Bedah Buku “The Future Society” di UIN Malang: Era AI Bukan Soal Mesin, Tapi Soal Manusia
Abadi Wijaya Jumat, 13 Februari 2026 . in Berita . 70 views

 

10787_b2.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Diskusi tentang kecerdasan buatan sering terdengar seperti obrolan teknisi. Namun suasana berbeda terasa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jumat,13 Februari 2026. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) yang dipimpin Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag menghadirkan dua penulis buku The Future Society, Ahmad Zainul Hamdi dan Rumadi Ahmad, dalam forum bedah buku yang membicarakan masa depan manusia.

Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si membuka kegiatan dengan mengingatkan bahwa perkembangan artificial intelligence tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak boleh disikapi secara gegabah.

10788_b3.jpg

Menurutnya, teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar menggantikan manusia. Kampus, katanya, memiliki tanggung jawab moral agar kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan kematangan hati manusia.

“Era AI harus menjadi era yang membantu manusia menjadi lebih baik, bukan sekadar lebih cepat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan generasi alfa yang tumbuh di tengah perubahan sangat cepat. Dunia kerja, lanjutnya, tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi kemampuan nyata. Perusahaan mencari kompetensi yang relevan, bukan sekadar gelar.

Menariknya, data global menunjukkan kebutuhan akan kemampuan manusia masih dominan. Sekitar 69 persen perekrutan di Asia Tenggara masih berbasis human skill, bukan AI skill. Artinya empati, komunikasi, etika, dan kreativitas tetap menjadi nilai yang tidak bisa diotomatisasi.

10786_b1.jpg

 

Karena itu perguruan tinggi perlu mengubah pola pikir. Lulusan tidak cukup hanya paham teori, tetapi harus memiliki kemampuan digital sekaligus keterampilan praktis yang terukur.

“Kampus harus memastikan lulusannya siap kerja, bukan hanya siap wisuda,” kata Ilfi sambil disambut tawa peserta.

Rektor juga berharap diskusi buku ini memantik imajinasi mahasiswa agar mampu beradaptasi cepat menghadapi dunia digital yang terus bergerak.

Sementara itu, Ahmad Zainul Hamdi menegaskan bahwa era disrupsi sudah tidak bisa dihindari. Masyarakat masa depan, menurutnya, sebenarnya sudah hadir melalui kehidupan digital sehari-hari.

Ia menyebut perubahan ini tidak jauh berbeda dengan transformasi besar dalam sejarah manusia. Dari era berburu menuju pertanian, manusia dulu juga mengalami keguncangan sosial.

“Sekarang kita mengalami hal yang sama. Bedanya hanya pada setting sosial dan perangkatnya,” jelasnya, merujuk pada pandangan Francis Fukuyama tentang perubahan peradaban.

Zainul menilai disrupsi tidak hanya terjadi pada ekonomi, tetapi juga pada ruang sosial dan bahkan praktik keagamaan. Teknologi robot berbasis AI akan semakin hadir dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya bukan lagi apakah itu terjadi, melainkan bagaimana manusia menyikapinya.

Rumadi Ahmad menambahkan, fondasi sosial dan moral kebudayaan justru menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi yang cepat. Buku The Future Society ia hadirkan sebagai upaya memberi pencerahan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengendali arah peradaban.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan kecanggihan mesin, melainkan kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya.

Bedah buku tersebut akhirnya menegaskan satu hal sederhana. Masa depan memang dipenuhi algoritma, robot, dan data besar. Namun arah peradaban tetap ditentukan oleh karakter manusia. AI mungkin bisa menulis puisi, tetapi keputusan hidup tetap berada di tangan manusia yang memegangnya.

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up