HUMAS UIN MALANG – Senin, (6/1), suasana rumah salah satu ibu PKK di Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, terasa lebih ramai dari biasanya. Masyarakat berkumpul untuk mengikuti kegiatan rutin Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang melayani anak usia dini, balita, ibu hamil, hingga lansia. Posyandu ini menjadi bukti nyata komitmen Desa Sukopuro dalam menjaga kesehatan warganya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pemeriksaan berat dan tinggi badan bayi serta balita. Sementara itu, lansia dan ibu hamil mendapat layanan pengecekan tekanan darah secara kondusif dan terstruktur. Kegiatan ini tidak hanya menggambarkan kesadaran warga terhadap kesehatan, tetapi juga menunjukkan aksesibilitas pelayanan yang patut diacungi jempol.
Dalam kegiatan tersebut, tujuh mahasiswa dari tim KKM 98 LenteraPuro UIN Malang turut berkontribusi sebagai sukarelawan. Mereka tidak hanya membantu proses pemeriksaan, tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya gizi seimbang untuk mencegah stunting. Salah satu inovasi mereka adalah membagikan poster edukatif berjudul "Isi Piringku: Gizi Seimbang". Poster ini menggambarkan pembagian gizi ideal, seperti 2/3 makanan pokok sebagai sumber karbohidrat, 2/3 sayuran sebagai sumber serat, 1/3 buah-buahan sebagai sumber vitamin, dan 1/3 lauk-pauk sebagai sumber protein.
Poster edukatif ini dibagikan kepada anak-anak dan orang tua yang hadir, memberikan wawasan baru tentang pola makan sehat. "Kami sadar bahwa isu stunting memerlukan perhatian khusus, terutama melalui edukasi kepada orang tua tentang pentingnya gizi dalam mendukung tumbuh kembang anak," ujar salah satu mahasiswa KKM 98.
Tidak hanya itu, mahasiswa KKM juga mengajak anak-anak untuk bermain di playground yang tersedia. Salah satu momen menarik terjadi ketika seorang anak perempuan berusia tiga tahun datang dengan mata berbinar-binar, meski tanpa orang tuanya. Namun, interaksi yang terjadi memberikan pelajaran penting: gizi seimbang sejak dini tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan komunikasi anak.
Kegiatan Posyandu ini juga mengungkap tantangan besar terkait stunting di Dusun Karangrejo. Meski permasalahan ini cukup kompleks, keberadaan Posyandu yang dikelola Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) menjadi salah satu solusi efektif. Namun, diperlukan upaya strategis lebih lanjut, seperti program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) atau sosialisasi door-to-door untuk menjangkau lebih banyak keluarga.
Keterlibatan mahasiswa KKM 98 LenteraPuro dalam kegiatan ini menjadi pengalaman berharga. Selain mendapatkan pemahaman mendalam tentang pelayanan masyarakat, mereka juga belajar pentingnya kontribusi kecil dalam mendorong terciptanya Indonesia Emas 2045. "Ini adalah bagian dari pengabdian kami untuk Desa Sukopuro, sekaligus wujud nyata semangat LenteraPuro dalam membawa perubahan positif," tutup perwakilan tim KKM 98.
Kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi antara masyarakat, Posyandu, dan mahasiswa dapat menjadi langkah konkret dalam melawan stunting dan menciptakan generasi sehat di masa depan.
Kontributor: KKM 98 LenteraPuro
Editor: Azman Fawwazi



