MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Kegiatan Training of Trainers (TOT) Moderasi Beragama resmi ditutup oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, pada Jumat, (21/11), di Onsen, Batu. Dalam penutupan ini, Prof. Ilfi menegaskan arah kebijakan baru kampus yang menempatkan moderasi beragama, ekoteologi, serta isu-isu global berbasis lokal sebagai tiga fokus strategis UIN Malang ke depan.
Dalam sambutannya, Prof. Ilfi menekankan bahwa moderasi beragama bukan hanya menyentuh aspek relasi antarmanusia, tetapi juga relasi manusia dengan lingkungan. Ia menyoroti pentingnya perguruan tinggi Islam untuk memberikan kontribusi nyata pada isu-isu dunia yang berakar dari persoalan lokal, seperti ekonomi, lingkungan, perdamaian, dan keadilan. “Moderasi beragama masuk pada isu perdamaian dan keadilan,” tegasnya.
Rektor UIN Malang juga menyampaikan hasil pemetaan riset dosen UIN Malang periode 2021–2023. Dari pemetaan tersebut diketahui bahwa riset yang berkaitan dengan pilar perdamaian dan keadilan dalam SDGs baru mencapai 12,8 persen, jauh tertinggal dibandingkan riset pendidikan berkualitas yang mendominasi hingga 48,5 persen. Ia menilai kontribusi riset moderasi beragama masih perlu diperkuat agar mampu memberikan dampak signifikan, sekaligus bersaing dengan perguruan tinggi besar seperti Unair, IPB, dan UGM yang telah mencapai pengakuan global.
Karena itu, Prof. Ilfi menekankan perlunya reorientasi Tridharma perguruan tinggi. Penelitian, pengabdian masyarakat, hingga program KKN mahasiswa ke depan diharapkan bergerak menuju isu-isu strategis seperti ekoteologi, kemiskinan, perdamaian, keadilan, dan perubahan iklim.
Dalam materinya mengenai ekoteologi, Prof. Ilfi menyoroti minimnya suara akademisi Islam dalam isu lingkungan. Ia mengangkat contoh kerusakan sungai Mahakam akibat aktivitas tambang batu bara dan nikel, serta maraknya temuan mikroplastik di udara dan air hujan di kota-kota besar Indonesia. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari Maqashid Syariah, terutama perlindungan jiwa dan keturunan. Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan sampah plastik, termasuk di pesantren, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Rektor juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas fakultas untuk menjawab tantangan besar tersebut. “Tidak cukup hanya Fakultas Syariah atau Tarbiyah. Kita punya Fakultas Teknik, kita punya Fakultas Sains. Inilah indahnya kolaborasi. Moderasi beragama, ekoteologi, isu sosial—semuanya bermuara pada Indonesia sebagai rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Selama enam hari pelaksanaannya, TOT Moderasi Beragama ini diharapkan mampu melahirkan para trainer of trainer dari kalangan dosen yang akan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Menutup sambutannya, Prof. Ilfi menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian kegiatan intensif selama lima malam meski harus meninggalkan keluarga. Ia berharap materi yang disampaikan dapat menjadi pemantik semangat untuk terus merawat nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan secara resmi ditutup dengan doa bersama dan harapan agar para peserta dapat menjadi agen perubahan dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia.
Reporter: Azman Fawwazi
Foto: Ahmad Fawwaz Wildani



