MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertema “Transformasi Akademik dan Non Akademik dalam Mencapai Reputasi Internasional” pada Selasa (18/11) di Ruang Rektor UIN Malang. Kegiatan ini menghadirkan Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin sebagai pembicara utama serta diikuti oleh jajaran pimpinan universitas.
Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa reputasi internasional harus berjalan seiring dengan keberdampakan sosial kampus terhadap masyarakat sekitar serta penguatan identitas keilmuan Islam. “Reputasi internasional itu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana keberadaan UIN Malang memberi keberdampakan nyata bagi masyarakat sekitar. Di sinilah peran pendidikan dan dakwah harus berjalan seimbang,” ujarnya.
Prof. Ilfi juga menekankan bahwa keberhasilan perguruan tinggi Islam tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kontribusi kampus dalam membentuk masyarakat yang religius dan berkarakter.
FGD berlangsung dinamis dengan para wakil rektor berpartisipasi aktif menyampaikan strategi transformasi sesuai bidang masing-masing, mulai dari peningkatan mutu penelitian, penguatan kompetensi mahasiswa, transformasi digital, hingga perluasan jejaring internasional.
Sementara itu, dalam pemaparan materinya, K.H. Lukman Hakim Saifuddin menyoroti pentingnya motivasi baru dan arah yang jelas bagi PTKIN. “Ini sesuatu yang menurut saya punya nilai positif karena umumnya kalau kita ada sesuatu yang baru terdapat motivasi baru untuk menjadi lebih baik. Jadi ini adalah momentum tersendiri, bagaimana ke depan dari sisi roadmap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagaimana UIN Malang ini mendapatkan rekognisi dan pengakuan internasional.”
Beliau juga menekankan pentingnya kejelasan orientasi kampus: “Sebagai PTKIN, UIN Malang harus tahu tujuannya apakah mau menciptakan atau mengikuti pasar.”
Menurutnya, orientasi yang jelas akan membantu kampus dalam memperkuat riset unggulan, merancang kurikulum yang adaptif, memperluas kolaborasi global, dan menghadirkan inovasi akademik yang relevan dan berdaya saing internasional.
FGD ini diharapkan menjadi pijakan strategis dalam menyusun langkah transformasi UIN Malang menuju perguruan tinggi berkelas dunia yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama para Kepala Madrasah se-Jawa Timur dalam Forum Group Discussion guna memperkuat sinergi pendidikan madrasah dan perguruan tinggi.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Guru Bimbingan Konseling (BK) se-Jawa Timur. Kegiatan strategis ini digelar di Gedung Arrohim, Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pada Selasa, 18 November 2025. FGD ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan madrasah sebagai mitra utama dalam mencetak generasi calon mahasiswa yang unggul.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan urgensi kolaborasi erat antara madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk merespons dinamika kebutuhan peserta didik yang kian kompleks di era modern.
Turut hadir dalam forum tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Dr. Sugiyo, M.Pd., yang memberikan penekanan pada peran vital guru BK dan kepala madrasah. Menurutnya, mereka adalah garda terdepan yang memiliki tanggung jawab besar dalam memetakan potensi serta mengarahkan masa depan siswa menuju jenjang pendidikan yang tepat.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, memberikan pengarahan yang menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa UIN Malang tidak hanya sekadar membuka pintu penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga membuka ruang komunikasi dua arah bagi para pendidik yang mengantarkan mereka.
Rektor secara khusus meminta masukan riil dari para peserta mengenai kendala yang dihadapi siswa di lapangan. “Diharapkan dengan FGD ini, Bapak/Ibu punya kebutuhan dan keinginan seperti apa? Kami ingin mendengar keluhan anak didik Bapak/Ibu sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti apa? Harapannya untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang apa? Sehingga kami bisa memenuhi kekurangan dan keinginan dari anak didik Bapak/Ibu sekalian,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan komitmen UIN Malang untuk mengidentifikasi tantangan, keluhan, serta harapan siswa madrasah secara langsung dari sumbernya, yakni guru BK dan kepala madrasah. Langkah ini diambil agar proses transisi siswa dari madrasah menuju perguruan tinggi dapat berlangsung lebih mulus dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
FGD ini dirancang bukan hanya sebagai forum penyampaian informasi satu arah, melainkan ruang dialog interaktif. UIN Malang memanfaatkan kesempatan ini untuk memaparkan perkembangan terkini terkait layanan akademik, kemahasiswaan, dan kurikulum, serta kesiapan kampus menghadapi tantangan pendidikan modern.
