MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Bagi sebagian orang, mengikuti ajang duta kampus identik dengan kepercayaan diri tinggi dan kemampuan tampil yang matang. Namun, hal itu justru berbeda dengan Izzuddin. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester 4 itu mengaku awalnya hanya memiliki satu niat sederhana yaitu ingin mengabdi dan mencoba berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Ajang Grand Final Pemilihan Duta Kampus sendiri berlangsung pada 26 Mei 2026 di Gedung Rektorat lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Baginya, keyakinan terbesar untuk melangkah bukan berasal dari kemampuan diri semata, melainkan doa kedua orang tua. Ia percaya, jika sebuah tempat mampu membawanya menjadi pribadi yang lebih baik, maka jalan itu layak diperjuangkan.
Meski terlihat tenang saat menjalani proses seleksi, Izzuddin ternyata harus berjuang melawan dirinya sendiri. Ia mengaku bukan tipe orang yang nyaman berada di lingkungan formal. Bahkan, menyesuaikan diri dengan suasana resmi menjadi tantangan terbesar selama mengikuti ajang tersebut.
“Tantangan terbesarnya diri sendiri, karena saya orangnya kalau di lingkungan formal itu susah banget, nggak suka. Jadi harus membiasakan diri di lingkup formal,” ungkapnya.
Rasa minder juga sempat menghampirinya saat tahap seleksi pertama dilakukan melalui zoom dengan kamera wajib menyala. Melihat peserta lain yang menurutnya tampil keren dan percaya diri membuatnya sempat merasa kecil.
Namun, perjalanan itu perlahan mengubah cara pandangnya. Dukungan dari sesama peserta menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri selama proses berlangsung. Di tengah ketatnya seleksi dan banyaknya peserta yang harus tereliminasi, mereka justru saling menguatkan satu sama lain.
“Teman-teman semua saling mendukung. Setiap seleksi pasti ada yang tereliminasi dan itu sedih banget, karena harus ada yang dikorbanin,” tuturnya.
Di balik suasana kompetitif, ada pula momen lucu sekaligus menegangkan yang tak bisa ia lupakan, terutama saat menampilkan bakat di hadapan juri. Ia memadukan tari dengan kitab, sesuatu yang menurutnya cukup tidak biasa.
Bagi Izzuddin, gelar duta bukan hanya soal pencapaian pribadi atau simbol prestise semata. Ia ingin membawa dampak yang lebih luas, terutama dalam mengubah cara pandang masyarakat luar terhadap kampusnya.
Meski berhasil sampai di titik sekarang, Izzuddin masih merasa semua yang ia raih adalah bagian dari takdir yang telah digariskan Tuhan.
Perjalanan itu juga membawa perubahan besar dalam hidupnya, terutama dari segi penampilan dan lingkungan pergaulan. Ia merasa mulai belajar memilih lingkungan yang lebih sehat dan positif.
“Perubahan terbesar pasti penampilan. Lingkungan yang toxic memang nggak langsung berubah seratus persen, tapi setidaknya berkurang,” katanya.
Di tengah berbagai proses yang ia jalani, ada satu nilai yang terus ia pegang erat adalah ketekunan. Menurutnya, kesungguhan akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju keberhasilan.
“Siapa yang tekun pasti akan tekan. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan kesampaian,” ujarnya.
Ketika ditanya tentang kontribusi ke depan, Izzuddin memilih untuk tidak banyak menjanjikan hal besar. Ia hanya ingin berusaha semampunya tanpa memberikan harapan berlebihan.
“Saya nggak bisa menjanjikan banyak hal, tapi saya akan berusaha. Takut menjanjikan tapi nggak sesuai ekspektasi,” katanya.
Di akhir ceritanya, Izzuddin menitipkan pesan sederhana untuk anak muda yang masih takut mencoba hal baru.
“Jangan takut mencoba hal baru, karena masa muda nggak terulang lagi. Selagi masih muda dan masih ada kesempatan, cobalah. Siapa tahu itu memang jalan dan takdirmu,” pesannya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanannya, mulai dari orang tua, para finalis duta, hingga orang-orang di sekitarnya yang menurutnya punya peran besar dalam proses dirinya bertumbuh.