Perkuat Moderasi Beragama, Gus Ulil Ajak Akademisi Agar Lebih Kaya
Abadi Wijaya Selasa, 11 Juli 2023 . in Berita . 420 views
5726_siapa.jpg

 

HUMAS UIN MALANG – Pusat Studi Moderasi Beragama dan Sosial Budaya LP2M UIN Malang mengundang KH. Ulil Abshar Abdalla sebagai pembicara utama di Kajian Literacy Enrichment on Religious Moderation di Aula Micro Teaching, Selasa (11/7).
Gus Ulil, sapaan akrab KH. Ulil Abshar Abdalla, beliau menyampaikan narasi moderasi beragama di tengah para akademisi UIN Malang dengan santai dan lugas. Dalam penyampaiannya, beliau menyebutkan konsep dasar moderasi beragama, menurutnya, moderasi beragama ini sebagai eksplorasi dari dua dimensi (kepentingan pemerintah dan kepentingan masyarakat) yang sejalan dengan tema yang diangkat.
“Pertama, dimensi pemerintah sebagai respon aktif terhadap dinamika baik secara nasional maupun global yang bersifat regulatif, membatasi dengan aturan. Sedangkan dimensi kedua itu kepentingan masyarakat entitasnya berada dalam keberagaman yang bersifat ekploratif, memperkaya tanpa adanya batasan-batasan,” terangnya.
Ia menambahkan, hal ini tidak lain adalah buah dari kompromi politik. Moderasi beragama berawal dari gagasan yang muncul dan dimiliki oleh umat Islam. Semula, bacaan ini sebagai skrip partikular di tubuh umat Islam yang kemudian diupgrade menjadi skrip yang digeneralisir guna menanggapi dinamika dalam kehidupan beragama.
“Wacana ini yang semula merupakan wacana partikular, kemudian menjadi wacana universal, artinya digeneralisir,” paparnya.
Beliau juga menerangkan bahwa moderasi beragama muncul karena terjadinya dinamika dalam tubuh umat Islam. Akan tetapi, kita tidak bisa menggunakan perspektif Islam saja saat menjelajahi moderasi beragama, karena kondisi Indonesia dengan kebhinekaan dan keberagamannya yang harus melibatkan perspektif agama lain.
Sejak Kemenag RI merilis dokumen “Moderasi Beragama” pada tahun 2019, bacaan moderasi beragama sudah menjadi sebuah politik keagamaan yang disiasati oleh pemerintah dalam mencegah baik ekstremisme ataupun radikalisme.
Beliau memandang politik “moderasi beragama” ini sebuah gagasan yang bukan sekedar muncul dari ruang kosong. Tetapi gagasan itu mempunyai “silsilah” dan genealogi.
Dari segi genealogi, ada tiga silsilah atau sumber gagasan bagi moderasi beragama yang disumbangkan oleh beberapa kalangan. Pertama, pemikiran dari Nahdlatul Ulama. Yang kedua, ide yang bersumber dari Muhammadiyah. Yang terakhir, tak kalah penting , pembaharuan yang bersumber dari tokoh reformis dan intelek, salah satunya Nurcholish Madjid yang pemikirannya mewarnai sumbangsih terhadap pembacaan moderasi beragama ini.
“Tiga silsilah yang bersumber dari NU, Muhammadiyah, dan tokoh reformis yang berhasil dicampur hingga menjadi adonan moderasi beragama sebagaimana dirumuskan oleh Kemenag,” pungkasnya. (sf)
Pewarta: Sulthan Elsyam
Fotografer: Sulthan Elsyam
Editor: Abadi

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up