Di sisi lain, para kepala madrasah dan guru BK diberikan kesempatan luas untuk menyampaikan temuan lapangan. Berbagai isu dibahas, mulai dari kecemasan siswa dalam menentukan jurusan, kesiapan akademik, hingga aspek pembinaan karakter dan spiritual yang selama ini menjadi kekuatan pendidikan madrasah.
Melalui penyelenggaraan FGD yang dihadiri puluhan peserta ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap dapat menumbuhkan kerja sama strategis yang lebih erat dan berkelanjutan dengan madrasah di seluruh Jawa Timur. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang harmonis dari hulu ke hilir, demi melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, spiritual, dan sosial. (af)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan madrasah melalui penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Kepala Madrasah dan Guru BK MAN se-Jawa Timur. Kegiatan ini digelar pada Selasa, 18 November 2025 di Gedung Arrohim, Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan menjadi ruang dialog strategis antara perguruan tinggi dan madrasah sebagai mitra utama dalam mencetak generasi calon mahasiswa.
FGD ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara madrasah dan perguruan tinggi negeri keagamaan Islam dalam merespons dinamika kebutuhan peserta didik yang semakin kompleks.
Turut hadir Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Dr. Sugiyo, M.Pd., yang memberikan penekanan mengenai peran guru BK dan kepala madrasah sebagai garda terdepan dalam memetakan potensi serta arah masa depan siswa.
Pada kegiatan ini, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si memberikan pengarahan sekaligus sorotan utama terkait pentingnya pemetaan kebutuhan madrasah dan peserta didiknya. Rektor menegaskan bahwa UIN Malang tidak hanya membuka pintu bagi calon mahasiswa, tetapi juga membuka ruang komunikasi bagi para pendidik yang mengantarkan mereka. “Diharapkan dengan FGD ini, Bapak/Ibu punya kebutuhan dan keinginan seperti apa untuk seperti apa? Kami ingin mendengar keluhan anak didik Bapak/Ibu sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti apa? Harapannya untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang apa? Sehingga kami bisa memenuhi kekurangan dan keinginan dari anak didik Bapak/Ibu sekalian.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa UIN Malang berkomitmen untuk mengidentifikasi tantangan, keluhan, serta harapan siswa madrasah agar proses transisi menuju perguruan tinggi berlangsung lebih baik. Rektor juga menekankan pentingnya masukan dari guru BK karena mereka berperan langsung dalam membimbing siswa menentukan jalur pendidikan lanjutan.
FGD ini tidak hanya menjadi forum berbagi keluhan dan harapan, tetapi juga kesempatan bagi UIN Malang untuk menyampaikan perkembangan terkini dalam layanan akademik, kemahasiswaan, dan kurikulum. Para peserta memperoleh gambaran mengenai kesiapan kampus dalam menghadapi tantangan pendidikan modern serta program-program unggulan yang relevan dengan kebutuhan siswa madrasah.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., bersama para Kepala Madrasah se-Jawa Timur dalam Forum Group Discussion guna memperkuat sinergi pendidikan madrasah dan perguruan tinggi.
Selain itu, forum ini menjadi ruang dialog dua arah. Para kepala madrasah dan guru BK diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai temuan lapangan, mulai dari kecemasan siswa dalam menentukan jurusan, kesiapan akademik, hingga aspek karakter dan pembinaan spiritual yang selama ini menjadi kekuatan madrasah.
