TUGAS UTAMA PEMIMPIN ADALAH MENYEIMBANGKAN ANTARA FOKUS PADA VISI DAN FOKUS PADA KESEJAHTERAAN


» Kamis, 20 Juli 2017 23:14, Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Kategori: WR2Hit: 256

Beberapa orang pegawai di sebuah organisasi terilhat mulai sering ogah-ogahan dan mulai suka kasak-kusuk dengan teman-teman selevelnya. Selidik punya selidik, ternyata ada masalah dengan kepuasan kerjanya, para karyawan pada level tersebut merasa diperlakukan tidak dengan adil sehingga mereka merasa bahwa atasannya menyuruhnya bekerja keras untuk menambah produktifitas kerjanya, namun disisi lain kesejahteraannya merasa kurang diperhatikan. Bagi pegawai atau karyawan kesejahteraan hal yang paling utama, jauh lebih utama dari mencapai visi organisasi.

Beberapa pimpinan tidak kalah serunya, juga sering bergosip tentang bawahannya, baik itu bawahan yang baik maupun bawahan yang tidak baik. Bagi pimpinan tentu saja yang disebut bawahan yang baik adalah bawahan yang memiliki produktifitas tinggi, cepat dalam menyelesaikan masalah, dan loyal. Sebaliknya bawahan yang tidak baik adalah bawahan malas, tidak produktif, lambat dalam menyelesaikan masalah, dan tidak loyal. Menurut pimpinan di organisasi apapun, mencapai sasaran, tujuan, atau visi merupakan hal yang paling penting, jauh lebih penting dari kesejahteraan pegawai.

Dua hal yang sangat berbeda tersebut akan selalu muncul di organisasi apapun. Satu sisi harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesejahteraan orang-orang yang ada di dalam organisasi, sedangkan sisi sebaliknya adalah efektifitas pencapaian visi. Uniknya kedua hal tersebut jika tidak pandai-pandai melakukannya bisa terjadi saling menghambat satu sama lain. Kedua hal tersebut dua-duanya adalah tugas utama para pemimpin organisasi. Disebut tugas utama karena dua hal itulah yang selalu dilakukan oleh pimpinan dan juga seringkali menjadi indikator dari keberhasilan kepemimpinan seseorang.

Ukuran utama keberhasilan seorang pemimpin adalah seberapa cepat dan seberapa efektif organisasi mampu mencapai visinya. Organisasi yang dimaksud tentu adalah orang-orang yang ada di dalam organisasi. Untuk dapat mencapai tujuan yang efektif ini pemimpin melakukan berbagai kegiatan kepemimpinan. Kegiatan kepemimpinan tersebut biasa disebut dengan kepemimpinan operasional dan kepemimpinan organisasi. Kepemimpinan operasional berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin merancang pencapaian visi, sedangkan kepemimpinan organisasi berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin menggerakan orang-orang yang ada di organisasi untuk mencapai visi organisasi.

Ukuran utama lainya dari keberhasilan kepemimpinan adalah seberapa mampu pemimpin organisasi mensejahterahkan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Kesejahteraan akan sangat terkait dengan pendapatan orang-orang yang ada di dialam organisasi, mulai dari level terendah sampai dengan anggota organisasi pada level tertinggi, peralatan kerja yang digunakan, fasilitas kerja untuk memperlancar pekerjaan, sampai pada tingkat kebahagiaan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Untuk mencapai kesemua hal tersebut tidak mungkin akan terjadi secara otomatis, pemimpin harus merencanakannya untuk dapat mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Dalam prosesnya kemudian diperlukan sumber daya yang ada dalam organisasi.

Dalam mencapai keberhasilan kepemimpinan utama tersebut sebetulnya memang hanya satu proses, karena dalam upaya mencapai visi organisasi faktor manusia akan menjadi hal yang paling utama, sehingga kemudian diperlukan perhatian terhadap kebutuhan dan harapan manusia-manusia yang ada di dalam organisasi. Untuk memenuhi kebutuhan dan harapan manusia tersebut diperlukan sumber daya. Namun sayangnya semua sumber daya bersifat terbatas, sehingga harus diatur penggunaannya dengan skala prioritas. Pilihannya tergantung para pemimpin memahami organisasinya dan kecanggihannya dalam membagi penggunaan sumber daya yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun untuk pencapaian visi.

