KUALITAS DITENTUKAN OLEH SEBERAPA BANYAK ORANG YANG “LARUT” DI DALAM ORGANISASI
Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd Jumat, 28 Juli 2017 . in Wakil Rektor II . 652 views

Ada seorang sopir di suatu lembaga yang karena kompetensinya dalam mengendarai mobil dan kualitas layanannya yang sangat baik membuat sopir tersebut seringkali menjadi pilihan utama orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut untuk menggunakan jasa layanannya. Istimewanya juga, sopir tersebut tidak mudah capek, sehingga seringkali dalam sehari sopir tersebut bisa melayani beberapa tamu, dan juga permintaan orang-orang yang ada di organisasi untuk mengantarnya sesuai dengan kebutuhannya.

Kompetensi yang tinggi dan kemampuan melayani yang baik rasanya sudah dimiliki oleh banyak orang di dalam organisasi, karena memang setiap organisasi melatih semua karyawannya untuk bisa melakukan pekerjaan dengan baik, yang mana hal tersebut memerlukan kompetensi yang cukup, tetapi tidak mudah capek dan selalu sedia untuk diamanahi pekerjaan tambahan, tidak banyak orang memilikinya. Ketika ditanya tentang apa yang membuatnya tidak mudah capek dan selalu sedia untuk dimintai bantuan tersebut, dengan sederhana sopir tersebut menjelaskan bahwa hal yang membuatnya tidak mudah capek adalah karena menikmati pekerjaannya.

Sopir tersebut menganggap bahwa pekerjaan menyopir adalah mengasyikan dan mendapatkan banyak hal dari pekerjaannya tersebut. Mungkin tidak berupa materi, tetapi berupa kepuasan jika mampu membuat orang lain juga merasa puas dengan layanannya. Sopir tersebut menyatu didalam pekerjaannya, sehingga bagaimanapun beratnya pekerjaan tidak membuatnya merasa capek, bahkan mampu mendapat manfaat ketika orang lain sudah merasa capek dengan pekerjaan itu.

Menyatu dalam suatu pekerjaan atau peristiwa, biasa juga disebut juga larut dalam pekerjaan atau peristiwa merupakan keterlibatan tertinggi seseorang di dalam pekerjaan. Tidak hanya ikut serta dalam melaksanakan pekerjaan dalam sebuah tim atau dalam organisasi, tetapi juga terlibat sampai dengan emosi dan seluruh hasratnya pada pekerjaan yang ditanganinya di dalam organisasi. Sehingga kemudian seseorang akan memiliki energi baru karena pekerjaan yang dimanahkan kepadanya tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan karena adanya faktor hasrat yang menyertainya dalam pekerjaan.

Begitu hebatnya dampak dari kemampuan seseorang jika larut di dalam pekerjaannya tersebut, seseorang akan memiliki produktifitas yang sangat tinggi, karena adanya gabungan berbagai hal yang menyebabkan seseorang menjadi memiliki kemampuan untuk menikmati pekerjaannya. Andai organisasi mampu merumuskan dan kemudian mampu mengimplementasikan rumusan-rumusan yang tepat untuk membuat banyak orang larut di dalam pekerjaannya, maka bisa dibayangkan betapa hebatnya unjuk kerja dari organisasi tersebut. Apalagi jika orang-orang yang larut dengan pekerjaannya tersebut adalah orang-orang yang memiliki wewenang tinggi di dalam organisasi, maka organisasi tersebut pasti akan menjadi pusat keunggulan dari organisasi-organisasi yang sejenis.

