Suasana Aula Rektorat lantai tiga UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung tampak berbeda pada Rabu, 8 Oktober 2025. Sekitar 40 dosen muda memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi. Mereka bukan sekadar hadir, tetapi datang membawa semangat baru untuk belajar tentang bagaimana pengabdian kepada masyarakat bisa dilakukan dengan lebih ilmiah, terukur, dan berdampak nyata.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas Pengabdian Dosen” ini menjadi wadah bagi para akademisi muda untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi dan penulisan ilmiah berbasis data pengabdian. Dua narasumber dihadirkan untuk memperkaya wawasan peserta, yaitu Dr. Agus Efendi, M.Fil.I., dari UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Dr. Syaiful Mustofa, M.Pd., M.A., dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Dr. Agus Efendi membuka sesi dengan pemaparan menarik tentang metodologi Participatory Action Research (PAR)—sebuah pendekatan riset yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses penelitian. “PAR bukan hanya tentang meneliti, tetapi tentang bergerak bersama masyarakat,” ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, Dr. Syaiful Mustofa dari UIN Malang memberikan perspektif segar tentang bagaimana data pengabdian bisa diolah menjadi karya ilmiah yang bernilai akademis. Ia menegaskan, “Menulis dari pengalaman pengabdian bukan sekadar menuangkan cerita, tetapi mengubah realitas sosial menjadi pengetahuan ilmiah yang bermanfaat.”
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM UIN SATU Tulungagung, Prof. Ngainun Naim. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya kewajiban administratif, tetapi wujud nyata dari keilmuan seorang dosen. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap dosen muda bisa berkontribusi langsung dengan karya dan tindakan nyata,” tutur Prof. Ngainun dengan penuh motivasi.
Sebagai Ketua Forum LPPM PTKIN, Prof. Ngainun juga berpesan agar setiap dosen mampu melaksanakan penelitian dan pengabdian secara mandiri, kemudian mendiseminasikan hasilnya kepada masyarakat dan menuliskannya dalam bentuk artikel ilmiah. “Dari lapangan kembali ke kampus, dari kampus kembali ke masyarakat. Itulah siklus pengetahuan yang hidup,” tambahnya.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN SATU Tulungagung, Dr. Muhammad Muntahibun Nafis, M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting untuk membekali para dosen muda sebelum terjun langsung ke lapangan.
“Setelah kegiatan ini, para peserta akan menerima sertifikat pengabdian yang menjadi syarat utama sebelum menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL),” jelasnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kapus Pengabdian PTKIN ini berharap agar ke depan seluruh dosen mampu merancang kegiatan pengabdian yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Kami ingin setiap dosen memiliki semangat untuk memberi yang terbaik bagi masyarakat. Karena sejatinya, ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan maknanya,” ujarnya menutup sambutan.
Antusiasme peserta terus terjaga hingga akhir acara. Tawa ringan, diskusi mendalam, dan catatan-catatan kecil memenuhi meja mereka. Salah seorang panitia pun menuturkan, “Alhamdulillah, dari awal hingga akhir, semangat peserta tidak surut sedikit pun. Semoga ilmu yang mereka peroleh bisa menjadi manfaat yang luas bagi masyarakat.”
Kegiatan Penguatan Kapasitas Pengabdian Dosen ini menjadi bukti komitmen UIN SATU Tulungagung untuk terus menyiapkan dosen-dosen muda yang berintegritas, inovatif, dan siap mengabdi. Dengan dukungan pemateri inspiratif dari UIN Malang, semangat pengabdian itu pun semakin menyala—mendorong lahirnya karya dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Kontributor: Syaiful Mustofa



