UIN Malang Peringati HGN 2025: Guru Penjaga Masa Depan Bangsa
Abadi Wijaya Selasa, 25 November 2025 . in Berita . 108 views
10503_hgn1.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa pagi, 25 November 2025, berlangsung dengan suasana yang tenang dan penuh rasa hormat. Halaman depan Gedung Rektorat berubah menjadi ruang refleksi bersama tentang arti menjadi pendidik di era yang bergerak cepat seperti sekarang.
Peringatan HGN selalu jatuh pada 25 November. Di balik tanggal itu tersimpan pesan sederhana namun kuat: masa depan bangsa berputar di tangan para guru. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga estafet peradaban.
Wakil Rektor Bidang AUPK, Dr. Zainal Habib, M.Hum., hadir memimpin upacara dan menyampaikan amanat yang mengajak para peserta melihat pendidikan dari sudut yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa pemerintah kini mendorong pelatihan deep learning, coding, hingga kecerdasan artifisial untuk mempersiapkan guru menghadapi tantangan baru. Materi ini bukan sekadar daftar program. Pesannya jelas: guru harus tetap menjadi figur sentral meski teknologi terus berubah.
Dalam amanat Kementerian Agama yang dibacakan, HGN tahun ini menegaskan kembali peran strategis guru sebagai fondasi kemajuan bangsa. Guru ditantang bukan hanya menguasai cara mengajar yang adaptif, tetapi juga menjaga ruh pendidikan yang membentuk karakter. Ada satu kisah yang kembali disampaikan, kisah yang mungkin sudah lama kita dengar tapi tak kehilangan daya pukau. Saat Jepang luluh lantak akibat bom atom, Kaisar bertanya satu hal: “Berapa guru yang tersisa?” Sebuah pertanyaan yang memperlihatkan keyakinan bahwa kebangkitan bangsa dimulai dari ruang belajar.

10502_hgn.jpg


Pendidikan diibaratkan investasi panjang. Kesalahan di sektor lain masih bisa ditambal dalam hitungan tahun, sedangkan kekeliruan dalam pendidikan bisa merembet ke generasi berikutnya. Karena itu, Dr. Zainal mengingatkan pentingnya merancang sistem pendidikan nasional dengan pandangan yang jernih dan visi kebangsaan yang utuh.
Dalam lanskap yang semakin dikuasai teknologi dan kecerdasan buatan, peran guru justru semakin tak tergantikan. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia menyentuh pembentukan akhlak, empati, dan cara melihat dunia. Seperti yang kerap diulang para pendidik, hanya manusia terdidik yang dapat mendidik manusia.
Tema HGN 2025 di lingkungan Kementerian Agama, *“Merawat Semesta Dengan Cinta”*, memperkaya pesan ini. Tema tersebut selaras dengan Asta Cita Presiden dan Asta Protas Menteri Agama yang menekankan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Guru tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap sesama dan alam. Pendidikan yang lahir dari cinta akan menumbuhkan generasi yang lembut hati dan bertanggung jawab.
Negara juga menunjukkan komitmennya melalui peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Sertifikasi PPG diwajibkan bagi seluruh guru, baik ASN maupun non-ASN, sebagai penanda standar kompetensi nasional. Kebijakan ini menjadi dasar pemberian Tunjangan Profesi Guru. Datanya cukup mencolok. Peserta PPG bertambah dari 41 ribu guru pada 2023–2024 menjadi lebih dari 301 ribu pada 2025. Kenaikan sekitar 620 persen ini mencakup guru madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, hingga guru dari komunitas Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik. Semua mendapat peluang yang sama untuk meningkatkan kualitas diri.
Di sisi lain, lebih dari 588 ribu guru kini menerima tunjangan profesi, dan dalam tiga tahun terakhir, 52 ribu guru honorer telah diangkat menjadi PPPK. Kebijakan ini memberi kepastian karier dan kualitas hidup yang lebih baik bagi para pendidik di Indonesia.
Dalam amanatnya, WR II juga mengingatkan kembali tujuan besar pendidikan nasional: melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Karena itu, kepribadian guru menjadi inti dari keberhasilan pendidikan. Pesan Prof. Dr. Zakiah Daradjat kembali bergema, bahwa kepribadian guru menentukan apakah ia menjadi pembina masa depan atau justru sebaliknya.
Upacara HGN di UIN Malang tahun ini pada akhirnya menjadi ruang penguatan komitmen. Para guru, dosen, dan tenaga pendidik diajak kembali mengajar dengan cinta, ketulusan, dan pandangan jauh ke depan. Harapannya sederhana namun besar: dari tangan para pendidik, lahir generasi yang mencintai Tuhan, tanah air, dan sesama. Semoga setiap langkah para guru dicatat sebagai amal baik yang terus mengalir.

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up