Fasilitator Moderasi Beragama Tekankan Pentingnya Hilangkan Sifat Egosentris
Abadi Wijaya Selasa, 18 November 2025 . in Berita . 79 views
10423_siap34.jpeg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Upaya memperkuat moderasi beragama di perguruan tinggi kembali ditegaskan dalam kegiatan pendampingan 30 dosen muda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dipersiapkan menjadi calon fasilitator moderasi beragama. Dalam sesi pelatihan tersebut, fasilitator ToT Moderasi Beragama, Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memberikan penekanan penting terkait sikap dasar yang harus dimiliki seorang fasilitator. Selasa, 18 November 2025.
Menurut Dr. Iklilah, langkah pertama dalam memahami moderasi beragama adalah berani membenahi sifat egosentris dalam diri sendiri. “Jika mau mendiskusikan moderasi beragama maka yang harus dibenahi adalah sifat egosentris yang ada dalam diri sendiri,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa sifat dominatif yang selama ini melekat pada sebagian dosen saat mengajar tidak boleh dibawa dalam konteks fasilitasi.
“Dosen terbiasa mendominasi kelas. Namun, sebagai fasilitator moderasi beragama, seseorang harus mampu mengontrol dominasi diri dan memastikan tidak ada peserta yang diabaikan,” jelasnya.

10422_siap3.jpeg


Dr. Iklilah memaparkan beberapa kompetensi penting yang wajib dimiliki seorang calon fasilitator, antara lain pandangan keagamaan yang moderat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan komunikasi efektif, termasuk kemampuan memfasilitasi diskusi konstruktif. Kesabaran dan empati, untuk memahami perbedaan pendapat serta menangani konflik dengan bijak. Pengetahuan memadai tentang moderasi beragama, sehingga dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Kemampuan mengelola forum, termasuk mendorong partisipasi aktif semua peserta. Pengaruh signifikan di komunitas kampus, sehingga mampu menggerakkan guru, dosen, maupun mahasiswa dalam menerapkan nilai moderasi.

10421_siap2.jpeg


Tidak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya kemampuan teknologi informasi, mengingat peran teknologi dalam pembelajaran dan komunikasi semakin krusial.
Selain kompetensi inti tersebut, seorang fasilitator moderasi beragama juga diharapkan memiliki kualifikasi pendukung, seperti respek terhadap peserta dan mampu menjaga suasana belajar yang inklusif. Kemampuan berbicara yang jelas dan menarik, sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemampuan mendengarkan secara aktif, memahami kebutuhan peserta, dan membaca dinamika forum. Kemampuan membangkitkan antusiasme peserta agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
“Selain itu, open mind harus dimiliki oleh fasilitator moderasi beragama, karena di sini dibutuhkan rasa simpati dan empati terhadap persoalan yang terjadi di lapangan,” tegas Dr. Iklilah.

10420_siap1.jpeg


Kegiatan pendampingan ini diharapkan mampu melahirkan fasilitator moderasi beragama yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga bijak, empatik, dan responsif terhadap keragaman di tengah masyarakat.

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up