KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) mulai mematangkan persiapan pengukuhan tujuh guru besar yang akan digelar pada 23 September 2026. Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Malang, Ita Hidayatus Sholihah, Selasa 1 September 2026.

Tujuh guru besar yang akan dikukuhkan yaitu Prof. Dr. H. Ahmad Fatah Yasin, M.Ag, Prof. Dr. Nurhadi, M.A, Prof. Dr. Zaenul Mahmudi, MA, Prof. Dr. H. M. Syamsul Hady, M.Ag, Prof. Dr. Bakhruddin Fannani, MA, Prof. Dr. Mamluatul Hasanah, S.Ag., M.Pd., dan Prof. Dr. H. Bisri Mustofa, MA.
Dalam koordinasi tersebut, Ita menegaskan bahwa pelaksanaan pengukuhan guru besar tahun ini akan memiliki konsep yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Efisiensi menjadi salah satu prinsip utama yang ditekankan dalam seluruh rangkaian persiapan.
“Kita ingin pelaksanaan pengukuhan tetap khidmat dan berkesan, tetapi dilaksanakan secara sederhana dan efisien,” tegas Ita dalam arahannya.
Salah satu bentuk efisiensi diterapkan pada jumlah undangan dari keluarga guru besar. Setiap guru besar yang dikukuhkan hanya diperkenankan membawa maksimal lima orang anggota keluarga.
Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari penyesuaian konsep pelaksanaan kegiatan agar lebih sederhana, tertib, serta mampu mengendalikan kebutuhan teknis dan operasional acara.
Ita juga meminta seluruh unsur yang terlibat dalam kepanitiaan untuk melakukan persiapan secara matang, termasuk pengaturan tempat duduk, mobilisasi peserta, kebutuhan informasi dan dokumentasi, hingga teknis pelaksanaan prosesi pengukuhan.
Menurutnya, keterbatasan waktu pelaksanaan juga perlu menjadi perhatian. Setiap rangkaian acara harus disusun secara efektif agar prosesi pengukuhan tetap berjalan khidmat tanpa mengurangi substansi akademik yang menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
“Hal-hal teknis harus dipersiapkan sejak awal. Kita ingin acara berjalan singkat, tertib, tetapi tetap memberikan ruang yang cukup bagi prosesi akademik dan penyampaian pidato pengukuhan,” jelasnya.
Pengukuhan tujuh guru besar tersebut menjadi salah satu agenda akademik penting bagi UIN Malang. Bertambahnya jumlah guru besar tidak hanya menjadi capaian personal para akademisi, tetapi juga memperkuat kapasitas akademik dan keilmuan universitas.
Dalam rapat koordinasi, masing-masing unsur terkait juga diminta menyampaikan masukan berdasarkan pengalaman pelaksanaan kegiatan sebelumnya. Masukan tersebut akan menjadi bahan untuk menyempurnakan konsep teknis pengukuhan tahun ini.
Persiapan juga mencakup koordinasi dengan berbagai unit yang terlibat, mulai dari akademik, protokol, kehumasan, teknologi informasi, keamanan, hingga unsur pendukung lainnya. Seluruh pihak diharapkan memahami tugas dan kewenangannya agar pelaksanaan kegiatan dapat berlangsung tanpa kendala berarti.
Pengukuhan tujuh guru besar ini sekaligus menjadi momentum penting bagi UIN Malang untuk menunjukkan bahwa kegiatan akademik berskala besar tetap dapat dikemas secara sederhana, efektif, dan bermartabat.
Dengan konsep tersebut, UIN Malang ingin memastikan bahwa esensi pengukuhan bukan terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada penghormatan terhadap capaian akademik para guru besar serta kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan universitas.