MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Mahasiswi semester 2 Program Studi Manajemen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Syafira Naylatur Rohmah, sukses mencuri perhatian setelah berhasil masuk Top 4 atau meraih gelar 3rd Runner-Up dalam ajang Remaja Muslimah Indonesia 2026. Ajang tersebut diselenggarakan oleh Dazzlingpro pada 23–24 Mei 2026 di Lagoon Avenue Mall Sidoarjo, Surabaya.
Bagi Syafira, mengikuti ajang ini bukan keputusan yang tiba-tiba. Ketertarikannya sudah muncul sejak dirinya duduk di bangku kelas 11 SMA. Ia mengaku sejak dulu menyukai kegiatan yang berkaitan dengan public speaking dan pengembangan diri.
“Saya memang suka kegiatan yang berhubungan dengan public speaking dan pengembangan diri. Saat melihat ajang ini saya merasa tertarik karena cocok untuk remaja muslimah yang ingin berkembang tanpa harus melepas hijab,” ujarnya.
Meski memiliki ketertarikan besar, Syafira tetap sempat merasa minder untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional tersebut. Ia mengaku awalnya takut tidak mampu bersaing dengan peserta lain yang memiliki banyak pengalaman dan prestasi.
Namun, perempuan yang juga masih aktif menjalani kegiatan ma’had itu memilih untuk tetap mencoba. Baginya, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
“Saya mencoba fokus memberikan versi terbaik dari diri saya sendiri. Saya percaya setiap orang punya kelebihan masing-masing, jadi saya memilih mencoba daripada menyesal karena tidak berani memulai,” katanya.
Perjalanan kompetisi yang dijalani Syafira juga tidak mudah. Ia harus melewati berbagai tahapan seleksi mulai dari pengumpulan berkas, interview, challenge media sosial, hingga masa karantina. Dari proses tersebut, ia merasa mendapatkan banyak pengalaman baru, terutama dalam hal komunikasi dan cara membawa diri di lingkungan baru.
Selama masa karantina, tantangan terbesar yang dirasakan Syafira adalah menjaga kondisi fisik dan mental tetap stabil di tengah jadwal kegiatan yang padat. Terlebih, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti ajang pageant.
Ia bahkan harus belajar catwalk dan membiasakan diri berjalan menggunakan heels tinggi. Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya yang sebelumnya belum pernah terjun di dunia pageant.
“Yang paling menantang adalah bagaimana saya harus terus meyakinkan diri sendiri untuk belajar. Saya benar-benar mulai dari nol, termasuk belajar catwalk dan memakai heels tinggi,” ungkapnya
Di balik padatnya kegiatan karantina, Syafira justru menemukan banyak pengalaman berharga. Ia merasa senang bisa bertemu dan mengenal banyak perempuan hebat dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda.
“Walaupun kami datang dari daerah yang berbeda, suasananya tetap hangat dan saling mendukung. Saya belajar banyak tentang bagaimana bersikap, berbicara, membangun personal branding, tetapi tetap tidak kehilangan identitas sebagai remaja muslimah,” jelasnya.
Selain menjalani kompetisi, Syafira juga harus tetap membagi waktu antara kuliah, kegiatan ma’had, organisasi, hingga latihan muwadaah. Baginya, pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang manajemen waktu dan menghargai setiap kesempatan yang dimiliki.
“Saya belajar bahwa setiap waktu kosong bisa dimanfaatkan untuk berkembang. Dari sini saya juga belajar untuk lebih disiplin dan menghargai proses,” tutupnya.