografer: Admin
Bangun Pola Pikir Inovatif, Mahasiswa UIN Malang Didorong Berani Menyelesaikan Masalah di Sekitar
Dhafa Afriandito pratama September 6, 2026
Share this post
Tags
Archive