MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Hampir gagal melaju ke babak final tidak membuat Husna Najwa Al Maula, mahasiswa Program Studi Psikologi semester 7, berhenti berharap. Berangkat dari posisi kelima pada babak penyisihan, ia justru mampu bangkit dan mengakhiri pertandingan sebagai juara pertama MHQ 30 Juz pada ajang PORSI Jawara II 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Cabang MHQ 30 Juz tersebut diikuti oleh 28 peserta. Husna mendapat nomor urut tampil 26, sehingga harus menunggu cukup lama sejak kedatangannya pada pagi hari hingga akhirnya memperoleh giliran tampil pada sore hari.
Penantian panjang itu sempat membuat konsentrasinya sedikit berkurang. Ketika babak penyisihan berlangsung, Husna merasa penampilannya belum sesuai harapan. Dari empat soal yang diberikan, ia sempat mengalami jali, yakni kondisi ketika peserta tidak dapat melanjutkan jawaban sehingga juri memberikan jawaban yang benar.
Kondisi tersebut membuat Husna mulai pesimis. Ia bahkan sempat bertanya-tanya apakah dirinya masih memiliki peluang untuk lolos ke babak final. Meski demikian, masih tersisa keyakinan bahwa ia dapat bersaing, terutama dari segi kualitas bacaan.
“Dari empat soal yang ditanyakan, semuanya sempat mengalami jali. Setelah itu saya mulai berpikir, ‘Ini bisa masuk final atau nggak ya?’ Karena rasanya kecil kemungkinan bisa lolos,” ungkap Husna.
Di tengah keraguan tersebut, Husna tetap menyimpan sedikit optimisme. Hingga akhirnya, pengumuman babak penyisihan membawanya ke posisi kelima sekaligus memastikan langkahnya menuju final.
Kabar tersebut kembali membangkitkan semangatnya. Menjelang final, Husna memperbanyak istighfar, shalawat, serta bertawassul kepada para guru Al-Qur’an yang telah membimbingnya. Ia berusaha mengembalikan ketenangan dan tidak lagi terlalu memikirkan hasil yang akan diperoleh.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Penampilan Husna di babak final berlangsung jauh lebih lancar. Ia hanya mendapatkan satu bel dari dewan juri. Dari posisi kelima pada babak penyisihan, Husna perlahan menyalip peserta lainnya hingga berhasil menduduki posisi pertama dan membawa pulang medali emas untuk UIN Malang.
Capaian tersebut sekaligus menjadi kejutan bagi Husna sendiri. Ia mengaku sama sekali tidak menyangka dapat meraih emas, terlebih setelah merasa penampilannya pada babak penyisihan kurang maksimal.
“Alhamdulillah, tentunya senang banget bisa menyumbangkan emas untuk kampus. Bahkan sebenarnya saya benar-benar nggak menyangka bisa mendapatkan emas,” tuturnya.
Sebelum perlombaan, Husna melakukan persiapan khusus selama kurang lebih dua minggu dengan memperbanyak latihan soal MHQ yang mencakup hafalan 30 juz. Namun, menjaga hafalan bukanlah sesuatu yang baru baginya.
Dalam kesehariannya, Husna berusaha melakukan murajaah minimal tiga juz setiap hari. Baginya, konsistensi menjadi kunci utama dalam menjaga hafalan. Menurutnya, murajaah tidak harus selalu dilakukan dalam jumlah besar, tetapi hafalan perlu terus “disentuh” setiap hari agar tetap terjaga.
Ketika mulai mendekati perlombaan, ia juga menambahkan latihan soal-soal MHQ. Dengan demikian, persiapannya tidak hanya berupa murajaah, tetapi juga membiasakan diri menghadapi pola pertanyaan yang mungkin muncul saat kompetisi.
Bagi Husna, rasa gugup sendiri sudah muncul sejak sekitar dua hari sebelum perlombaan. Namun, ketika hari pertandingan tiba, perasaan tersebut justru perlahan menghilang. Ia memilih melakukan apa yang sudah dipersiapkan dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanannya hingga meraih emas. Dari pengalaman tersebut, Husna belajar bahwa hasil perlombaan tidak selalu dapat diprediksi dari penampilan awal.
“Ketika kita sudah berusaha, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita gagal. Karena bisa jadi hasil akhirnya justru Allah balikkan dengan cara yang sama sekali nggak kita sangka,” ujarnya.
Kemenangan tersebut juga membuat Husna semakin menyadari bahwa perjuangan bersama Al-Qur’an tidak selalu harus menunggu seseorang merasa sempurna. Ia berpesan kepada mahasiswa agar mulai mensyiarkan Al-Qur’an dari kemampuan yang dimiliki sembari terus memperbaiki dan menjaga apa yang telah dipelajari.
Bagi mereka yang sedang menghafal Al-Qur’an, Husna mengakui bahwa prosesnya tidak selalu mudah. Ada masa ketika hafalan terasa lancar, tetapi ada pula fase ketika seseorang merasa kesulitan bahkan ingin menyerah. Namun, menurutnya, hal terpenting adalah selalu kembali kepada Al-Qur’an setiap kali merasa jauh.