KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Nada evaluasi kembali menguat dalam Rapat Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2026. Di hadapan para pimpinan fakultas dan unit, Rektor Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si tidak hanya memaparkan capaian, tetapi juga menunjuk arah baru: siapa harus memimpin lompatan berikutnya. Kamis, 16 April 2026.
Sorotan itu jatuh pada Fakultas Humaniora. Menurut Rektor, fakultas ini diproyeksikan menjadi flag carrier baru dalam pemeringkatan internasional berbasis riset, khususnya versi Scimago. Setelah Fakultas Syariah menunjukkan performa yang menjanjikan, kini Humaniora diminta mengambil peran lebih besar sebagai pijakan strategis universitas. “Humaniora harus siap menjadi penggerak berikutnya,” ujarnya tegas.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dalam paparan Rektor, posisi banyak fakultas lain masih tertinggal cukup jauh dalam indikator global, dengan capaian yang berada di kisaran ribuan peringkat dunia. Sementara itu, beberapa institusi lain, termasuk kampus keagamaan, justru mampu menembus posisi yang mengejutkan. Kondisi ini, menurutnya, harus dibaca sebagai tantangan sekaligus peluang.
Rektor kemudian mengurai perbedaan mendasar antar sistem pemeringkatan dunia. Jika pemeringkatan seperti QS lebih banyak bertumpu pada reputasi akademik dan persepsi global, maka Scimago berbicara lebih “keras”: data riset, publikasi, dan dampaknya.
Ada tiga indikator utama yang menjadi penentu. Pertama, riset dengan bobot 50 persen meliputi jumlah publikasi ilmiah dan sitasi di basis data Scopus. Kedua, inovasi sebesar 30 persen yang diukur dari paten dan kontribusi riset terhadap pengembangan teknologi. Ketiga, dampak sosial sebesar 20 persen, termasuk visibilitas web, kontribusi terhadap SDGs, dan isu kesetaraan gender.
Di titik ini, Rektor menegaskan bahwa persoalan utama UIN Malang masih berkutat pada publikasi ilmiah. “Kalau Scopus kita masih jauh, maka sulit bicara banyak,” katanya lugas.
Ia bahkan menyebut posisi universitas saat ini masih “tertatih-tatih” dalam mengejar capaian tersebut. Karena itu, peran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menjadi krusial sebagai pengawal utama peningkatan publikasi dan kualitas riset dosen.
Strategi pun mulai disiapkan. Rektor mendorong adanya penguatan ekosistem jurnal, kolaborasi riset, hingga pendampingan intensif bagi dosen agar mampu menembus jurnal bereputasi internasional. Targetnya jelas: semester berikutnya harus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.
Namun, pekerjaan rumah tidak berhenti di situ. Rektor juga menyoroti persoalan yang tampak sederhana tetapi berdampak besar: pengelolaan website. Modernisasi sistem sudah dilakukan dengan biaya yang tidak kecil, tetapi kontennya belum terisi optimal. Bahkan, masih ada program studi yang belum melengkapi profil di laman resmi. “Kalau profil saja belum masuk, bagaimana dunia mengenal kita?” sindirnya.
Data yang tidak lengkap, menurutnya, bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut visibilitas global. Tanpa itu, capaian akademik yang baik pun akan sulit terbaca oleh dunia luar.
Di tengah paparan yang penuh catatan tersebut, satu pesan mengemuka: pemeringkatan internasional bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja sistematis, disiplin data, dan konsistensi seluruh lini.
Rapat pimpinan ini pun menjadi semacam titik balik. Bukan sekadar evaluasi, tetapi juga penentuan arah bahwa untuk naik kelas di panggung global, setiap fakultas harus tahu perannya. Dan kali ini, tongkat estafet itu mulai diarahkan ke Fakultas Humaniora.