HUMAS UIN MALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Philoxenia dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang berperan aktif dalam mengembangkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama di Dusun Glagah Ombo, Kamis (23/1/2025).
Melalui serangkaian kegiatan yang dirancang dengan pendekatan edukatif, tujuan yang dibawa adalah menanamkan pentingnya saling menghargai dan hidup rukun sejak usia dini, serta mencegah terjadinya perundungan (bullying) yang sering kali muncul akibat perbedaan keyakinan maupun latar belakang sosial.
Selama beberapa minggu terakhir, mahasiswa KKM Philoxenia menjalankan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kepada masyarakat, terutama anak-anak di Dusun Glagah Ombo. Program-program ini fokus pada pengembangan sikap saling menghormati dan penguatan moderasi beragama melalui metode yang menarik dan mudah diterima.
Di antaranya adalah dongeng toleransi, permainan edukatif, serta diskusi ringan yang mengajarkan nilai-nilai keberagaman dan pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman agama dan budaya.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian luas adalah sesi Cerita Kebersamaan. Dalam sesi ini, anak-anak diajak untuk mendengarkan kisah-kisah inspiratif mengenai persahabatan dan kerukunan antar umat beragama. Kegiatan ini bertujuan untuk membuka wawasan mereka tentang pentingnya menghormati sesama, meskipun ada perbedaan agama, suku, maupun ras.
Saat kegiatan di lapangan, para mahasiswa juga memberikan penekanan tentang bagaimana cara menghargai teman tanpa melihat latar belakangnya, dengan tujuan menciptakan ruang aman dan nyaman bagi setiap individu.
Selain itu, kegiatan lain yang tak kalah penting adalah diskusi reflektif bersama. Dalam sesi ini, anak-anak diberi kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman pribadi mereka terkait perbedaan yang ada di masyarakat, serta berbagi pandangan mengenai cara menghargai perbedaan tersebut.
Mahasiswa KKM mengarahkan diskusi dengan penuh kesabaran, membimbing anak-anak untuk menyadari bahwa setiap individu, apapun agama dan keyakinannya, berhak dihormati dan diterima sebagai bagian dari masyarakat.
Mohamad Abdul Rozzaq, salah satu anggota kelompok KKM Philoxenia, menjelaskan bahwa pendidikan mengenai toleransi dan moderasi beragama sejak usia dini sangat penting untuk membentuk karakter generasi mendatang yang lebih inklusif dan terbuka.
Menurutnya, “Kami ingin anak-anak di Dusun Glagah Ombo tumbuh dengan kesadaran bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan seharusnya tidak menjadi alasan untuk membeda-bedakan atau bahkan melakukan perundungan terhadap teman mereka.”
Untuk memudahkan pemahaman anak-anak tentang konsep ini, para mahasiswa menggunakan berbagai alat bantu, seperti poster gambar dan permainan yang mempromosikan kerjasama antar individu dengan latar belakang yang berbeda. Semua aktivitas tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling menghormati dan mencegah potensi terjadinya diskriminasi.
Kepala Dusun Glagah Ombo, Pak Latif memberikan apresiasi yang tinggi terhadap program yang dijalankan oleh mahasiswa KKM Philoxenia ini. Dalam wawancaranya, beliau mengatakan, “Program ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami. Kami berharap dengan adanya edukasi ini, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih menghargai sesama dan dapat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi di dalam kehidupan sehari-hari.”
Pak Latif juga berharap kegiatan ini bisa berlanjut dan diperluas agar semakin banyak anak-anak yang mendapat kesempatan untuk belajar mengenai pentingnya hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Ia menyatakan bahwa pendidikan seperti ini akan memberi dampak positif dalam menciptakan masyarakat yang lebih harmonis di masa depan.
Melalui pendekatan yang menyenangkan dan menyeluruh, mahasiswa KKM Philoxenia berkomitmen untuk menanamkan fondasi yang kuat dalam pembentukan karakter anak-anak Dusun Glagah Ombo, yang diharapkan akan menjadi bagian dari masyarakat yang lebih harmonis, toleran, dan bebas dari perundungan.
Mereka percaya bahwa dengan pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman dan toleransi, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya menghargai perbedaan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam masyarakat.
Dengan berjalannya waktu, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan di berbagai tempat lain, memperluas jangkauan nilai-nilai toleransi, dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, moderat, serta penuh dengan rasa saling menghargai.(sn/kf)
Kontributor: Sirly Nafisa & Muhammad Kifah Abdan Syakuro
Editor: Sulthan Fathani Elsyam



