MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Menjadi jurnal pertama di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terindeks Scopus dan mendapat level Q1, kini Journal of Islamic Architecture (JIA) menorehkan prestasi baru. Menurut Top-Tier Academic Architecture Journals, JIA masuk dalam daftar tersebut, berjajar dengan jurnal-jurnal ilmiah lain dari penerbit ternama, seperti Elsevier, Taylor & Francis, dan Emerald. Ini membuktikan bahwa JIA dianggap memiliki reputasi tinggi dan dampak signifikan dalam bidangnya. Kabar ini dibagikan oleh Ernaning Setiyowati, Co-Editor in Chief JIA.
Erna juga menambahkan pembaruan skor SJR (Scimago Journal Rank) yang keluar pada Rabu, 15 April 2026 malam hari. Menurut pembaruan tersebut, JIA masih mempertahankan posisinya pada level Q1 dengan skor 0,274 serta H-index 8. SJR adalah indikator untuk mengukur pengaruh dan prestise jurnal ilmiah yang terindeks di Scopus. Skor tersebut menunjukkan tak hanya jumlah peneliti dunia yang mensitasi artikel terbitan JIA, namun juga seberapa bernilai sitasi tersebut.
Masuknya JIA dalam daftar Top-Tier Academic Architecture Journals serta peringkat gemilangnya di SJR menunjukkan bahwa ia dianggap menjadi rujukan peneliti dunia yang fokus di Bidang Arsitektur, terutama Arsitektur Islam. Tak hanya itu, JIA juga dinilai memiliki standar yang tinggi dan ketat dalam menyeleksi naskah yang masuk. Menurut statistik jurnal yang terpampang di laman resmi JIA, pada 2025, total naskah yang masuk ialah 261. Sedangkan, hanya 42 naskah yang dinyatakan layak terbit. Artinya, persentase penolakan naskah di JIA cukup tinggi, yakni 69%.
Kehadiran JIA di antara jurnal-jurnal raksasa dunia menunjukkan bahwa kualitas publikasi ilmiah Bidang Arsitektur dari Indonesia telah mampu bersaing di tingkat global. Erna sangat mengapresiasi tim JIA atas prestasi ini. Ia bangga karena kerja keras tim berbuah baik. Tak hanya itu, ia juga berterima kasih kepada pimpinan di tingkat prodi, fakultas, hingga universitas karena selalu mendukung perkembangan JIA. “Tim kami akan terus meningkatkan kualitas supaya bisa naik lagi di peringkat dunia,” tutur dosen Prodi Teknik Arsitektur itu dengan optimis.