MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dan Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar kegiatan seminar bertajuk “Love and Brain: Memahami Luka Emosional dalam Hubungan” pada Kamis, 6 Maret 2026 di Auditorium Microteaching Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari launching short movie Retak yang mengangkat isu kekerasan seksual di kalangan mahasiswa.
Seminar ini menghadirkan narasumber Fuji Astutik yang membahas secara ilmiah hubungan antara cinta, emosi, dan cara kerja otak manusia. Ia menyampaikan bahwa topik mengenai hubungan antara cinta dan otak masih jarang dibahas, padahal keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam kehidupan manusia, khususnya pada fase perkembangan usia muda.
Dalam pemaparannya, Fuji Astutik menjelaskan bahwa pada usia sekitar dua puluh tahun ke atas, manusia berada pada fase perkembangan di mana perhatian dan relasi dengan lawan jenis mulai menjadi fokus utama. Hal ini berkaitan dengan proses psikologis dan biologis yang mempersiapkan seseorang untuk menjalin hubungan yang lebih kompleks di masa depan, termasuk pernikahan.
Ia juga menyinggung fenomena fatherless atau kurangnya figur ayah yang sering dikaitkan dengan kerentanan emosional seseorang dalam menjalin hubungan. Namun menurutnya, bukan hanya individu yang jauh dari orang tua yang berpotensi mengalami masalah emosional, melainkan siapa pun dapat menjadi korban jika tidak memahami makna cinta secara sehat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah seni yang membutuhkan pengetahuan, perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan komitmen. Banyak orang, menurutnya, hanya menonjolkan sisi perasaan dan gairah, tetapi mengabaikan unsur tanggung jawab serta komitmen yang seharusnya menjadi bagian penting dalam hubungan.
“Pacaran sering dianggap sebagai bentuk komitmen, padahal sebenarnya tidak selalu demikian. Komitmen yang sesungguhnya menuntut tanggung jawab yang jelas,” jelasnya di hadapan peserta seminar.
Dalam perspektif ilmiah, Fuji Astutik juga menjelaskan bahwa rasa cinta berkaitan erat dengan aktivitas otak. Saat seseorang jatuh cinta, otak melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan perasaan bahagia dan euforia, bahkan memicu reaksi yang mirip dengan efek kecanduan.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme saraf cinta romantis terjadi pada bagian otak seperti ventral tegmental area dan nukleus caudate. Hormon dopamin yang dilepaskan membuat seseorang merasa sangat bahagia, bahkan dapat memicu rasa takut kehilangan pasangan.
Menariknya, respon cinta pada laki-laki dan perempuan juga berbeda. Pada laki-laki, jatuh cinta sering memicu keinginan untuk lebih terikat dengan pasangan, sementara pada perempuan rasa cinta cenderung memberikan efek menenangkan dan mengurangi stres.
Menurutnya, kondisi inilah yang membuat orang yang sedang jatuh cinta sering sulit menerima nasihat dari orang lain. Aktivitas otak yang terus memicu rasa bahagia membuat individu cenderung mempertahankan hubungan, bahkan dalam situasi yang tidak sehat.
“Dalam beberapa kasus kekerasan dalam hubungan, seseorang tetap bertahan karena cinta dapat menciptakan kecanduan alami yang dipicu oleh hormon dalam tubuh,” ungkapnya.
Di akhir pemaparannya, Fuji Astutik menegaskan bahwa cinta sejati seharusnya mampu menyembuhkan luka, bukan justru menjadi penyebab luka yang berkepanjangan. Cinta yang sehat adalah cinta yang melindungi, menjaga, dan menghargai pasangan, bukan hubungan yang hadir hanya untuk menyakiti atau meninggalkan luka emosional.
Seminar ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa memahami cinta tidak cukup hanya dengan perasaan, tetapi juga membutuhkan kesadaran diri, pengetahuan, serta kemampuan mengelola emosi dalam hubungan.
Reporter: Amelia Dea Divanda
Fotographer : Moh Nurul Azmi



