MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -Pelaksanaan Training of Trainers (TOT) Moderasi Beragama memasuki hari keempat dengan menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. H. M. Ali Ramdhani, S.TP., MT. Acara yang berlangsung di Hotel Onsen, Batu, dan diikuti oleh 30 dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini kembali menegaskan urgensi moderasi beragama di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kamis, 20 November 2025.
Dalam pemaparannya, Prof. Ramdhani menjelaskan bahwa moderasi beragama menurut Kementerian Agama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menekankan esensi ajaran agama untuk menjaga martabat kemanusiaan serta membangun kemaslahatan umum. Semua itu, ujarnya, berpijak pada prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.
“Moderasi beragama adalah kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global,” tegasnya.
Prof. Ramdhani menyoroti karakter Indonesia sebagai negara religius dan plural. Meski bukan negara agama, masyarakat Indonesia hidup sangat dekat dengan nilai-nilai keagamaan, sementara konstitusi menjamin kebebasan beragama. Beragama dan Ber-Indonesia adalah dua hal yang tak terpisahkan.
"Menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan menjadi tantangan bagi setiap warga negara," ujarnya. Ia menegaskan bahwa beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia, dan ber-Indonesia berarti beragama, karena keduanya saling menguatkan dalam menciptakan masyarakat yang damai.
Menurutnya, moderasi beragama berfungsi sebagai perekat antara semangat keberagamaan dan semangat kebangsaan. Upaya moderasi ini dinilai penting untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, toleran, dan penuh kedamaian.
Pada bagian pemaparan mengenai penguatan relasi agama dan negara, Prof. Ramdhani kembali menegaskan:
"Moderasi Beragama pada dasarnya adalah menghadirkan negara sebagai rumah bersama yang adil dan ramah bagi bangsa Indonesia untuk menjalani kehidupan beragama yang rukun, damai, dan makmur."
Ia menyampaikan bahwa moderasi beragama bukan konsep abstrak yang sulit diukur. Keberhasilannya dapat dilihat melalui meningkatnya empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, penerimaan terhadap nilai-nilai konstitusi dan prinsip berbangsa, toleransi menghormati perbedaan, memberi ruang bagi keyakinan dan ekspresi orang lain, serta menghargai kesetaraan. Menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan, Penerimaan terhadap Tradisi, Sikap ramah terhadap budaya dan tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan ajaran pokok agama.
Dalam paparan lanjutan, Prof. Ramdhani turut memaparkan komponen utama Peta Jalan Moderasi Beragama, yang mencakup analisis situasi moderasi beragama di berbagai kementerian/lembaga, Penyusunan rencana dan langkah strategis, Implementasi program, Pemantauan dan evaluasi, Serta pola sosialisasi dan komunikasi nilai-nilai moderasi.
Mengakhiri materinya, Prof. Ramdhani menekankan pentingnya menggaungkan pemahaman yang benar tentang moderasi beragama. Menurutnya, masih banyak yang keliru memahami bahwa moderasi beragama adalah upaya memoderasi ajaran agama. "Pada hakikatnya, semua agama itu moderat. Yang perlu dimoderasikan adalah pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama agar tidak terjebak ekstremisme," ujarnya.
TOT Moderasi Beragama hari keempat ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas para dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai agen penggerak moderasi beragama di lingkungan akademik dan masyarakat luas.



