Skip to Content

Mahasiswa IAT UIN Malang, Milhatussakhoya Jalani Pengabdian Dai 3T di Magelang Jawa Tengah

October 2, 2026 by
Mahasiswa IAT UIN Malang, Milhatussakhoya Jalani Pengabdian Dai 3T di Magelang Jawa Tengah
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Keinginan untuk merasakan kehidupan masyarakat dengan latar budaya yang berbeda membawa Milhatussakhoya, mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengikuti program Dai Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) pada Ramadhan 1447 Hijriah.

Selama satu bulan Ramadhan hingga 2 Syawal 1447 Hijriah, Milhatussakhoya menjalani pengabdian di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di tengah suasana pedesaan di bawah lereng Gunung Merapi, ia menjalankan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial bersama masyarakat.

Keikutsertaannya dalam program tersebut berawal dari impian sejak kecil. Ia ingin merasakan secara langsung kehidupan masyarakat di daerah yang memiliki karakter budaya berbeda dan bertemu dengan beragam latar belakang masyarakat.

“Berawal dari impian masa kecil dulu, ingin belajar di daerah pedalaman, bertemu dengan berbagai suku, ras, dan budaya. Walaupun masih lingkup Jawa Tengah, tempat asal saya sendiri, namun budayanya berbeda,” ungkapnya.

Kesempatan tersebut semakin terbuka setelah sebelumnya ia memperoleh pengalaman dan ilmu baru di Jakarta. Ia kemudian ingin mengembangkan ilmu yang didapat dengan terjun langsung ke tengah masyarakat.

Sebelum berangkat, proses penugasan dilakukan melalui rekomendasi Kementerian Agama kabupaten atau kota yang kemudian diusulkan kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. Selain persiapan administratif, Milhatussakhoya juga mempersiapkan kondisi fisik dan mental serta berbagai bahan materi yang akan digunakan selama pengabdian.
Setibanya di Desa Ketep, ia menemukan suasana yang cukup berbeda dari lingkungan tempat tinggalnya. Udara dingin khas wilayah di bawah lereng Merapi menjadi salah satu hal yang langsung dirasakan. Namun, yang paling berkesan baginya adalah sambutan masyarakat.

Ia mengaku sempat merasa terkejut ketika pertama kali tiba. Masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menyambutnya dengan ramah dan lemah lembut. Bahkan, ia merasa diterima bukan sekadar sebagai pendatang yang menjalankan tugas pengabdian, tetapi seperti bagian dari keluarga desa.


Selama pengabdian, aktivitas Milhatussakhoya berlangsung sejak selepas Subuh hingga malam hari. Polanya menyerupai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tetapi dilakukan secara individu dengan ruang yang lebih luas bagi dai untuk menjadi partisipan maupun pengisi kajian dalam kegiatan masyarakat.

Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial dijalani, mulai dari tadarus simakan dari rumah ke rumah, mengajar TPA di Dusun Ketep, mengajar tahfidz di MI Nurul Huda Seketi, hingga mengikuti tarawih keliling bersama masyarakat.

Ia juga terlibat dalam kegiatan sosial seperti distribusi sayur di Pasar Suko serta berbagai kegiatan kemasyarakatan. Selain itu, ia mengisi sejumlah kajian menjelang berbuka puasa, mengikuti khotmil Qur’an, seminar inspiratif “Safari Ramadhan” di madrasah ibtidaiyah, hingga halal bi halal pada malam takbiran dan salat Idulfitri bersama warga.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan beragam kebiasaan masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan tadarus dan buka bersama, selapanan, serta kehidupan masyarakat yang berdampingan dengan dua ragam organisasi Islam dalam satu desa.

Di tengah banyaknya kegiatan, tantangan terbesar yang dirasakan Milhatussakhoya bukan hanya soal menjalankan agenda pengabdian, tetapi bagaimana menyampaikan ilmu agar benar-benar dapat dipahami masyarakat.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakter dan cara memahami informasi yang berbeda. Karena itu, ia harus belajar menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan perlahan.

“Tantangan terbesar adalah bagaimana saya mampu menjelaskan atau memberikan pemahaman kepada warga dengan jelas dan mudah dipahami. Setiap desa atau daerah mempunyai cara pemahaman tersendiri, seperti harus benar-benar jelas, pelan, dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana,” jelasnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi justru ketika ia belum lama berada di lokasi pengabdian. Suatu hari, setelah sahur, ia sempat tertidur hingga kemudian mengikuti salat berjamaah bersama warga. Tanpa diduga, ia tiba-tiba diminta untuk menyampaikan ceramah.

Situasi tersebut membuatnya tegang dan gugup. Namun, ia memilih untuk tidak langsung menolak. Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki, ia mencoba menyampaikan apa yang dapat dibagikan kepada jamaah.

Pengalaman spontan tersebut menjadi bagian dari proses Milhatussakhoya dalam belajar berdakwah secara langsung. Baginya, pengabdian bukan hanya tentang memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga tentang belajar membaca kondisi, memahami karakter masyarakat, serta berani menyampaikan ilmu dengan cara yang dapat diterima.

Satu bulan lebih berada di Desa Ketep membuat pengalaman masa kecil yang sebelumnya hanya menjadi impian berubah menjadi pengalaman nyata. Ia tidak hanya datang untuk menjalankan tugas sebagai dai, tetapi juga belajar dari masyarakat dan kehidupan desa yang sebelumnya belum banyak ia kenal.

Melalui program tersebut, Milhatussakhoya menemukan bahwa dakwah tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang rumit. Terkadang, dakwah justru membutuhkan kemampuan untuk hadir, mendengar, memahami, lalu menyampaikan kebaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.


Editor: Humas
Reporter: Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
Fotografer: Istimewa
Mahasiswa IAT UIN Malang, Milhatussakhoya Jalani Pengabdian Dai 3T di Magelang Jawa Tengah
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah October 2, 2026
Share this post
Tags
Archive