Skip to Content

Mahasiswa IAT UIN Malang Ahmad Agus Luqmanul Hakim Raih Wisudawan Terbaik 1 Tahfidz 30 Juz dalam Wisuda Tahfidz ke 18 HTQ UIN Malang

September 4, 2026 by
Mahasiswa IAT UIN Malang Ahmad Agus Luqmanul Hakim Raih Wisudawan Terbaik 1 Tahfidz 30 Juz dalam Wisuda Tahfidz ke 18 HTQ UIN Malang
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Ahmad Agus Luqmanul Hakim Ismail, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Maulana Malik Ibrahim Malang semester 5, berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik 1 Tahfidz 30 Juz dalam acara Wisuda Tahfidz Al Qur'an ke 18 Haiah Tahfiz Al Qur'an UIN Malang. Pencapaian tersebut semakin istimewa setelah ia menyelesaikan tasmi’ 30 juz dalam sekali duduk selama kurang lebih sepuluh jam. Kamis, 3 September 2026.

Kecintaan Ahmad Agus terhadap Al-Qur’an telah tumbuh sejak bangku Madrasah Ibtidaiyah. Ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz ketika duduk di kelas 6 MI semester genap. Hingga kini, hafalan tersebut terus dijaga melalui murojaahnya sekitar lima juz setiap hari.

Tasmi’ 30 juz sekali duduk yang dijalaninya pada momentum wisuda tahfidz kali ini menjadi pengalaman pertamanya. Sebelumnya, ia belum pernah melakukan tasmi’ 30 juz dalam sekali duduk. Keikutsertaannya pun berawal dari rasa penasaran untuk merasakan secara langsung bagaimana proses menyelesaikan 30 juz tanpa jeda panjang.

Pelaksanaan tasmi’ yang semula dijadwalkan pukul 09.00 WIB mengalami keterlambatan dan baru dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Dan berhasil khatam sekitar pukul 19.30 WIB. 

Selama proses tersebut, tantangan mulai terasa ketika memasuki juz 20 ke atas. Rasa kantuk menjadi salah satu hal yang harus ia lawan setelah berjam-jam membaca Al-Qur’an. Untuk mengatasinya, ia mengambil wudhu agar kembali segar dan dapat melanjutkan bacaan.

Menariknya, Ahmad tidak melakukan persiapan khusus menjelang tasmi’. Ia hanya menjalankan murojaah sebagaimana rutinitas sehari-hari. Baginya, kesiapan untuk tasmi’ tidak dibangun dalam waktu singkat, tetapi melalui kebiasaan menjaga hafalan secara konsisten.

Kebiasaan tersebut juga menjadi kuncinya dalam mempertahankan hafalan di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, santri, sekaligus aktivis organisasi. Saat ini, ia juga dipercaya sebagai ketua organisasi ekstra kampus IPNU FK KH Wahid Hasyim.

Dalam menjalani berbagai aktivitas tersebut, Ahmad Agus berpegang pada pesan gurunya agar menjadikan mondok sebagai bagian utama dari proses pendidikan. Dengan menempatkan lingkungan pondok sebagai tempat menjaga kedisiplinan, ia berusaha membuat kuliah, organisasi, dan hafalan berjalan beriringan.

Murojaah pun tidak selalu ia tempatkan pada waktu khusus. Justru, ia berusaha menyelipkannya di antara aktivitas kuliah, pondok, dan organisasi. Menurutnya, murojaah harus dipandang sebagai kebutuhan dan kewajiban, bukan kegiatan yang dilakukan hanya ketika memiliki waktu luang.

Predikat Wisudawan Terbaik 1 Tahfidz 30 Juz yang kemudian diraihnya menjadi kejutan tersendiri. Ahmad mengaku tidak menyangka namanya akan disebut sebagai penerima penghargaan tersebut. Ia justru merasa masih banyak wisudawan dan wisudawati lain yang memiliki kemampuan hafalan lebih baik darinya.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari bahwa menjaga hafalan Al-Qur’an membutuhkan keberlanjutan, bukan sekadar menyelesaikan hafalan. Salah satu tantangan terbesar justru muncul dari kebiasaan sehari-hari, seperti rasa lelah, tuntutan untuk terus fokus, hingga godaan menggunakan telepon genggam saat seharusnya murojaah.

Karena itu, Ahmad Agus menyarankan agar murojaah tidak selalu dianggap sebagai aktivitas yang membutuhkan waktu khusus. Murojaah dapat dipadukan dengan aktivitas sehari-hari sehingga perlahan menjadi kebiasaan.

“Coba gabungin kegiatan-kegiatan dengan murojaah. Mungkin di awal agak sedikit struggle, tapi dengan mendawamkan trik ini, insyaallah alasan tidak ada waktu murojaah itu akan hilang,” pesannya.

Baginya, menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah kesibukan bukan tentang menemukan waktu yang kosong, melainkan tentang menjadikan murojaah sebagai bagian dari kehidupan. Dari pengalaman pertama menyelesaikan tasmi’ 30 juz sekali duduk hingga meraih predikat terbaik 1, ia menunjukkan bahwa hafalan dapat terus dijaga bersamaan dengan menjalani tanggung jawab sebagai mahasiswa dan aktivis.


Editor: Ajay
Reporter: Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
Fotografer: Istimewa
Mahasiswa IAT UIN Malang Ahmad Agus Luqmanul Hakim Raih Wisudawan Terbaik 1 Tahfidz 30 Juz dalam Wisuda Tahfidz ke 18 HTQ UIN Malang
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah September 4, 2026
Share this post
Tags
Archive