MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara V tahun 2025 dilaksanakan di Pakanewon Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri”, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari (5-7/8). Menurut Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Syaiful Mustofa, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengirimkan enam perwakilan mahasiswa pada pelaksanaan KKN tersebut.
Rangkaian kegiatan monev dimulai dengan Dialog Nusantara yang digelar di Gereja Santa Theresia Lisieux Paroki Boro Kalibawang. Hadir sebagai narasumber perwakilan dari Gereja, Badan Kesbangpol DIY, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DIY, serta Kabubtim Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Agama (Kemenag) RI, Dr. Adimin Diens.
Dalam pemaparannya, Adimin mengapresiasi program KKN Nusantara V, khususnya dalam kerangka KKN Moderasi yang baru pertama kali diimplementasikan. “Atas nama Kementerian Agama RI, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap capaian mahasiswa di lapangan. Hasilnya bahkan melampaui ekspektasi dari perencanaan awal,” ujar Pria asal Manado itu.
Usai dialog, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon di kebun milik gereja sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan. Selanjutnya, tim monev turun langsung ke beberapa posko mahasiswa, termasuk Posko Pedukuhan Tirip, Desa Banjararum, Kalibawang.
Di posko tersebut, mahasiswa mempresentasikan program kerja mereka, antara lain transformasi sampah plastik menjadi paving block, branding produk UMKM seperti tikar daun pandan, serta penguatan legalitas usaha melalui pendaftaran Nomor Izin Usaha (NIB).
Tidak hanya menjalankan program, mahasiswa KKN juga membaur sepenuhnya dengan masyarakat. Mereka tinggal bersama warga dan menjalin interaksi tanpa sekat agama, kepercayaan, maupun etnis, mencerminkan semangat moderasi beragama secara nyata.
Kegiatan monev ditutup oleh Adimin Diens yang kembali menekankan pentingnya nilai-nilai moderasi, inklusivitas, dan kepedulian ekologis yang telah ditanamkan selama KKN. Ia berharap semangat tersebut dapat terus dihidupkan dalam kehidupan akademik dan sosial mahasiswa. “Kegiatan ini menjadi bukti bahwa moderasi beragama bukan sekadar wacana, melainkan dapat diwujudkan dalam tindakan konkret. Mahasiswa telah menyatu dengan masyarakat plural, membangun solidaritas untuk merawat ekoteologi dan membangun negeri,” pungkasnya. (*/nd)
Kontributor: Dr. Syaiful Mustofa



