Istadi: Hindari Bahasa non KBBI
Abadi Wijaya Senin, 16 Oktober 2017 . in Berita . 289 views
1294_istadi.jpg

GEMA-Sebanyak 30 pengelolah jurnal di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti worksho pelatihan pengelolaan dasar online journal system (OJS) di Rumah Jurnal gedung Perpustakaan Lt.1. Pelatihan tersebut dipandu langsung Prof. Dr. Istadi (13/10).

Istadi menjelaskan bahwa banyak pengelolah jurnal yang mengajukan jurnalnya untuk akreditasikan online. Akan tetapi, substansi dan pedoman penulisannya belum memenuhi standar penulisan karya ilmiah. “Di lapangan, banyak tim assesor menemukan tulisan yang isinya tidak sesui dengan judul. Bahkan, dari segi penulisannya pun tidak sesuai dengan kaidah KBBI,” paparnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan semua pengelolah jurnal di UIN Malang bisa memahami apa saja yang harus disiapkan sebelum menuju akreditasi online. “Aturan pengajuan akreditasi saat ini semakin ketat, sehingga tidak bisa lagi ada proses rekayasa dokumen,” paparnya.
Proses akreditasi online tentunya dibutuhkan data yang kongkrit, bukti korespondensi antara author (penulis, Red.) dengan dewan editor dan mitra bebestari bisa dibuktikan secara kongkrit. “Kehadiran OJS ini bisa memberikan data yang akurat dan mempermudah dalam proses monitoring,” urainya.
Masih menurut Istadi, soal jurnal nasional penggunaan bahasa boleh ful menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa website, yang tidak boleh adalah bilingual seperti dalam satu statemen menggunakan dua bahasa. “Karena hal seperti itu tidak tegas ini bahasa Inggris apa bahasa Indonesia,” terangnya.
Selain soal penulisan bahasa, setiap pengelolah jurnal harus menampilkan penerbit dan daftar indeksasinya. “Indikator capaian jurnal penting di masukkan juga, untuk mengetahui jurnalnya sudah terindeks kemana saja. Misal DOAJ, Mendeley, SINTA dan lain sebagainya,” jelasnya.
Soal susunan dewan redaksi, Istadi juga menghimbau agar para pengelolah jurnal memisahkan antara mitra bebestari dengan dewan editor. Pasalnya, sampai sekarang masih banyak ditemukan di lapangan dewan editor mencakup mitrabebestari juga. “Padahal mitra bebestari sewaktu waktu bisa berganti. Akan tetapi, kalau dewan editor bersifat permanen,” tegasnya.
Di akhir paparan materinya, dia menghimbau kepada seluruh pengelolah jurnal agar bukti korespondensi dan dokumen hasil review dari mitra bebestari dan editor untuk dipublikasikan di OJS. Selama ini banyak bukti hasil review tersebut disimpan di email. “Saat penilaian, para assesor juga akan menilai dari hasil komentarnya para reviewer tetsebut,” pungkasnya.

 

(Ajay)