Skip to Content

Dari Ragu Menjadi Winner, Arinda Eka Apriana Menemukan Arti Sesungguhnya Menjadi Duta FITK UIN Malang 2026

August 11, 2026 by
Dari Ragu Menjadi Winner, Arinda Eka Apriana Menemukan Arti Sesungguhnya Menjadi Duta FITK UIN Malang 2026
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Tidak semua langkah besar dimulai dengan keyakinan penuh. Bagi Arinda Eka Apriana, keputusan mendaftarkan diri dalam pemilihan Duta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Malang justru lahir dari keraguan dan keinginan untuk keluar dari zona nyaman.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam angkatan 2025 itu mengaku tidak mengikuti ajang tersebut semata-mata untuk mengejar gelar. Ia ingin menantang dirinya sendiri, mengukur sejauh mana kemampuannya dapat berkembang, sekaligus menemukan ruang untuk mengaspirasi, menginspirasi, dan memberikan dampak bagi fakultas.

“Sebenarnya bukan karena saya merasa sudah sangat siap. Saya sadar kalau terus menunggu sampai merasa siap, mungkin saya tidak akan pernah mencoba,” ungkap Arinda.

Langkah kecil untuk mendaftar ternyata membawanya melewati serangkaian proses yang tidak mudah. Bagi Arinda, persiapan terbesar bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan kesiapan mental. Ia belajar mempercayai kemampuan diri, mempersiapkan diri terhadap kemungkinan menang maupun gagal, serta menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.

Semakin jauh proses seleksi berlangsung, tantangan justru semakin banyak datang dari dalam dirinya sendiri. Rasa percaya diri menjadi salah satu hal yang harus ia taklukkan. Melihat peserta lain dengan kemampuan masing-masing sempat membuatnya merasa bahwa semua orang layak melangkah lebih jauh.

Titik terberat bahkan sempat hadir pada tahap ketiga. Arinda sudah hampir memesan tiket untuk kembali ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, karena sejak awal mengikuti ajang tersebut ia harus menahan rasa rindu terhadap rumah. Ia merasa kemungkinan untuk melanjutkan seleksi semakin kecil.

“Kayaknya saya nggak bakal lolos,” pikirnya kala itu.

Namun, perjalanan belum berakhir. Allah masih memberikan kesempatan bagi Arinda untuk melanjutkan langkah. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa terkadang seseorang sudah meragukan dirinya sendiri sebelum mengetahui hasil akhirnya.

Sometimes we underestimate ourselves before we even know the result.

Di tengah rangkaian seleksi dan pembinaan, Arinda juga harus membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, kebutuhan pribadi, dan berbagai agenda pemilihan duta. Time management menjadi tantangan tersendiri. Namun, dari kesibukan tersebut ia menemukan satu pelajaran penting: mengatur waktu saja tidak cukup. Seseorang juga perlu mengatur emosi dan energi agar tetap mampu memberikan yang terbaik.

Dukungan dari keluarga, teman dekat, teman satu program studi, hingga teman-teman organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Dukungan sederhana berupa semangat atau menemani di tengah padatnya proses menjadi penguat ketika rasa ragu kembali muncul.

Bagi Arinda, tidak ada satu momen yang dapat disebut sebagai pengalaman paling berkesan. Setiap tahapan memiliki pelajarannya masing-masing. Dari proses tersebut ia belajar tentang emotional management, time management, confidence, hingga bagaimana menghadapi ketidakpastian.

Hingga akhirnya, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu momen yang tidak pernah benar-benar ia bayangkan: namanya diumumkan sebagai winner Duta FITK.

Saat mendengar namanya dipanggil, perasaan Arinda bercampur antara terkejut, haru, dan syukur. Ia bahkan tidak pernah benar-benar memastikan bahwa dirinya akan menjadi pemenang.

Namun, kemenangan itu justru membuatnya menyadari bahwa gelar bukanlah akhir dari perjalanan.

“When I heard my name called as the winner, it felt so heavy—the responsibility,” tuturnya.

Baginya, setelah selempang dan gelar diberikan, ada amanah yang jauh lebih besar untuk dijalankan. Menjadi Duta FITK bukan sekadar tentang mahkota atau gelar, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu menjadi representasi fakultas, mendengar aspirasi mahasiswa, serta menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk memberikan manfaat.

Arinda ingin menjadikan posisinya sebagai ruang untuk memberikan dampak. Salah satunya melalui gagasan DigiCam (Digital Campaign) yang diharapkan menjadi wadah untuk turut mempromosikan berbagai potensi dan hal positif yang ada di FITK.

Prinsip yang terus ia pegang sepanjang perjalanan adalah, “Do the best and let Allah do the rest.” Baginya, manusia bertugas berusaha, mempersiapkan diri, berdoa, dan memberikan kemampuan terbaik. Sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Kini, Arinda tidak lagi melihat pemilihan Duta FITK hanya sebagai sebuah kompetisi. Ia melihatnya sebagai perjalanan untuk mengenal dirinya sendiri.

“You are not what you see yourself, but you are not what other people see you.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang tidak seharusnya terlalu merendahkan dirinya sendiri, tetapi juga tidak boleh hidup hanya berdasarkan penilaian orang lain. Yang terpenting adalah terus mengenal diri, percaya pada proses, dan bertumbuh.

Kepada mahasiswa yang masih takut mencoba sesuatu yang baru, Arinda berpesan agar tidak menunggu sampai merasa benar-benar siap.

“Confidence doesn’t come before we start, it grows because we start.”

Sebab keberanian bukan tentang mengetahui bahwa seseorang pasti berhasil. Keberanian adalah kesediaan untuk tetap melangkah meski belum mengetahui bagaimana akhir perjalanan.

Ia menutup pesannya dengan sebuah perumpamaan Arab yang menggambarkan bagaimana manusia menghadapi kehidupan:

الحَيَاةُ كَالْبَحْرِ، فَإِمَّا أَنْ تَرْكَبَ أَمْوَاجَهَا، أَوْ تَغْرَقَ فِيهَا

Kehidupan itu seperti lautan; entah kita menaiki ombaknya, atau kita tenggelam di dalamnya.

Kita memang tidak selalu dapat memilih seberapa besar ombak yang datang. Tetapi, seperti yang dipelajari Arinda dalam perjalanannya, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana menghadapinya.

Dari seorang mahasiswa yang sempat ragu dan hampir membeli tiket pulang, Arinda akhirnya berdiri sebagai winner Duta FITK. Bukan karena ia tidak pernah takut, melainkan karena ia memilih untuk tetap melangkah meski rasa takut itu ada.


Editor: Humas
Reporter: Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
Fotografer: Istimewa
Dari Ragu Menjadi Winner, Arinda Eka Apriana Menemukan Arti Sesungguhnya Menjadi Duta FITK UIN Malang 2026
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah August 11, 2026
Share this post
Tags
Archive