Integrating Ecotheological Value into 21st Century Learning Innovations to Create Impa..." />
Scholars Talks ICIED 2025 Bahas Integrasi Nilai Ekoteologi dalam Inovasi Pembelajaran Abad ke-21
Abadi Wijaya Kamis, 27 November 2025 . in Berita . 162 views
10525_icied.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Sebagai bagian dari rangkaian The 10th ICIED, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang menggelar Parallel Session: Scholars Talks dengan topik "Integrating Ecotheological Value into 21st Century Learning Innovations to Create Impactful Education." Sesi ini menghadirkan empat pembicara yang berasal dari latar belakang profesional berbeda, yaitu Prof. Taufiqurrahman, M.Pd, Prof. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, M. Dwi Cahyono, S.Pd, dan Ida Fitri Anggraini, S.Pd., M.Pd.

Keberagaman latar belakang narasumber—mulai dari pengajar madrasahresearcher, hingga profesormemberikan perspektif luas mengenai bagaiana nilai-nilai ekoteologi dapat ditanamkan dalam pembelajaran pada berbagai jenjang pendidikan.

Dalam paparannya, Prof. Taufiqurrahman yang merupakan profesor di bidang Bahasa Arab, menyoroti minimnya isu lingkungan dalam literatur dan pembelajaran bahasa Arab. Ia menegaskan urgensi memperkaya kajian ekoteologi, terutama di Indonesia.

"Indonesia dan Brasil memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, tetapi justru sering mengalami kerusakan dan tidak mendapat manfaat optimal. Sebaliknya negara maju yang tidak sekaya Indonesia justru punya banyak hal."

Sementara itu, Prof. Esa Nur Wahyuni menjelaskan bahwa agar nilai ekoteologi benar-benar berdampak pada peserta didik, harus diperhatikan empat sistem yang memengaruhi perkembangan manusia, yaitu:

  1. Mikrosistem — orang atau pihak yang terlibat langsung dengan anak.
  2. Makrosistem — lingkungan yang tidak berinteraksi langsung tetapi memberi pengaruh.
  3. Mesosistem — budaya atau pola hubungan yang terbentuk dalam lingkungan sosial.
  4. Eksosistem — kebijakan pemerintah serta regulasi yang mendukung pendidikan ekologis.

Menutup sesi, Prof. Esa mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek, melainkan entitas yang harus diperlakukan setara dengan manusia.

“Pemerintah harus hadir melalui kebijakan yang memberdayakan. Lingkungan yang indah, aman, dan bersih harus dapat dinikmati semua orang tanpa biaya berlebih, karena alam adalah hak kita semua,” tegasnya.

10526_iciedd.jpg

Diskusi para narasumber menegaskan pentingnya pendidikan berwawasan ekoteologi sebagai langkah strategis dalam mengembangkan pembelajaran abad ke-21 yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berkelanjutan dan berkesadaran ekologis. (kml)

Reporter: Ajeng Ayu Kemala

Fotografer: Ahmad Fawwaz Wildani

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up