Melalui penyelenggaraan FGD ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan harapannya untuk terus menumbuhkan kerja sama strategis yang lebih erat dengan madrasah di seluruh Jawa Timur. Sinergi ini diharapkan dapat menghasilkan ekosistem pendidikan yang harmonis, mulai dari tingkat madrasah hingga perguruan tinggi, sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, spiritual, dan sosial.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY -UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Transformasi Akademik dan Non Akademik dalam Mencapai Reputasi Internasional” pada 18 November 2025 di Ruang Rektor, dengan menghadirkan Dr. K.H. (HC) Lukman Hakim Saifuddin—Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019—sebagai narasumber utama. FGD ini menjadi momentum penting bagi UIN Malang dalam merumuskan arah transformasi sekaligus memperkuat roadmap internasionalisasi kampus.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan bahwa visi reputasi internasional tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi harus diwujudkan melalui keberdampakan nyata terhadap masyarakat sekitar. Beliau menekankan pesan Menteri Agama yang selalu relevan bagi PTKI, seraya menyampaikan,
“Bukan sebatas reputasi internasional, tetapi juga keberdampakan PTKI di bawah naungan Kementerian Agama, sesuai dengan pesan Menteri Agama ‘Bagaimana di sekitar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu masyarakatnya religius, kalau tidak religius berarti belum berhasil meskipun sudah reputasi internasional.” Pernyataan ini menegaskan bahwa reputasi global harus berakar pada kekuatan moral, spiritual, dan transformasi sosial di lingkungan terdekat kampus.
Pada kesempatan tersebut, Dr. K.H. (HC) Lukman Hakim Saifuddin memberikan pandangan strategis mengenai pentingnya menjadikan transformasi ini sebagai momen pembaruan semangat institusi. Ia menyampaikan,
“Ini sesuatu yang menurut saya punya nilai positif karena umumnya kalau kita ada sesuatu yang baru terdapat motivasi baru untuk menjadi lebih baik. Jadi ini adalah momentum tersendiri, bagaimana ke depan dari sisi roadmap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagaimana UIN Malang ini mendapatkan rekognisi dan pengakuan internasional.”
Beliau juga menambahkan pentingnya kejelasan arah bagi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, dengan menegaskan,
“Sebagai PTKIN, UIN Malang harus tahu tujuannya apakah mau menciptakan atau mengikuti pasar.” Menurutnya, kejelasan orientasi ini akan menentukan strategi institusi dalam memperkuat riset unggulan, merumuskan kurikulum adaptif, meningkatkan kolaborasi global, dan menghadirkan inovasi akademik yang relevan sekaligus berdaya saing internasional.
FGD ini diikuti secara aktif oleh seluruh pimpinan universitas, termasuk para Wakil Rektor, para Kepala Biro, para Dekan dan Direktur Pascasarjana, para Ketua Lembaga, Ketua Senat, Kepala Unit Pelaksana Teknis, serta para Ketua Tim Kerja. Keterlibatan mereka menghasilkan diskusi konstruktif mengenai penguatan kurikulum berorientasi internasional, peningkatan budaya akademik, pemenuhan standar mutu global, hingga pengembangan layanan non-akademik yang mendukung atmosfer kampus berkelas dunia.
Melalui forum ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mempertegas komitmennya untuk melakukan transformasi menyeluruh—akademik, non-akademik, tata kelola, digital, hingga penguatan karakter keislaman—sebagai langkah strategis dalam mewujudkan visi sebagai perguruan tinggi Islam bereputasi internasional yang memberikan dampak luas bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Batu — Salah satu fasilitator utama Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, Dr. KH. Marzuki Wahid, mengajak para peserta menyelami cara baru memahami persoalan sosial melalui teori analisis gunung es dan U Theory. Materi ini disampaikan dalam sesi yang berlangsung pada Selasa 18 November 2025, dan langsung menyita perhatian para peserta karena memberikan sudut pandang mendalam terhadap akar masalah dalam dinamika sosial.
Dalam pemaparannya, Dr. Marzuki menjelaskan bahwa seseorang biasanya merespons masalah melalui empat level: reacting, redesigning, reframing, hingga regenerating. Keempat level ini menjadi bagian penting dalam U Theory yang dikembangkan Otto C. Scharmer dari Presencing Institute.
“Pendekatan ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat masalah dari permukaan, tetapi menyelami apa yang terjadi di baliknya,” jelasnya.
Dr. Marzuki juga memperkenalkan konsep system thinking sebagai cara pandang dalam memahami elemen-elemen pembentuk sistem, baik dalam ekosistem sosial maupun organisasi.
Menurutnya, system thinking adalah metode penting untuk mengurai masalah dengan cara menanyakan elemen apa saja dalam sistem yang memengaruhi suatu peristiwa?
