Oleh : Prof. Ilfi Nur Diana, M.Si (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Semangat kesetaraan yang diwariskan oleh R.A. Kartini bukan sekadar catatan sejarah dalam buku pelajaran, melainkan energi moral yang terus hidup dan relevan bagi setiap generasi termasuk Generasi Z hari ini. Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, cepat, dan kompleks, nilai-nilai Kartini menemukan bentuk baru dalam cara Gen-Z memandang pendidikan, identitas, keadilan sosial, dan relasi antarmanusia.
Kartini hidup dalam konteks sosial yang membatasi perempuan, khususnya dalam akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun, dari ruang keterbatasan itu, ia melahirkan gagasan besar: bahwa manusia tanpa memandang jenis kelamin berhak untuk belajar, berpikir, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi saksi bahwa kesetaraan bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan panggilan kemanusiaan. Bagi Gen-Z, nilai kesetaraan Kartini dapat dimaknai dalam beberapa dimensi penting.
Pertama, kesetaraan dalam akses pendidikan. Di era digital, pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Platform pembelajaran daring, media sosial edukatif, hingga kecerdasan buatan membuka peluang luas bagi siapa saja untuk belajar. Namun, realitas menunjukkan bahwa kesenjangan masih ada baik karena faktor ekonomi, geografis, maupun literasi digital. Di sinilah semangat Kartini tetap relevan: memperjuangkan akses yang adil terhadap ilmu pengetahuan. Gen-Z tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan dengan menyebarkan pengetahuan, membuat konten edukatif, dan membangun komunitas belajar yang inklusif.
Kedua, kesetaraan dalam identitas dan ekspresi diri. Generasi Z dikenal lebih terbuka terhadap keberagaman baik dalam hal gender, budaya, maupun cara berpikir. Kartini, pada zamannya, telah menegaskan pentingnya kebebasan berpikir dan keberanian untuk berbeda. Ia tidak sekadar menerima tradisi, tetapi mengkritisinya secara reflektif. Semangat ini sangat relevan bagi Gen-Z yang hidup di tengah arus globalisasi dan pluralitas identitas. Namun, kebebasan ini juga menuntut tanggung jawab: bahwa ekspresi diri harus tetap menghormati orang lain dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ketiga, kesetaraan dalam ruang publik dan kepemimpinan. Kartini memperjuangkan agar perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi dalam masyarakat. Hari ini, Gen-Z memiliki peluang besar untuk terlibat dalam berbagai bidang mulai dari kewirausahaan, aktivisme sosial, hingga politik digital. Media sosial menjadi ruang publik baru yang memungkinkan suara-suara muda didengar. Tantangannya adalah memastikan bahwa ruang ini benar-benar inklusif dan tidak didominasi oleh kelompok tertentu. Semangat Kartini mendorong Gen-Z untuk menciptakan ruang yang adil, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan didengar.
Keempat, kesetaraan dalam relasi sosial. Kartini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi tentang kemanusiaan secara keseluruhan. Ia menolak segala bentuk ketidakadilan yang merendahkan martabat manusia. Dalam konteks Gen-Z, ini berarti membangun relasi yang setara baik dalam keluarga, pertemanan, maupun dunia kerja. Relasi yang sehat adalah relasi yang didasarkan pada saling menghargai, bukan dominasi. Di era yang sering dipenuhi kompetisi dan tekanan sosial, nilai ini menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan emosional dan sosial.
Kelima, kesetaraan sebagai kesadaran kritis. Kartini adalah simbol keberanian berpikir kritis. Ia tidak menerima realitas begitu saja, tetapi mempertanyakannya. Gen-Z, yang hidup di era banjir informasi, membutuhkan kemampuan literasi kritis untuk memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Hoaks, disinformasi, dan bias algoritma menjadi tantangan baru yang tidak dihadapi Kartini, tetapi semangat kritisnya tetap relevan. Kesetaraan di sini berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk berpikir mandiri dan tidak terjebak dalam dominasi narasi tertentu.
Namun, menghidupkan nilai-nilai Kartini di era Gen-Z bukan tanpa tantangan. Salah satu yang utama adalah paradoks digital: di satu sisi teknologi membuka akses dan peluang, tetapi di sisi lain juga menciptakan ketimpangan baru. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi, dan tidak semua suara mendapatkan perhatian yang setara. Selain itu, budaya instan dan superfisial di media sosial kerap mengaburkan makna perjuangan kesetaraan yang sesungguhnya.
Tantangan lainnya adalah komodifikasi nilai. Semangat Kartini sering direduksi menjadi simbol seremonial dirayakan dalam bentuk kebaya dan peringatan tahunan, tetapi kurang dihayati dalam praktik sehari-hari. Bagi Gen-Z, penting untuk melampaui simbol dan masuk ke substansi: bagaimana nilai kesetaraan diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar retorika.
Di sinilah pentingnya refleksi dan aksi. Gen-Z memiliki potensi besar untuk menerjemahkan nilai-nilai Kartini ke dalam konteks kekinian menjadi pelopor budaya yang lebih inklusif, adil, dan manusiawi. Misalnya dengan mengadvokasi isu kesetaraan gender, memperjuangkan hak kelompok marginal, atau menciptakan inovasi sosial yang berdampak luas.
Lebih dari itu, nilai kesetaraan dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari: menghargai perbedaan, mendengarkan dengan empati, dan bertindak dengan integritas. Hal-hal sederhana ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi fondasi perubahan yang lebih besar. Pada akhirnya, warisan Kartini bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Ia bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan. Bagi Generasi Z, menghidupkan nilai-nilai Kartini berarti menjadikan kesetaraan sebagai prinsip hidup bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam tindakan nyata.
Jika Kartini hidup di era sekarang, mungkin ia tidak hanya menulis surat, tetapi juga membuat konten digital, memimpin gerakan sosial, dan menginspirasi jutaan orang melalui berbagai platform. Namun, esensinya tetap sama: memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan demikian, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” terus menemukan relevansinya dalam diri Gen-Z menerangi jalan menuju dunia yang lebih setara, inklusif, dan bermartabat.