Mental Takut Berubah


» Minggu, 26 Februari 2017 08:01, Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kategori: DosenHit: 865

Sehari-hari orang berbicara tentang kemajuan, inovasi, dinamika, dan senisnya. Akan tetapi anehnya, orang juga tidak selalu berani meninggalkan kebiasaan atau tradisinya. Padahal sebenarnya tidak akan ada kemajuan tanpa perubahan. Siapapun yang ingin meraih kemajuan, maka harus berani berubah dan atau mengubah dirinya.

Menghadapi perubahan, tidak sedikit orang merasa khawatir dan atau ragu bahwa keadaan itu akan menguntungkan dirinya. Sikap yang demikian itu menjadikan seseorang berusaha bertahan pada posisinya. Mereka menganggap bahwa apa yang ada telah memberikan ketenangan, atau paling tidak, memahami keuntungan dan resikonya. Pada umumnya, orang menghendaki posisi aman.

Keadaan dunia ini selalu berubah, apalagi pada akhir-akhir ini, perubahan itu semakin cepat, tidak selalu teratur, sehingga tidak mudah diprediksi arah perubahan itu. Bagi seseorang yang memahami dan menyenangi perubahan akan memperoleh keuntungan dan begitu pula sebaliknya, akan ditinggal dan bahkan menjadi korban perubahan.

Orang-orang yang takut resiko, biasanya tidak mau berubah. Akhirnya, lama kelamaan akan bermental takut berubah. Perubahan dipandang sebagai ancaman atau sesuatu yang membahayakan terhadap dirinya. Orang seperti ini hidupnya selalu diliputi oleh kekhawatiran, ragu, dan bahkan takut. Akibatnya, mereka selalu berada di belakang perubahan.

Pemimpin yang takut berubah biasanya organisasi yang dipimpinnya tidak pernah maju. Apa saja yang bersifat inovatif atau kemajuan selalu disikapi dengan keraguan. Resiko perubahan lebih banyak dihitung dan dipertimbangkan dibanding keuntungan yang akan diperoleh. Akibatnya, institusi yang dipimpinnya menjadi tertinggal dan tidak pernah mengalami kemajuan.

Orang yang takut perubahan, biasanya berpikir dan cara kerjanya berlindung pada peraturan. Ketika akan melakukan sesuatu, maka yang dilihat olehnya terlebih dahulu adalah aturan, payung hukum, juknis, dan juklak. Organisasi pada skala apapun, yang dipimpin orang yang bermental takut berubah seperti itu, tidak akan mengalami kemajuan.

Memang orang atau institusi yang tidak mau berubah, keadaannya tetap tenang dan aman, tetapi akan selalu menanggung resiko berupa ketinggalan zaman. Islam sebenarnya mengajarkan kemajuan dan perubahan. Oleh karena itu, institusi yang mengambil atau menggunakan nama Islam, seharusnya menjadi maju, dinamis, dan selalu berubah menjadi yang terbaik. Wallahu a'lam

(Author)