Stadium General UIN Malang: Gus Ipang Tegaskan Perception Engineering sebagai Kunci Transformasi Keislaman Menuju Indonesia Emas 2045
Abadi Wijaya Rabu, 4 Maret 2026 . in Berita . 76 views

 

10847_a.jpg

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Stadium General pada Rabu, 4 Maret 2026, bertempat di Auditorium Gedung B Lantai 4 Pascasarjana. Mengusung tema “Perception Engineering dalam Pengembangan Maliki Islamic University Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka”, kegiatan ini menghadirkan Irfan Wahid (Gus Ipang) sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya bertajuk “Perception Engineering sebagai Game Changer Transformasi Keislaman di Era Hyper Digital”, Gus Ipang menegaskan bahwa masa depan peradaban, termasuk transformasi keislaman, sangat ditentukan oleh bagaimana persepsi dibangun dan dikelola di ruang digital.

Ia menyebut momentum ini sebagai momen membahagiakan di bulan Ramadan. Dengan gaya santai, ia bercerita menjadi pembicara yang “ditemani ibunya”, sekaligus mengajak audiens membayangkan Indonesia Emas 2045 di tengah lompatan teknologi Artificial Intelligence generatif. “Satu tahun saja kita sulit memprediksi perubahan, apalagi 2045,” ujarnya.

Menurutnya, di era digital, fakta sering kali kalah oleh persepsi. Ia mencontohkan bagaimana isu global seperti Palestina dan narasi persatuan Islam membentuk common enemy dan common feeling Ketika dua hal itu bersatu, perbedaan menjadi tidak relevan dan opini publik dapat terbentuk dengan sangat cepat.

Gus Ipang juga memaparkan karakter netizen masa kini:65% audiens memutuskan menonton atau tidak dalam 3 detik pertama,  Hook kuat dalam 5 detik pertama dapat meningkatkan durasi tontonan hingga 70%.

Konten emosional lebih banyak ditonton dibanding non-emosional, Gen Z (18–24 tahun) rata-rata fokus 8 detik, milenial 12 detik,  TikTok dan YouTube kini menjadi mesin pencari generasi muda. Ia menyinggung fenomena post-truth era, ketika yang terpenting bukan lagi akurat atau tidak, melainkan sesuai atau tidak dengan keyakinan pribadi. Dalam konteks ini, ia menjelaskan konsep echo chamber situasi ketika seseorang terus-menerus terpapar informasi yang memperkuat pandangannya sendiri akibat algoritma media sosial.

Tantangannya, kata Gus Ipang, adalah bagaimana menggeser echo chamber negatif menjadi positif. Strateginya harus berbasis data, empati, dan pengemasan pesan yang relevan bagi audiens. Ia menegaskan bahwa isu viral belum tentu organik, dan hoaks sering kali dibuat bukan sekadar menyebarkan kebohongan, tetapi demi engagement.

Namun, perception engineering bukanlah manipulasi. Ia menjelaskan tiga poros utama dalam pendekatan ini yaitu : 

1. Kesadaran Eksternal (Poros X) Empati dalam komunikasi, berbicara dari sudut pandang audiens, bukan ego komunikator.

2. Kesadaran Internal (Poros Y)Melatih diri agar tidak mudah percaya, marah, atau menyimpulkan tanpa tabayyun; kritis terhadap sumber dan framing informasi.

3. Kematangan Karakter (Poros Z) Terbentuknya pribadi yang tidak mudah tersulut, tidak haus validasi, dan tenang dalam konflik.

Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama makna, adab, dan kehati-hatian. Karena itu, perception engineering dalam perspektif filosofis justru menghidupkan nilai tabayyun, empati, serta manajemen emosi kolektif di tengah lanskap hyper digital.

“Komunikasi tidak boleh kehilangan adabnya,” tegasnya menutup sesi.

Stadium General ini menjadi refleksi strategis bagi sivitas akademika dalam merancang langkah menuju Indonesia Emas 2045 bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan transformasi karakter dan kedewasaan berpikir.

Reporter: Amelia Dea Divanda

Fotografer: Moh. Nurul Azmi

 

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up