MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu PTKIN dengan karakter paling kuat. Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kelembagaan Pendidikan Tinggi yang digelar Kamis, 22 Januari 2026 sore di Ruang Rektor Gedung Dr. (HC) Ir. Soekarno lantai 1.
FGD ini dipimpin langsung Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, didampingi para wakil rektor, dekan dan wakil dekan, Kepala SPI, serta Ketua LP2M. Dua narasumber strategis dihadirkan, yakni Dr. H. Muhammad Ainul Yaqin, S.Sy., M.AP selaku Tenaga Ahli Menteri Agama bidang Hubungan Antar Kelembagaan dan Dr. M. Munir, S.Ag., MA, Direktur Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kementerian Agama RI.
Dalam sambutan singkat namun padat, Prof. Ilfi menekankan bahwa UIN Maliki Malang memiliki keunikan yang tidak dimiliki 58 PTKIN lainnya, yaitu sistem ma’had yang terintegrasi langsung dengan fakultas. Model ini dinilai efektif membentuk karakter religius mahasiswa secara utuh.
“Fakta survei menunjukkan mahasiswa UIN Maliki Malang tidak hanya kuat pemahaman keagamaannya, tetapi juga memiliki sikap moderat. Ini menjadi kebanggaan kampus dan juga Kementerian Agama,” ujarnya.
Meski demikian, Prof. Ilfi mengakui masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Di antaranya penambahan gedung ma’had serta pembangunan rumah sakit pendidikan sebagai penopang mutu akademik dan daya saing global kampus.
“Jika UIN Maliki Malang mendapat tambahan gedung ma’had, tentu jumlah mahasiswa baru bisa ditingkatkan. Seluruh mahasiswa baru wajib tinggal di ma’had selama satu tahun,” jelasnya.
Direktur PAI Ditjen Pendis Kemenag RI, M. Munir, menilai UIN Maliki Malang berada pada posisi yang menantang sekaligus strategis. Di satu sisi, kampus dituntut meningkatkan kualitas lulusan. Di sisi lain, ada dorongan kuat untuk memperbesar jumlah mahasiswa baru, persoalan yang juga dialami PTNBH maupun BLU.
Menurutnya, sistem ma’had justru menjadi pembeda utama UIN Maliki Malang dalam menjaga mutu lulusan. “Ini instrumen penting untuk penjaminan kualitas. Tekanan pada input mahasiswa yang besar memang berisiko, tetapi UIN Maliki Malang punya mekanisme pengendali,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kepemimpinan rektor dalam membaca peluang. “Saya melihat kecerdasan rektor UIN Maliki Malang dalam mendorong minat calon mahasiswa. Mampu melihat celah dan mengolahnya menjadi kekuatan,” tuturnya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Kemenag bidang Hubungan Antar Kelembagaan, M. Ainul Yaqin, menyoroti persepsi masyarakat terhadap lulusan PTKIN. Selama ini, alumni PTKIN sering dianggap otomatis memiliki keilmuan keagamaan yang mendalam, padahal kenyataannya tidak selalu demikian, terutama bagi lulusan Fakultas Saintek dan rumpun keilmuan lain.
Namun, ia menegaskan lulusan PTKIN tetap harus memiliki kemampuan dasar keagamaan yang aplikatif di tengah masyarakat. “Kemampuan menjadi imam tahlil, khutbah Jumat, atau kegiatan religi lainnya setidaknya harus dikuasai,” tegasnya.
Lebih jauh, Ainul Yaqin mengingatkan pentingnya sikap adaptif mahasiswa dan lulusan PTKIN dalam membaca peluang nasional dan global. Isu pembukaan cabang Universitas Al-Azhar Kairo di Indonesia, menurutnya, tidak semestinya dipandang sebagai ancaman semata.
“Apakah ini akan menjadi momok bagi PTKIN, atau justru pemantik untuk memperkuat kualitas dan kepercayaan diri?” ujarnya, memancing diskusi.
FGD ini menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan arah pengembangan kelembagaan UIN Maliki Malang ke depan. Pesannya jelas, distingsi harus dijaga, kualitas harus diperkuat, dan tantangan global tidak boleh dihadapi dengan rasa cemas, melainkan dengan kesiapan dan strategi yang matang.



