Tahlilan dan Maulid Diba’: Tradisi Keagamaan yang Merekatkan Warga Jambesari
Abadi Wijaya Sabtu, 1 Februari 2025 . in Berita . 893 views

 

8799_p.jpeg

HUMAS UIN MALANG, (19/1) – Tradisi keagamaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Jambesari. Dua di antaranya adalah tahlilan dan pembacaan Maulid Diba’, yang tidak hanya berfungsi sebagai media ibadah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Tahlilan merupakan tradisi Islam khas Indonesia yang bertujuan mengirim doa kepada orang yang telah meninggal dunia, biasanya dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Namun, di Desa Jambesari, tahlilan juga menjadi kegiatan rutin yang diadakan setiap Kamis malam di rumah warga secara bergiliran.

Untuk memudahkan pelaksanaan, warga dibagi ke dalam kelompok per-RT sehingga jarak tempuh jamaah tidak terlalu jauh. Namun, jika tahlilan diadakan untuk mendoakan orang yang meninggal, maka seluruh warga berkumpul di rumah duka. Hal ini terlihat dari banyaknya motor yang terparkir di sekitar lokasi.

Menariknya, dalam tahlil rutin ini, setiap jamaah menyumbangkan Rp5.000,- yang dikumpulkan oleh bendahara sebagai uang kas. Sistem ini mencerminkan semangat gotong royong yang masih kental di masyarakat desa.

Selain tahlilan, warga Desa Jambesari juga rutin mengadakan pembacaan Maulid Diba’ setiap Sabtu malam di rumah warga yang mendapat giliran sebagai tuan rumah. Kegiatan ini berlangsung setelah salat Isya dan biasanya berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.

Tidak seperti tahlilan, jamaah Maulid Diba’ bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin hadir. Namun, kebanyakan yang mengikuti kegiatan ini adalah tokoh masyarakat desa, seperti kepala dusun, mudin, sekretaris desa, serta ketua RT. Dalam pembacaannya, jamaah membaca Maulid Diba’ secara bergantian per bab hingga selesai. Setelah itu, mereka menikmati suguhan dari tuan rumah, diikuti dengan pengumuman lokasi tuan rumah selanjutnya.

Baik tahlilan maupun Maulid Diba’ bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momen berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga. Di sela-sela kegiatan, jamaah sering berbincang santai, berbagi cerita, hingga membahas berbagai isu desa.

Menariknya, meskipun teks tahlil di desa ini sedikit berbeda dari daerah lain karena mengikuti tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang turut serta dalam kegiatan ini mampu beradaptasi dengan cepat.

Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan sosial dapat berjalan beriringan, menciptakan suasana kebersamaan yang erat di tengah masyarakat. Semoga semangat kebersamaan ini terus lestari dan menjadi contoh bagi generasi mendatang.

Kontributor: Zaidan Ramadhani

Editor: Azman Fawwazi

 

 

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up