MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Persiapan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menuju Konferensi Internasional Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III 2027 tidak hanya berfokus pada kesiapan venue dan infrastruktur. Aspek keamanan, kesetaraan, perlindungan, serta aksesibilitas bagi seluruh peserta turut menjadi perhatian serius.
Kepala Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., menegaskan bahwa keterlibatan PSGAD menjadi bagian penting dalam memastikan prinsip inklusivitas diterapkan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan KUPI III.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian survei venue KUPI III di UIN Malang, Senin (7/9/2026).
Menurut Hj. Aprilia, KUPI bukan sekadar forum akademik dan keagamaan bertaraf internasional. Kehadiran konferensi tersebut juga menjadi kesempatan bagi UIN Malang untuk menunjukkan bahwa kampus Islam mampu menghadirkan ruang yang aman, ramah perempuan, ramah anak, sekaligus aksesibel bagi penyandang disabilitas.
“KUPI III akan menjadi momentum penting bagi UIN Malang untuk memperkuat komitmen sebagai kampus yang inklusif dan berkeadilan. Kami di PSGAD siap mengawal aspek pengarusutamaan gender, perlindungan anak, pencegahan kekerasan seksual, serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas agar seluruh peserta memperoleh pengalaman yang aman, setara, dan bermartabat,” tutur Hj. Aprilia Mega Rosdiana.
Hj. Aprilia menekankan, kampus yang inklusif tidak cukup hanya memiliki gedung yang besar dan fasilitas yang lengkap. Kesiapan fisik venue harus berjalan beriringan dengan kesiapan layanan, tata kelola, serta sensitivitas seluruh panitia dan unsur kampus.
Karena itu, berbagai detail yang sering kali dianggap sederhana justru menjadi perhatian dalam persiapan KUPI III. Mulai dari jalur mobilitas yang mudah diakses, fasilitas sanitasi yang memadai, ruang laktasi, hingga penanda informasi yang mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Layanan pendampingan juga menjadi bagian penting. Peserta dengan kebutuhan khusus harus memiliki akses terhadap bantuan ketika diperlukan. Mekanisme pengaduan yang responsif juga dipersiapkan untuk memastikan setiap persoalan selama kegiatan dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena KUPI III akan mempertemukan peserta dengan latar belakang yang beragam, termasuk perempuan, anak, penyandang disabilitas, akademisi, ulama, pegiat masyarakat sipil, serta peserta dari berbagai daerah dan negara.
Keberagaman tersebut membutuhkan ruang yang bukan hanya nyaman secara fisik, tetapi juga memberikan rasa aman secara psikologis dan sosial.
Bagi PSGAD, persiapan KUPI III merupakan kesempatan untuk memperkuat praktik baik pengarusutamaan gender dan inklusi di lingkungan kampus.
Setiap fasilitas dan layanan yang disiapkan diharapkan mampu mencerminkan nilai kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Prinsip tersebut sekaligus menjadi bagian dari semangat UIN Malang dalam membangun kampus yang ramah bagi seluruh warga kampus dan masyarakat.
Kehadiran KUPI III nantinya diharapkan tidak hanya meninggalkan jejak berupa konferensi dan berbagai forum diskusi. Lebih dari itu, perhelatan internasional tersebut dapat menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kampus Islam dapat menjadi ruang perjumpaan yang aman, terbuka, setara, dan menghargai keberagaman.
Sebab, sebuah konferensi internasional yang baik bukan hanya diukur dari megahnya panggung dan padatnya agenda. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah setiap orang yang datang merasa **aman, diterima, dihormati, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.**