Memang terdapat banyak faktor yang dapat membuat seseorang dapat larut dengan pekerjaannya, namun kondisi tersebut harus diupayakan oleh para pemimpin dalam organisasi. Syarat utama agar seseorang dapat larut di dalam organisasi adalah adanya kompetensi. Tidak mungkin orang akan dapat menikmati pekerjaannya jika tidak memiliki kompetensi yang cukup terhadap bidang yang dikerjakannya. Orang akan merasa senang dan nyaman dengan pekerjaannya karena adanya kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Itulah sebabnya pekerjaan utama pemimpin terkait dengan sumber daya manusia adalah membuat orang-orang yang ada di dalam organisasinya memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Di Perguruan Tinggi (PT) misalnya, maka dosen atau tenaga pendidik harus memiliki kompetensi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam bidang pendidikan dosen harus cakap di dalam bidang ilmunya dan mengajarkan bidang ilmunya kepada mahasiswa. Dalam bidang penelitian dosen harus cakap di dalam metode penelitian yang sesuai dengan bidang ilmunya dan melaksanakan penelitian, kemudian menuliskannya ke dalam jurnal-jurnal ilmiah. Kemudian, dosen juga harus cakap didalam metode pengabdian kepada masyarakat dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, membuat hal-hal yang dilakukannya di dalam pendidikan dan penelitian dapat diimplementasikan kepada masyarakat luas. Tenaga administrasi atau tenaga kependidikan harus diasah dalam kemampuan manajerial, layanan-layanan dan juga dalam kemampuan teknis sebagaimana bidang pekerjaannya.

Selain kompetensi, yang juga penting untuk dikembangkan oleh para pemimpin organisasi untuk membuat orang-orang dapat larut di dalam organisasi adalah dengan menumbuhkan komitmen orang-orang yang ada di organisasi. Komitmen merupakan bentuk gabungan antara kesetiaan dengan tanggung jawab. Kesetiaan terhadap apa yang sudah dijanjikan atau diamanahkan dan tanggung jawab dalam mengemban amanah yang diembannya.

Komitmen jauh lebih sulit untuk dimiliki oleh seorang pegawai dibandingkan dengan kompetensi. Jika kompetensi dapat diselesaikan lewat pendidikan atau pelatihan, dan lebih bersifat stabil, komitmen tidak dapat serta merta diselesaikan melalui pendidikan dan pelatihan dan lebih bersifat labil. Komitmen mengandung banyak komponen nilai yang harus dipahamkan dan kemudian diyakinkan untuk bisa menjadi landasan perilaku. Seringkali komitmen juga lebih mudah berubah dibandingkan dengan kompetensi. Oleh karena itu komitmen harus tetap terus dijaga oleh organisasi, melalui sistem yang baik dan budaya organisasi yang terus menerus dirawat dan dikembangkan. Karena komitmen terkait dengan tata nilai, maka untuk membuatnya menjadi milik banyak orang di dalam organisasi, maka pemimpin harus menteladankannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemudian menjadi panutan bagi seluruh komponen organisasi.

Passion atau hasrat yang kuat terhadap bidang pekerjaan juga merupakan satu hal penting yang akan membuat orang untuk larut dalam pekerjaan. Passion akan timbul karena kecintaan dan kepercayaan diri dari apa yang dikerjakan. Orang yang memiliki kecintaan terhadap apa yang dikerjakannya akan memiliki daya tarik yang kuat terhadap pekerjaan tersebut. Demikian juga jika orang tersebut memiliki kecintaan terhadap organisasinya, pasti juga akan memiliki ketertarikan yang kuat terhadap organisasinya. Kecintaan tersebut jika diikuti oleh kepercayaan diri akan menjadikan seseorang memiliki hasrat yang kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi lebih dari yang dipersyaratkan. Kondisi ini akan memicu tumbuhnya produktifitas organisasi.

Dengan demikian untuk bisa membuat orang-orang di dalam organisasi larut, maka para pemimpin harus mulai membuat program agar orang-orang yang ada di organsiasi memiliki kecintaan terhadap organisasinya, menumbuhkan kepercayaan dirinya agar memiliki keberanian untuk mengambil inisiatif. Mengembangkan budaya yang baik dan sistem yang adil agar komitmen bisa tumbuh dengan baik, sistem pelatihan dan pendidikan yang dikembangkan secara kontinyu dan dilaksanakan berkesinambungan agar setiap orang di dalam organisasi memiliki kompetensi yang cukup kuat untuk menangani pekerjaannya. Terakhir adalah para pemimpin harus mampu membahagiakan sebanyak mungkin orang yang ada di dalam organisasi. Berbahagianya orang-orang yang ada dildalam organisasi akan mendorong orang-orang untuk larut dan kemudian membuat orang-orang untuk tinggal lebih lama di dalam organisasi dengan senang hati. Kondisi ini tentu akan memicu produktifitas organisasi.

Pemimpin harus membuat larut orang-orang di dalam organisasi, bukan hanya sekedar melibatkannya di dalam pekerjaan-pekerjaan organisasi.

(Author)