HUMAS UIN MALANG - Dusun Selobekiti, terkenal dengan kerajinan anyaman bambunya, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa. Peserta KKM UIN Malang ini berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal dan memproosikan produk unik berbasis kearifan lokal yang khas.
KKM Adhikara Dwidasa mengunjungi dua pengrajin lokal terkenal,Bu Malika dan Pak Win (4-5/1). Mereka berbagi ilmu, tips, dan pengalaman dalam mengembangkan usaha kerajinan bambu. Bu Malika memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempeh, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah ini dapat mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Produk Bu Malika dipromosikan dari mulut ke mulut (offline). “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan,” ujarnya.
Pembuatan kerajinan bambu ini dilakukan dalam berbagai tahap, seperti memotong bambu, membelah, menghaluskan, mengeringkan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri membutuhkan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dapat dilakukan dengan proses pememanggangan.
Sementara Pak Win, salah satu pengrajin yang cukup terkenal di dusun Selobekiti yang memulai usahanya pada tahun 2021 dengan memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Beliau memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee dengan nama akunnya @abidzar083 yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun. Beliau mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika didiamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami juga meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win.
Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk anyaman. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh di panci berisi air panas yang telah dicampur dengan pewarna wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk makanan asalkan warna sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendirimembutuhkan waktu hanya sekitar 1-2 jam di musim panas, tetapi saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari.
Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti MS. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani beberapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih.
Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti dapat membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.
Kontributor: KKM Adhikari Dwidasa
Editor: Edy Hyto



