MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali meneguhkan reputasinya sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) unggulan di Indonesia. Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., dalam sambutannya pada acara Penganugerahan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pembangunan tiga gedung kampus UIN Malang, Minggu, 8 Februari 2026.
Di hadapan sivitas akademika dan para tamu undangan, Dirjen Pendis menilai UIN Malang menunjukkan performa kelembagaan yang konsisten dan menonjol dibandingkan PTKIN lainnya. Dari total 58 perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di bawah naungan Kementerian Agama, UIN Malang dinilai berhasil menghadirkan capaian-capaian strategis yang patut diapresiasi.
“Dari 58 IAIN yang ada, saya akui UIN Malang memiliki pencapaian-pencapaian unggul dibandingkan beberapa kampus lainnya,” ungkap Prof. Amin Suyitno.
Salah satu capaian yang menjadi sorotan utama adalah keberhasilan UIN Malang sebagai satu-satunya PTKIN di Indonesia yang memperoleh pendanaan dari "Saudi Fund for Development." Menurut direktur jenderal pendidikan islam kementerian agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., Dukungan tersebut tidak hanya bermakna finansial, tetapi juga merepresentasikan tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap visi pengembangan, tata kelola, serta kualitas akademik institusi.
“Saudi Fund hanya diberikan kepada UIN Malang. Ini menunjukkan adanya pengakuan internasional terhadap arah pembangunan dan kualitas pengelolaan kampus ini,” tegasnya.
Prof. Amin berharap capaian UIN Malang dapat menjadi inspirasi bagi PTKIN lainnya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat identitas keilmuan, serta berani melangkah menuju standar global. Ia menekankan bahwa penguatan institusi tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia, tata kelola, dan visi keilmuan yang berkelanjutan.
Reporter : Faiqotul Himmah



