HUMAS UIN MALANG – Dalam upaya meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap bahaya kekerasan seksual, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan sosialisasi bertajuk "Know More, Fear Less". Mengusung tema “Meningkatkan Kesadaran dan Pencegahan Kekerasan Seksual melalui Pendekatan Psikologi dan Kedokteran”, kegiatan ini digelar di Masjid Pusat Ma'had al-Jami'ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Minggu, 25 Mei 2025.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan Ketua PSGA UIN Malang, Dr. Hj. Istiadah, MA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PSGA dalam membangun kesadaran dan literasi terhadap isu-isu kekerasan seksual di kalangan mahasiswa, khususnya melalui pendekatan yang ilmiah dan humanis. "Melalui kolaborasi antara ilmu psikologi dan kedokteran, kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan kekerasan seksual bukan hanya urusan moral, tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan neurologis korban," ujar Dr. Istiadah.
Mudir Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Malang, KH. Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI membuka secara resmi kegiatan ini, yang dalam sambutannya menyatakan pentingnya kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan terbebas dari kekerasan seksual. "Kita akan lakukan langkah-langkah konkret kedepannya untuk memberikan desiminasi pencegahan kekerasan seksual, dan musyrif/ah ini harus bisa menjadi duta dilingkungan UIN Malang, khususnya di Ma'had, agar kekerasan seksual tidak terjadi dilingkup kampus, khusus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tegas mudir ma'had". "Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim kegiatan sosialisasi pencegahan kekerasan seksual kami nyatakan dibuka".
Acara ini menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Dr. dr. Retry Ratnawaty, M.Sc. pakar neurosains, yang menjelaskan dampak kekerasan seksual dari sudut pandang sistem saraf dan trauma otak, serta dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Psi. psikolog klinis yang membahas aspek psikologis korban serta strategi membangun resiliensi dan keberanian untuk melapor.
Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta, yang terdiri dari musyrif dan musyrifah, serta murabbi dan murabbiah ma'had. Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab menjadi bagian penting dari acara, membuka ruang aman bagi peserta untuk berbagi pandangan dan pengalaman.
Sosialisasi ini diakhiri dengan ajakan bersama untuk memperkuat solidaritas dalam melawan segala bentuk kekerasan seksual dan membangun budaya kampus yang ramah, aman, serta mendukung kesehatan mental dan spiritual seluruh sivitas akademika.
Reporter: M.Syahri.R



