MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengukuhkan 11 guru besar dalam Rapat Terbuka Senat yang digelar Selasa, 20 Januari 2026. Momen ini menjadi penanda kuat komitmen kampus dalam memperkuat mutu keilmuan sekaligus karakter pendidikan Islam yang berwawasan global.
Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si secara langsung memimpin prosesi pengukuhan. Sebelas guru besar yang dikukuhkan berasal dari beragam bidang strategis, mulai dari pendidikan, hukum, sastra, psikologi, hingga kajian Islam kontemporer.
Mereka adalah Prof. Dr. H. Abdul Bashith, M.Si bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Prof. Dr. H. Moh. Padil, M.Pd.I bidang Kebijakan Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. M. Faisol, M.Ag bidang Sastra Arab, Prof. Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd bidang Manajemen Mutu Pendidikan Islam, Prof. Dr. Danial Hilmi, S.Hum., M.Pd bidang Teknologi Pembelajaran Bahasa Arab, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam, Prof. Dr. Khoirul Hidayah, MH bidang Hukum Ekonomi, Prof. Dr. Siti Mahmudah, M.Si bidang Psikologi Sosial, Prof. Dr. Muhammad Asrori, M.Ag bidang Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Prof. H. Aunur Rofiq, Lc., M.Ag., Ph.D bidang Tafsir Tematik, serta Prof. Dr. H. M. Lutfi Mustofa, M.Ag bidang Pemikiran Islam Indonesia.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa menjadi guru besar di UIN Maliki Malang bukan sekadar capaian akademik, tetapi juga amanah besar. Ia menegaskan reputasi internasional kampus yang terus menguat, terlihat dari tingginya minat mahasiswa asing dari Eropa, Afrika, hingga Amerika, termasuk pendaftar program doktoral S2 dan S3.
“Kepercayaan dunia internasional itu tidak datang tiba-tiba. Kita juga satu-satunya PTKIN yang dipercaya pemerintah memperoleh pendanaan luar negeri bernilai hampir Rp1 triliun. Itu bukti bahwa UIN Maliki Malang diperhitungkan,” ujar Prof. Ilfi.
Menurutnya, awal 2026 menjadi masa “panen guru besar” yang diharapkan tidak berhenti pada gelar, tetapi melahirkan lompatan kemajuan pendidikan. Pendidikan berkualitas, kata dia, tidak cukup dengan transfer ilmu, melainkan harus melahirkan lulusan berkarakter, bermoral, dan memiliki nilai keislaman yang kuat.
Lebih jauh, Rektor mengajak para profesor melakukan refleksi. Apakah ilmu yang diajarkan benar-benar mengendap di hati mahasiswa, atau justru hilang sesaat setelah keluar kelas. Ia mengutip pesan Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar tentang pentingnya pembelajaran yang hidup, tidak berhenti pada retorika, tetapi hadir dengan hati.
“Apa yang keluar dari hati akan bersemayam lama di hati. Guru besar harus dekat dengan mahasiswanya, membangun relasi emosional, bukan sekadar menyampaikan materi,” ujarnya.
Rektor juga menekankan peran dosen di era kini yang tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendidik utuh. Menjadi murobbi, mursyid, sekaligus teladan akhlak. Integrasi ilmu dan Islam, membaca ayat qauliyah dan kauniyah, disebutnya sebagai kewajiban akademik dan spiritual di UIN Maliki Malang.
Pengukuhan ini menegaskan arah UIN Maliki Malang sebagai kampus yang tidak hanya mencetak sarjana dan doktor, tetapi menyiapkan calon pemimpin yang beriman, bertakwa, dan berilmu. Gelar profesor boleh berada di langit akademik, tetapi tanggung jawabnya harus tetap berpijak di bumi, dekat dengan mahasiswa dan realitas bangsa.



