Maliki Islamic University-Pagi itu, suasana Balai Desa Gadingkulon dipenuhi suara anak-anak berseragam merah putih. Mereka duduk berkelompok sambil bercanda, namun sesekali menatap ke depan dengan rasa penasaran. Di hari yang berbeda, suasana serupa juga terasa di salah satu ruang kelas SD 2 Gadingkulon. Bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk mengikuti sosialisasi anti bullying bersama mahasiswa KKM.
Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan ini di dua tempat terpisah. Sosialisasi pertama dilaksanakan pada 24 Januari di Balai Desa Gadingkulon untuk siswa SD 1, sementara kegiatan kedua berlangsung pada 28 Januari di ruang kelas SD 2. Meski lokasinya berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu mengajak anak-anak memahami pentingnya saling menghargai dan menghentikan perilaku perundungan di sekolah.
Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan dekat dengan keseharian mereka. Anak-anak diajak mengenali bentuk bullying yang sering muncul, mulai dari ejekan, memanggil dengan julukan buruk, hingga tindakan fisik seperti mendorong atau memukul. Beberapa siswa langsung mengangguk pelan, seolah merasa pernah melihat atau bahkan mengalami hal serupa.
Agar suasana tidak terasa tegang, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film pendek bertema persahabatan dan dampak bullying. Ruangan yang tadinya ramai mendadak hening. Mata anak-anak fokus ke layar, mengikuti alur cerita yang menyentuh. Dari ekspresi mereka, terlihat jelas bahwa pesan tentang rasa sakit akibat dirundung mulai mereka pahami.
Setelah menonton, sesi diskusi menjadi momen paling hangat. Anak-anak mulai berani berbagi cerita dan pendapat. Ada yang mengatakan bullying itu menyedihkan, ada juga yang berjanji tidak akan mengejek temannya lagi. Mahasiswa pendamping menanggapi dengan sabar, memberi contoh bagaimana menjadi teman yang baik dan berani saling melindungi.
Menjelang akhir kegiatan, suasana terasa lebih akrab. Balai desa dan ruang kelas hari itu bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang belajar tentang empati dan kepedulian. Sosialisasi ini mungkin sederhana, namun meninggalkan pesan yang kuat. Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, tempat anak-anak tumbuh bersama tanpa rasa takut, karena teman bukan untuk disakiti, melainkan untuk dijaga.
Kontributor: Nafiska Sayekti Ariyani