“Setiap peristiwa dalam realitas sosial tidak boleh hanya dilihat dari apa yang tampak. Kita harus memahami elemen-elemen yang bekerja di baliknya,” ungkapnya.
Mengaitkan teori gunung es dengan fenomena sosial, Dr. Marzuki memberi contoh ekstrem: kasus bom bunuh diri. Ia menegaskan bahwa yang terlihat—yakni tindakan ledakan itu sendiri—hanya 10 persen dari keseluruhan persoalan. Sementara 90 persen lainnya berada di bawah permukaan, terdiri dari pola pikir, doktrin, relasi sosial, hingga lemahnya kontrol.
“Fenomena bom bunuh diri itu tidak terjadi tiba-tiba. Ada sistem perilaku yang terstruktur, misalnya dari kajian keagamaan ekstrem yang dibiarkan tanpa pengawasan keluarga maupun penegak hukum,” tegasnya.
Di akhir sesi, Dr. Marzuki menekankan pentingnya kehadiran pendidik, khususnya para dosen UIN Malang, sebagai motor penggerak moderasi beragama. Fasilitator diharapkan mampu menanamkan cara berpikir yang lebih komprehensif, kritis, dan moderat kepada mahasiswa maupun masyarakat.
“Untuk menekan munculnya kasus-kasus ekstremisme, kita membutuhkan para fasilitator yang memahami proses, mampu membaca sistem, dan mendorong perubahan cara pandang menuju moderasi,” pungkasnya.
Kegiatan ToT ini menjadi ruang penting bagi para dosen muda UIN Malang untuk memperkuat kapasitas mereka dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Upaya memperkuat moderasi beragama di perguruan tinggi kembali ditegaskan dalam kegiatan pendampingan 30 dosen muda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dipersiapkan menjadi calon fasilitator moderasi beragama. Dalam sesi pelatihan tersebut, fasilitator ToT Moderasi Beragama, Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memberikan penekanan penting terkait sikap dasar yang harus dimiliki seorang fasilitator. Selasa, 18 November 2025. Menurut Dr. Iklilah, langkah pertama dalam memahami moderasi beragama adalah berani membenahi sifat egosentris dalam diri sendiri. “Jika mau mendiskusikan moderasi beragama maka yang harus dibenahi adalah sifat egosentris yang ada dalam diri sendiri,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa sifat dominatif yang selama ini melekat pada sebagian dosen saat mengajar tidak boleh dibawa dalam konteks fasilitasi. “Dosen terbiasa mendominasi kelas. Namun, sebagai fasilitator moderasi beragama, seseorang harus mampu mengontrol dominasi diri dan memastikan tidak ada peserta yang diabaikan,” jelasnya.
Dr. Iklilah memaparkan beberapa kompetensi penting yang wajib dimiliki seorang calon fasilitator, antara lain pandangan keagamaan yang moderat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan komunikasi efektif, termasuk kemampuan memfasilitasi diskusi konstruktif. Kesabaran dan empati, untuk memahami perbedaan pendapat serta menangani konflik dengan bijak. Pengetahuan memadai tentang moderasi beragama, sehingga dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Kemampuan mengelola forum, termasuk mendorong partisipasi aktif semua peserta. Pengaruh signifikan di komunitas kampus, sehingga mampu menggerakkan guru, dosen, maupun mahasiswa dalam menerapkan nilai moderasi.
Tidak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya kemampuan teknologi informasi, mengingat peran teknologi dalam pembelajaran dan komunikasi semakin krusial. Selain kompetensi inti tersebut, seorang fasilitator moderasi beragama juga diharapkan memiliki kualifikasi pendukung, seperti respek terhadap peserta dan mampu menjaga suasana belajar yang inklusif. Kemampuan berbicara yang jelas dan menarik, sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemampuan mendengarkan secara aktif, memahami kebutuhan peserta, dan membaca dinamika forum. Kemampuan membangkitkan antusiasme peserta agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. “Selain itu, open mind harus dimiliki oleh fasilitator moderasi beragama, karena di sini dibutuhkan rasa simpati dan empati terhadap persoalan yang terjadi di lapangan,” tegas Dr. Iklilah.
Kegiatan pendampingan ini diharapkan mampu melahirkan fasilitator moderasi beragama yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga bijak, empatik, dan responsif terhadap keragaman di tengah masyarakat.