Bagi para pemimpin, apalagi pada pemimpin di organisasi-organisasi dimana pemimpin adalah pemilik organisasi, mencapai visi akan sangat penting. Hal tersebut dikarenakan para pemilik tentu tidak menginginkan organisasinya bangkrut dan kemudian mati. Walaupun tidak setinggi para pemilik, pada organisasi-organisasi yang mana pemimpinnya bukan pemilik tetap akan lebih banyak menekankan pada pencapaian visi dibandingkan dengan pemenuhan kesejahteraan sebagaimana kebutuhan dan harapan para bawahan. Namun demikian, pemimpin akan diuji kecanggihannya dengan kondisi yang perlu seimbang ini.

Pencapaian visi tidak mungkin bisa dilakukan sendirian oleh pemimpin, sehingga diperlukan untuk menggerakkan para bawahan. Untuk bisa menggerakan bawahan tentu diperlukan daya dorong yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya. Sebagian besar orang dewasa yang bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk itulah organisasi harus mampu menjamin bahwa orang-orang yang ada di dalam organisasi terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Untuk itu kemudian organisasi biasanya akan menyusun skema gaji, tunjangan, remunerasi, bonus, fasilitas, dan pendapatan-pendapatan lainnya dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan memberikan kesejahteraan hidup kepada orang-orang yang ada didalam organisasi. Dengan adanya kesejahteraan ini diharapkan orang-orang yang ada di dalam organisasi akan lebih konsentrasi bekerja dan memikirkan pekerjaannya sepanjang hari, yang mungkin akan berlangsung seumur hidupnya.

Namun seringkali kenyataannya tidak demikian, dibanyak tempat peningkatan kesejahteraan tidak serta merta mendorong peningkatan produktifitas kerja, tetapi orang-orang di dalam organisasi yang tidak sejahtera juga merupakan unsur pengganggu dari produktifitas kerja. Tidak dapat dipungkiri, bahwa orang-orang dengan kompetensi tinggi dan kecakapan khusus akan menuntut adanya kesejahteraan yang cukup ketika bekerja di organisasi, oleh karenanya organisasi yang tidak mampu memberi kesejahteraan yang cukup baik, maka orang-orang yang ada di dalam organisasi juga tidak akan berkembang kompetensinya dan juga tidak mampu merekrut orang-orang dengan kompetensi yang baik. Itulah sebabnya kemudian organisasi tidak berkembang. Disisi lain, jika organisasi mampu menyediakan kesejahteraan, mampu meningkatkan kompetensi orang-orang yang ada di dalam organisasi, dan mampu merekrut orang-orang dengan kompetensi yang baik juga belum tentu berkembang pesat, bahkan beberapa organisasi mengalami kemunduran.

Untuk menyeimbangkan antara pencapaian visi dan peningkatan kesejahteraan sekaligus dapat dilakukan oleh pemimpin dengan menumbuhkan budaya organisasi yang baik di dalam organisasi. Budaya organisasi merupakan “penghantar” yang baik untuk memacu pencapaian visi organisasi dan peningkatan kesejahteraan. Kebutuhan dan harapan manusia yang bersifat tak terbatas menyebabkan kesejahteraan juga merupakan hal yang sangat bersifat personal. Jika organisasi fokus pada peningkatan kesejahteraan ini tanpa diikuti dengan penumbuhan budaya yang baik di dalam organisasi, maka dipastikan organisasi akan kehabisan energi untuk mensejahterahkan orang-orang di dalam organisasi, kondisi ini tentu akan mengabaikan pencapaian visi. Sebaliknya juga demikian, jika pemimpin fokus pada pencapaian visi tanpa penumbuhan budaya organisasi yang baik akan membuat iklim organisasi menjadi jelek. Orang-orang yang ada di dalam organisasi akan bersikap sangat transaksional dan kemudian menyebabkan orang-orang yang ada di dalam organisasi menjadi merasa tidak hidup dengan sejahtera.

