Seminar Nasional Festiv..." />
Seminar Nasional FBP 2025: Belajar Mendengar, Kunci Awal Literasi Generasi Muda
Abadi Wijaya Jumat, 3 Oktober 2025 . in Berita . 155 views
10138_fbp.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Suasana di Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tampak dipenuhi ratusan siswa dan mahasiswa pada Kamis, 2 Oktober 2025. Peserta memenuhi ruangan sejak pagi, antusias mengikuti Seminar Nasional Festival Bulan Pendidikan (FBP) ke-10 bertema “Strategi Mengatasi Krisis Literasi dan Numerasi terhadap Generasi Muda demi Menyokong Indonesia Emas 2045.”

Menariknya, seminar kali ini menghadirkan sosok inspiratif — Dr. Herma Retno Prabayanti, S.E., M.Med.Kom., ibunda dari Vania Winola, peserta Clash of Champion (COC) yang dikenal luas. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta yang ingin memperoleh wawasan segar tentang literasi, numerasi, dan peran generasi muda di era digital.

Dalam sambutannya, Kaprodi MPI Ulfah Muhayani, M.PP., Ph.D. mengungkapkan kebanggaannya terhadap HMPS MPI yang sukses menghadirkan pemateri inspiratif sekaligus menyelenggarakan seminar yang sarat nilai edukatif.

“FBP tahun ini spesial. Kami ingin menghadirkan sumber pendidikan di luar kelas, dan inilah saatnya. Saya bangga sekali pada HMPS MPI,” tutur Ulfah dengan penuh semangat.

Dr. Herma membuka paparannya dengan sebuah fun fact yang langsung memancing perhatian audiens.

“Tahukah kalian, hanya dua hal yang menggunakan istilah ‘pengguna’: narkoba dan media sosial,” ujarnya, membuat peserta terpaku.

Beliau menjelaskan bahwa keduanya bisa menjadi berbahaya ketika disalahgunakan. Namun, jika dimanfaatkan dengan bijak dan sesuai kebutuhan, keduanya justru dapat memberikan manfaat besar — narkoba dalam konteks pengobatan, dan media sosial sebagai sarana belajar atau mencari informasi.

Lebih lanjut, Dr. Herma mengajak peserta memahami konsep “algorithm bubble,” yakni kondisi ketika media sosial menyesuaikan konten sesuai preferensi pengguna hingga berpotensi menimbulkan kecanduan.

“Kalau kita tidak mengatur algoritma, kita akan terjebak dalam arus konten yang tidak berujung. Gunakan search bar, jangan hanya scroll tanpa arah. Isi berandamu dengan hal-hal positif,” pesannya.

Beranjak dari isu media sosial, Dr. Herma menegaskan bahwa literasi sejati tidak selalu dimulai dari membaca, melainkan justru dari mendengar.

“Literasi pertama itu adalah mendengar. Itulah mengapa ada kajian, karena literasi sejati berawal dari kemampuan mendengar,” jelasnya.

Menurutnya, mendengar membuka ruang bagi seseorang untuk memahami, berpikir kritis, dan akhirnya menumbuhkan minat membaca.

“Ego harus ditekan, mendengar adalah yang utama. Banyak orang ingin didengar, tapi enggan mendengar. Padahal kalau kita mau mendengar, critical thinking bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Dari proses mendengar, lanjutnya, seseorang akan terdorong membaca untuk memvalidasi informasi dan memperluas wawasan.

“Dari mendengar, kita tahu apa yang menarik bagi kita. Lalu kita membaca untuk mencari kebenaran dan memperdalam pengetahuan,” tambahnya.

10139_fbpp.jpg
10140_fbppp.jpg

Seminar nasional ini tak hanya membuka wawasan, tetapi juga memberi refleksi mendalam tentang pentingnya kesadaran digital dan kemampuan berpikir kritis di era modern. Suasana interaktif dan antusias terlihat sepanjang acara hingga sesi penutup, yang diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta, panitia, dan pemateri dan juga penyerahan cinderamata sebagai simbol berakhirnya rangkaian FBP 2025. (kml)

Reporter: Ajeng Ayu Kemala

Fotografer: Ahmad Fawwaz Wildani

 

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up