Skip to Content

Dari Rumah Menuju Mabna: Kisah Kedatangan Mahasantri Baru Ibn Sina Msaa UIN Malang

Dari Rumah Menuju Mabna: Kisah Kedatangan Mahasantri Baru Ibn Sina Msaa UIN Malang
August 17, 2026 by
Dari Rumah Menuju Mabna: Kisah Kedatangan Mahasantri Baru Ibn Sina Msaa UIN Malang
Amelia Dea Divanda

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Pagi di Mabna Ibn Sina, Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terasa berbeda. Wajah-wajah baru berdatangan bersama orang tua dan keluarga, membawa koper, perlengkapan, serta harapan yang menyertai langkah pertama mereka menjadi mahasantri. Di balik kesibukan validasi, tersimpan cerita tentang keberanian untuk meninggalkan rumah dan memulai perjalanan baru di lingkungan Ma’had.

Rangkaian validasi Mahasantri Baru Mabna Ibn Sina Tahun Akademik 2026–2027 berlangsung selama lima hari dengan tertib dan kondusif. Setiap harinya, para mahasantri datang sesuai jadwal untuk mengikuti proses pendataan dan pelayanan kedatangan. Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB hingga 16.00 WIB, dengan jeda istirahat, salat, dan makan (ISHOMA) pada pukul 12.00–13.00 WIB.

Namun, validasi bukan sekadar proses administratif. Bagi para orang tua, hari tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan anak. Setelah bertahun-tahun melihat putra-putrinya tumbuh di rumah, kini mereka harus mulai belajar melepaskan dan memberikan ruang bagi anak untuk hidup mandiri.

Ada orang tua yang sibuk membawa barang bawaan, ada yang memberikan nasihat sebelum berpisah, dan ada pula yang menyimpan haru ketika melihat anaknya memasuki lingkungan baru. Pelukan, senyum, dan doa menjadi bagian dari suasana yang mengiringi kedatangan para mahasantri.

Di balik setiap keberangkatan, terselip harapan yang sederhana tetapi mendalam. Salah satu wali mahasantri berharap putranya dapat menjalani kehidupan di Mabna Ibn Sina dengan bahagia dan penuh semangat dalam menuntut ilmu.

 “Harapannya, semoga putra saya selama belajar di Mabna Ibn Sina selalu tetap bahagia dan semangat dalam menuntut ilmu. Semoga mendapatkan ilmu yang terbaik selama berada di Mabna Ibn Sina.”

Harapan tersebut menggambarkan bahwa orang tua tidak hanya menginginkan anaknya berhasil secara akademik. Lebih dari itu, mereka ingin perjalanan di ma’had menjadi pengalaman yang memberikan kebahagiaan, kedewasaan, dan ilmu yang bermanfaat.

Harapan lain disampaikan oleh wali mahasantri yang menginginkan putra-putrinya segera merasa nyaman di lingkungan baru. “Semoga bisa betah di Ma’had.” harapnya.

Kalimat singkat tersebut menyimpan doa besar. Sebab, menjadi mahasantri berarti siap menghadapi berbagai pengalaman baru: tinggal jauh dari keluarga, bertemu teman dari berbagai daerah, mengenal musyrif, mengikuti kegiatan, menaati aturan, serta menjalani rutinitas yang berbeda dari kehidupan di rumah.

Perlahan, Mabna Ibn Sina diharapkan bukan lagi menjadi tempat yang asing. Kamar yang awalnya baru akan menjadi ruang berbagi cerita. Teman-teman yang awalnya tidak dikenal akan menjadi bagian dari perjalanan. Sementara berbagai kegiatan ma’had akan menjadi pengalaman yang suatu hari dikenang sebagai bagian penting dari masa perkuliahan.

Tahun ini, Mabna Ibn Sina juga menjadi ruang perjumpaan bagi mahasantri dari berbagai latar belakang. Di antara mahasantri baru terdapat satu mahasantri non-Islam dan satu mahasantri asing dari Sudan.

Kehadiran mereka menjadi warna tersendiri dalam kehidupan Mabna Ibn Sina. Perbedaan latar belakang menjadi kesempatan untuk belajar memahami, menghargai, dan membangun kebersamaan dalam satu lingkungan pendidikan.

Bagi para mahasantri baru, keberagaman tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang akan memperkaya perjalanan mereka selama berada di ma’had.Membawa Doa dari Rumah

Ketika proses validasi selesai, para mahasantri mulai menata kehidupan baru. Barang-barang yang sebelumnya berada di rumah kini ditempatkan di kamar baru. Mereka mulai mengenal lingkungan, teman, dan keluarga besar Mabna Ibn Sina.

Bagi orang tua, mungkin hari itu terasa seperti sebuah perpisahan kecil. Ada nasihat yang disampaikan berulang kali, ada senyum yang diberikan agar anak tetap tenang, dan ada doa yang mungkin hanya disampaikan dalam hati.

Namun, meninggalkan rumah bukan berarti meninggalkan kasih sayang orang tua. Justru setiap mahasantri membawa bekal yang tidak terlihat tetapi sangat berharga: doa, restu, dan harapan keluarga.

Lima hari validasi akhirnya menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang bagi para Avicenna Muda 2026–2027. Dari rumah menuju mabna, dari pelukan orang tua menuju lingkungan baru, mereka mulai belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Mungkin hari pertama masih muncul pertanyaan, “Apakah nanti bisa betah?”Namun, waktu akan menjawabnya. Tempat yang hari ini terasa asing bisa jadi kelak menjadi tempat lahirnya persahabatan, prestasi, pengalaman, dan kenangan yang tidak terlupakan. Sebab, setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil dan bagi Avicenna Muda 2026–2027, langkah itu telah dimulai: dari rumah, menuju Mabna Ibn Sina.



Editor:
Reporter: Amelia Dea Divanda
Fotografer: Amelia Dea Divanda
Dari Rumah Menuju Mabna: Kisah Kedatangan Mahasantri Baru Ibn Sina Msaa UIN Malang
Amelia Dea Divanda August 17, 2026
Share this post
Tags
Archive