KERJASAMA: Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang Drs. H. Basri, MA., Ph.D dan Kepala Pusbangkom Dr. Musyarrafah Amin menunjukkan dokumen MoU yang telah di tandatangani kedua belah pihak.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Di tengah berlangsungnya kegiatan Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menandatangani nota kerjasama dengan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI. Penandatanganan yang digelar pada Senin, 17 November 2025, di Hotel Onsen, Kota Batu, ini menjadi momentum penting dalam penguatan komitmen moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi. Acara penandatanganan MoU tersebut dihadiri langsung Kepala Pusbangkom, Dr. Musyarrafah Amin, dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang, Drs. H. Basri, MA., Ph.D. dan disaksikan langsung oleh Ketua LP2M UIN Malang Dr. Isroqunnajah, M.Ag. Kedua pihak sepakat memperkuat sinergi dalam penyelenggaraan ToT Penguatan Moderasi Beragama yang akan menjadi program strategis dalam meningkatkan kompetensi dosen dan sivitas akademika.
Dalam MoU tersebut, disepakati bahwa kerjasama ini bertujuan untuk menghadirkan pelatihan berbasis pemanfaatan sumber daya manusia dari kedua institusi, sehingga kegiatan ToT dapat berjalan lebih efektif, komprehensif, dan berkelanjutan. Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan para trainer dalam menyampaikan materi moderasi beragama secara tepat, kontekstual, dan sesuai kebutuhan zaman. Peserta ToT difokuskan pada dosen aktif di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Namun, sesuai regulasi yang berlaku, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi pejabat fungsional maupun pejabat struktural untuk mengikuti pelatihan, sehingga pemahaman moderasi beragama dapat terdistribusi secara lebih luas di berbagai lini. Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi langkah maju dalam memperkokoh nilai-nilai moderasi beragama di kampus sekaligus memperluas dampaknya ke masyarakat. Dengan kolaborasi antara UIN Malang dan Kementerian Agama RI, penguatan moderasi beragama diharapkan dapat menjadi gerakan bersama yang lebih sistematis, terukur, dan berkesinambungan.
Kepala SPI UIN Malang Dr. H. Ridwan, M.Pd.I (dua dari kiri) saat mengikuti diklat khusus dan uji kompetensi sebagai peserta terfavorit.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY—Langkah strategis kembali ditempuh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperkuat tata kelola internal kampus. Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI), Dr. Ridwan, S.Ag., M.Pd.I resmi menyelesaikan Pendidikan dan Pelatihan Khusus Kepala SPI yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) pada 13–17 November 2025. Rangkaian pelatihan ini ditutup dengan Ujian Kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Internal (LSPAI) pada 18 November 2025.
Pelatihan intensif tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi strategis Kepala SPI, mulai dari manajemen audit, pengendalian internal, identifikasi dan mitigasi risiko, hingga penguatan tata kelola lembaga pendidikan tinggi. Program ini menjadi wujud keseriusan kampus dalam memastikan pejabat pengawasan memiliki kemampuan profesional sesuai standar nasional.
Dr. Ridwan menegaskan bahwa diklat ini tidak hanya menjadi kewajiban regulatif, tetapi juga kebutuhan untuk menghadapi tantangan pengawasan di era tata kelola modern. “Penguatan kompetensi SPI adalah kunci untuk memastikan kampus berjalan dalam koridor akuntabilitas dan transparansi. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi kelembagaan,” ungkapnya.
Upaya peningkatan kompetensi ini sejalan dengan kerangka hukum yang mengatur sistem pengawasan pemerintah, seperti Permenag No. 25 Tahun 2017 tentang SPI, PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP, serta Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI). Seluruh regulasi tersebut secara tegas menuntut pejabat pengawasan memiliki sertifikasi dan kemampuan teknis yang memadai.
Dengan terselenggaranya diklat dan ujian kompetensi ini, SPI UIN Malang meneguhkan komitmennya untuk terus memperkuat integritas institusi. Kampus berjuluk “Kampus Ulul Albab” itu memastikan bahwa seluruh proses tata kelola berjalan bersih, transparan, dan akuntabel melalui peningkatan kualitas SDM strategisnya.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari agenda besar UIN Malang dalam menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang memenuhi standar nasional sekaligus menjawab tuntutan akuntabilitas publik secara berkelanjutan.