Budaya organisasi akan selalu ditopang oleh nilai-nilai bersama yang harus ditanamkan kepada seluruh komponen organisasi. Upaya pemimpin di dalam menanamkan nilai-nilai tidak sama dengan upaya pemimpin dalam mencapai visi atau meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Jika upaya pemimpin dalam mencapai visi dan menumbuhkan kesejahteraan melalui berbagai imbalan dan fasilitas merupakan upaya yang yang nampak dipermukaan dan lebih banyak pada manajemen yang bersifat logis dengan melibatkan kemampuan dalam membuat strategi dan sistem di dalam organisasi, maka nilai-nilai harus diupayakan oleh pemimpin melalui manajemen hati dengan melibatkan kemampuan dalam memberikan teladan pada penerapan nilai-nilai yang ingin ditanamkannya.

Misalnya, para pemimpin yang tentu saja dengan fasilitas yang lebih baik dan level gaji, tunjangan, dan pendapatan lain yang lebih baik harus mampu memberikan teladan dan empati kepada bawahannya melalui kesederhanaan, keadilan, dan kedermawanan. Sedangkan para pemimpin harus mengajarkan dan menyadarkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi untuk hidup sederhana dan menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah memiliki peran besar bagi organisasi dan masa depan banyak orang, sehingga apa yang dilakukannya dalam pekerjaan adalah suatu ibadah.

Nilai-nilai kesederhanaan, keadilan, kedermawanan, dan menganggap bahwa pekerjaannya adalah bagian dari ibadah merupakan suatu hal yang tidak kelihatan dan tidak memiliki ukuran yang jelas sebagaimana pencapaian visi dan tingkat kesejahteraan. Nilai-nilai diinternalisasikan di dalam hati masing-masing orang di dalam organisasi, kemudian diyakini manfaatnya bagi masing-masing orang dalam organisasi, dan kemudian menjadi pedoman dalam perilaku. Nilai-nilai yang diyakini bersama oleh semua orang yang ada didalam organisasi inilah yang kemudian akan menjadi budaya di dalam organisasi.

Nilai-nilai yang tidak kelihatan tersebut akan menjadi peredam agar upaya mencapai visi disatu sisi dan upaya mensejahterahkan orang-orang yang ada di dalam organisasi disisi lain tidak saling berbenturan, tetapi bisa saling jalan bersamaan. Itulah sebabnya pemimpin harus secara simultan melaksanakan kedua proses manajemen ini. Yang satu manajemen yang mengarah kepada kemampuan untuk mencapai visi dan kemampuan untuk mensejahterahkan orang dengan pola perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, monitoring dan evaluasi, dan peningkatan secara berkelanjutan yang logis dan dipandu dengan sistem organisasi yang jelas. Kemudian satunya lagi adalah pola internalisasi nilai-nilai dan wahana-wahana untuk menginternalisasikan dan menumbuh kembangkan nilai-nilai baik kedalam kehidupan orang-orang yang ada di dalam organisasi.

Kedua proses manajemen tersebut memiliki perbedaan dalam banyak hal. Manajemen yang terkait dengan upaya mencapai visi dan mencapai kesejahteraan digerakan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dan penataan sistem yang baik, sedangkan penumbuhan budaya dilakukan melalui berbagai kegiatan kepemimpinan untuk membuat orang mengimplementasikan nilai-nilai yang diyakini organisasi sebagai nilai yang baik melalui keteladanan, penyadaran, ataupun pembelajaran.

Keberhasilan pemimpin mensinergikan antara keberhasilannya dalam mencapai visi, dan keberhasilannya menumbuhkan kesejahteraan, atau bahkan kebahagiaan para pekerjanya merupakan indikasi tumbuhnya budaya organisasi yang baik, juga merupakan indikasi bahwa organisasi tidak hanya efektif dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan sistem organisasi, tetapi juga efektif dalam memberikan teladan, penyadaran, dan pembelajaran di dalam organisasi.

(Author)