Dr. KH. Marzuki Wahid Kupas “Gunung Es” Fenomena Sosial di ToT Moderasi Beragama UIN Malang
Abadi Wijaya Selasa, 18 November 2025 . in Berita . 173 views
10425_must.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Batu — Salah satu fasilitator utama Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, Dr. KH. Marzuki Wahid, mengajak para peserta menyelami cara baru memahami persoalan sosial melalui teori analisis gunung es dan U Theory. Materi ini disampaikan dalam sesi yang berlangsung pada Selasa 18 November 2025, dan langsung menyita perhatian para peserta karena memberikan sudut pandang mendalam terhadap akar masalah dalam dinamika sosial.

Dalam pemaparannya, Dr. Marzuki menjelaskan bahwa seseorang biasanya merespons masalah melalui empat level: reacting, redesigning, reframing, hingga regenerating. Keempat level ini menjadi bagian penting dalam U Theory yang dikembangkan Otto C. Scharmer dari Presencing Institute.

10427_kel.jpg

“Pendekatan ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat masalah dari permukaan, tetapi menyelami apa yang terjadi di baliknya,” jelasnya.

Dr. Marzuki juga memperkenalkan konsep system thinking sebagai cara pandang dalam memahami elemen-elemen pembentuk sistem, baik dalam ekosistem sosial maupun organisasi.

Menurutnya, system thinking adalah metode penting untuk mengurai masalah dengan cara menanyakan elemen apa saja dalam sistem yang memengaruhi suatu peristiwa?

“Setiap peristiwa dalam realitas sosial tidak boleh hanya dilihat dari apa yang tampak. Kita harus memahami elemen-elemen yang bekerja di baliknya,” ungkapnya.

10426_tamar.jpg

Mengaitkan teori gunung es dengan fenomena sosial, Dr. Marzuki memberi contoh ekstrem: kasus bom bunuh diri. Ia menegaskan bahwa yang terlihat—yakni tindakan ledakan itu sendiri—hanya 10 persen dari keseluruhan persoalan. Sementara 90 persen lainnya berada di bawah permukaan, terdiri dari pola pikir, doktrin, relasi sosial, hingga lemahnya kontrol.

“Fenomena bom bunuh diri itu tidak terjadi tiba-tiba. Ada sistem perilaku yang terstruktur, misalnya dari kajian keagamaan ekstrem yang dibiarkan tanpa pengawasan keluarga maupun penegak hukum,” tegasnya.

Di akhir sesi, Dr. Marzuki menekankan pentingnya kehadiran pendidik, khususnya para dosen UIN Malang, sebagai motor penggerak moderasi beragama. Fasilitator diharapkan mampu menanamkan cara berpikir yang lebih komprehensif, kritis, dan moderat kepada mahasiswa maupun masyarakat.

“Untuk menekan munculnya kasus-kasus ekstremisme, kita membutuhkan para fasilitator yang memahami proses, mampu membaca sistem, dan mendorong perubahan cara pandang menuju moderasi,” pungkasnya.

Kegiatan ToT ini menjadi ruang penting bagi para dosen muda UIN Malang untuk memperkuat kapasitas mereka dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up