MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Bagi Muhamad Farchad Dwi Cahyo, gelar Winner Safir FKIK UIN Malang 2026 bukanlah sekadar pencapaian yang patut dirayakan. Lebih dari itu, gelar tersebut merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi membawa nama baik fakultas dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Mahasiswa Program Studi Farmasi semester 2 yang akrab disapa Farchad ini mengaku merasa sangat bersyukur dan bahagia ketika namanya diumumkan sebagai Winner Safir FKIK 2026. Namun di balik kebahagiaan tersebut, ia menyadari bahwa tanggung jawab besar telah menantinya.
“Perasaan saya tentu sangat bersyukur dan bahagia. Tetapi bagi saya, gelar ini adalah amanah yang harus saya jalankan dengan penuh tanggung jawab untuk membawa nama baik FKIK,” ujarnya.
Ketertarikannya bergabung dalam paguyuban Safir-Safirah telah muncul sejak awal menjadi mahasiswa baru. Saat itu, ia melihat organisasi tersebut sebagai wadah yang dapat membantunya bertumbuh dan mengembangkan potensi diri.
Semangat untuk terus berkembang tersebut berakar dari keinginannya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Baginya, mengabdikan diri kepada lingkungan sekitar dan fakultas merupakan bentuk nyata dari proses belajar yang sesungguhnya.
Ia teringat sebuah ungkapan berbahasa Arab yang selalu menjadi pegangan hidupnya, العلم با التعلم والبركة بالخدمة yang berarti ilmu diperoleh melalui belajar dan keberkahan diraih melalui pengabdian. Nilai itulah yang mendorongnya untuk terus melangkah hingga berhasil meraih gelar Winner Safir FKIK 2026.
Dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi, Farchad melakukan berbagai upaya sejak jauh-jauh hari. Ia memperdalam wawasan mengenai FKIK, melatih kemampuan public speaking, serta mengasah kemampuan berpikir kritis agar mampu menjawab berbagai isu dan permasalahan yang relevan.
Perjalanan menuju kemenangan tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu di tengah padatnya aktivitas akademik. Rangkaian pemilihan berlangsung beriringan dengan pelaksanaan ujian akhir semester sehingga menuntut kemampuan manajemen waktu yang baik.
“Kesulitan terbesar saya adalah membagi waktu di tengah kesibukan UAS dan latihan setiap hari. Di sisi lain, saya juga harus memahami karakter teman-teman finalis karena saat itu saya dipercaya menjadi ketua sementara,” jelasnya.
Di balik berbagai tantangan tersebut, Farchad justru menemukan pengalaman yang sangat berharga. Baginya, kesempatan bertemu dengan finalis dari berbagai latar belakang menjadi pelajaran yang tidak ternilai.
Saat menghadapi seleksi dan tampil di depan banyak orang, rasa gugup tentu menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, Farchad menerapkan berbagai teknik yang diperolehnya selama masa karantina, salah satunya dengan melatih kemampuan mendeskripsikan benda-benda di sekitarnya sebagai latihan berbicara.
Ia juga membiasakan diri menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin muncul saat Grand Final. Menurutnya, mengubah pola pikir menjadi kunci penting dalam membangun kepercayaan diri.
“Saya berusaha menanamkan pemikiran bahwa audiens datang untuk mendengarkan apa yang ingin kita sampaikan, bukan untuk mencari kesalahan kita. Cara itu saya lakukan selama dua hingga tiga minggu sebelum Grand Final,” ungkapnya.
Bagi Farchad, Safir-Safirah bukan hanya gelar atau simbol semata. Ia memandang peran tersebut sebagai representasi dan role model yang memiliki tanggung jawab memperkenalkan FKIK UIN Malang kepada masyarakat luas.
“Safir-Safirah adalah representasi yang harus mampu menjadi teladan dan memperkenalkan FKIK kepada masyarakat, bukan sekadar sebuah gelar,” tegasnya.
Dari seluruh proses yang dijalani, satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah pentingnya menghargai proses. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh setiap langkah, usaha, dan perjuangan yang dilalui.
Sebagai Winner Safir FKIK, Farchad memiliki sejumlah gagasan yang ingin diwujudkan. Salah satunya adalah menghimpun aspirasi dan advokasi dari para finalis untuk kemudian dikembangkan menjadi program yang bermanfaat. Selain itu, ia juga ingin turut memperkuat branding FKIK serta menjadi jembatan yang baik antara mahasiswa, fakultas, dan masyarakat.
Ke depan, ia berharap Safir-Safirah FKIK dapat terus berkembang menjadi wadah yang melahirkan mahasiswa berjiwa kepemimpinan, mampu bekerja sama dalam tim, serta memiliki semangat pengabdian yang diwujudkan melalui tindakan nyata.
Menutup wawancara, Farchad membagikan motto hidup yang selama ini menjadi sumber motivasinya.
"خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ"
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Baginya, kalimat tersebut selalu mengingatkan bahwa ilmu yang berkah bukan hanya ilmu yang dipelajari, tetapi ilmu yang mampu memberi manfaat, menginspirasi, dan membawa kebaikan bagi orang lain.
Melalui semangat pengabdian dan keinginannya untuk terus memberi manfaat, Farchad membuktikan bahwa menjadi Winner Safir FKIK bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru, gelar tersebut menjadi awal langkah untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi fakultas, masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya.