HUMAS UIN MALANG – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang meninjau langsung proses belajar mengajar di tiga Taman Kanak-Kanak (TK) yang memiliki latar belakang agama berbeda. Ketiga TK itu di antaranya, TK Kristen Eleos (latar belakang agama Kristen), TK Bhakti Persada (latar belakang agama Hindu), dan TK Muslimat NU Al-Masithoh (Islam) yang berada di lingkungan Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Wagir, Malang.
Kunjungan itu berlangsung sejak 12 hingga 15 Januari 2025 lalu. Mahasiswa menyoroti hal menarik yang ada di TK itu, salah satunya penanaman rasa nasionalisme bagi anak-anak. Setiap awal pembelajaran, anak-anak diajarkan untuk menyanyikan lagu wajib sebagai bagian dari pendidikan karakter yang mengedepankan kecintaan terhadap tanah air. Selain menanamkan rasa kebangsaan, disiplin dan ketertiban juga diutamakan bagi ketiga TK itu. Anak-anak didik untuk baris berbaris sebelum memasuki kelas.
Salah satu mahasiswa, Shandyka Naraya Sukma, menceritakan observasi yang dilakukan ini merupakan bagian dari program moderasi beragama, di mana, menurutmya, semua memiliki pendekatan yang serupa dalam mendidik anak-anak. Menurutnya, program ini untuk membiasakan anak-anak dengan pentingnya tertib dan menjaga keteraturan, yang juga sejalan dengan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
Shandyka, sapaan akrabnya, menambahkan, melalui observasi ini, para peserta KKM UIN Malang melihat bagaimana sekolah-sekolah tersebut berusaha menanamkan rasa nasionalisme dan ketertiban, sekaligus mengajarkan nilai-nilai keberagaman dan toleransi kepada anak-anak sejak usia dini.
Bu Dewi, selaku perwakilan satu guru TK yang beragama Budha, menyambut baik kedatangan mahasiswa dalam program moderasi beragama. Menurutnya, kedatangan mahasiswa membantu menciptakan generasi yang tidak hanya berlandaskan pada ajaran agama masing-masing, tetapi juga memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang kuat dalam bingkai keberagaman.
Mewakili guru-guru TK, Bu Dewi berharap anak-anak bisa menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan menghargai keberagaman sejak usia dini sebagai bagian dari kekayaan bangsa, sehingga mereka dapat memahami pentingnya hidup berdampingan secara harmonis di tengah perbedaan.
Sejalan dengan harapan itu, para mahasiswa bisa banyak belajar menghormati keyakinan dan tradisi agama lain, serta menumbuhkan rasa persaudaraan tanpa memandang perbedaan agama, agar terciptan hubungan yang lebih erat antara lembaga-lembaga pendidikan lintas agama.(mh/sf)
Kontributor: M. Hilmi Albi Maulana
Editor: Sulthan Fathani Elsyam