KHARISMATIK: Dr. Izzuddin (dua dari kanan) saat sowan ke dalem Kiai Asep menyerahkan undangan halaqah ulama se Jatim di UIN Maliki Malang. Selasa, 18 November 2025.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY--Menjelang perhelatan besar Halaqah Ulama se-Jawa Timur yang akan digelar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menugaskan Dr. A. Izzudin, M.HI. beserta tim untuk melakukan sowan khusus ke kediaman Kiai Haji Asep Saifuddin Chalim, ulama khos yang dihormati di Jawa Timur. Sowan ini menjadi ikhtiar penting untuk menyampaikan undangan sekaligus memohon doa restu bagi suksesnya agenda besar tersebut.
Kiai Asep bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan putra bungsu KH Abdul Chalim, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pejuang kemerdekaan, bersama ibunya Nyai Hj. Qana’ah. Nasab keulamaannya yang kuat seolah menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan panjangnya sebagai figur penting dalam pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia.
Perjalanan hidup Kiai Asep adalah kisah keteguhan yang sulit ditandingi. Ia menempuh rihlah keilmuan dari satu kota ke kota lain—Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bandung, Jakarta, Banten, hingga Palembang—sebelum akhirnya bermukim di Surabaya. Demi tetap bertahan hidup dan bisa terus belajar, ia bahkan pernah bekerja sebagai 'kuli bangunan'. Namun tekad menuntut ilmunya tak pernah padam.
Ia menimba ilmu dari berbagai pesantren besar di Indonesia, mulai dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Pesantren Sono dan Siwalanpanji Sidoarjo, Gempeng Bangil, Darul Hadir Malang, hingga Pesantren Sidosermo Surabaya.
Meski pendidikannya sempat tersendat setelah sang ayah wafat ketika ia masih SMA, Kiai Asep tetap melanjutkan studi hingga akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Merdeka Malang pada 2004.
Tahun 1988 menjadi titik balik penting ketika Kiai Asep mendirikan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto. Dengan kesederhanaan dan tanpa bantuan pemerintah, ia dan istrinya membangun pesantren ini setapak demi setapak, hingga menjelma menjadi institusi pendidikan Islam modern yang diakui nasional maupun internasional.
Pondok ini dikenal dengan disiplin spiritual para santrinya—mulai dari qiyamul lail pukul 03.00 hingga tadarus rutin sebelum dan sesudah Subuh. Kedisiplinan ini berbanding lurus dengan prestasi yang dicapai.
Tahun ini saja, 1.237 santri Amanatul Ummah berhasil masuk PTN ternama seperti ITB, UI, UGM, IPB, ITS, Unair, Undip, STAN, dan UIN. Tak hanya itu, puluhan santri lainnya diterima di kampus luar negeri, mulai dari AS, Rusia, Mesir, hingga Maroko. Sebanyak 62 santri bahkan lolos ke fakultas kedokteran, sebuah kebanggaan luar biasa bagi dunia pesantren.
Prestasi tersebut membuat Kiai Asep semakin diperhitungkan. Bahkan, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo pernah datang langsung ke pondoknya untuk membangun kerja sama pendidikan.
Selain di dunia pendidikan, Kiai Asep aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjadi pengurus PCNU Surabaya, Ketua MUI Surabaya, anggota DPRD Surabaya dari PKB, serta dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kiprahnya menegaskan peran ulama sebagai motor perubahan sosial.
Sowan tim UIN Malang ke kediaman Kiai Asep bukan sekadar agenda seremonial. Ini merupakan bentuk takzim kepada ulama khos sekaligus penanda bahwa kegiatan Halaqah Ulama se-Jatim di UIN Malang akan digelar dengan melibatkan tokoh-tokoh penting yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan keilmuan Islam dan pendidikan pesantren.
Dengan restu dan kehadiran para ulama besar seperti Kiai Asep, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap halaqah ini tidak hanya menjadi forum diskusi keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat jaringan ulama, memperkaya moderasi beragama, dan memperteguh komitmen membangun Jawa Timur sebagai pusat intelektual Islam yang inklusif dan berkemajuan.