Reporter: Azman Fawwazi
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Luthfiya Zulfatul Azizah, mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2022, berhasil meraih penghargaan sebagai Peserta Terbaik Regional Nusantara Putri 2 dalam program pembinaan beasiswa Rumah Kepemimpinan. Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan dalam rangkaian acara National Leadership Camp (NLC) yang berlangsung di Jakarta dan Depok pada 22–24 Agustus 2025.
Penghargaan ini merupakan apresiasi atas kinerja luar biasa Luthfiya selama menjalani masa pembinaan beasiswa pada semester kedua. Ia berhasil mengungguli peserta lain dari wilayah Regional Nusantara 2 yang mencakup kampus-kampus di Jawa Timur, Jawa Tengah, serta beberapa kampus di luar pulau Jawa. Capaian ini menjadi bukti nyata kualitas mahasiswa UIN Malang dalam program pengembangan kepemimpinan tingkat nasional.
Luthfiya menjelaskan bahwa penghargaan ini bukan didapat dari sebuah kompetisi sesaat, melainkan hasil dari proses panjang dan konsisten. Penilaian dilakukan secara objektif dan berbasis data pada setiap akhir semester oleh tim pusat Rumah Kepemimpinan. Evaluasi menyeluruh tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari penilaian rekan sejawat (peer assessment), penilaian publik (public assessment), penilaian diri sendiri (self-assessment), hingga penilaian langsung dari supervisor dan fasilitator.
"Bagi saya, kunci dalam menjalani masa pembinaan adalah kejujuran terhadap proses perkembangan diri. Saya belajar untuk terus reflektif, mencatat kemajuan, sekaligus mengakui kekurangan tanpa berusaha menutupi apa pun," ungkap Luthfiya. Ia menambahkan bahwa dirinya mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan konsisten mengikuti seluruh rangkaian pembinaan dan menyelesaikan setiap tantangan pengembangan diri yang diberikan.
Keberhasilannya meraih nilai tertinggi di wilayah timur tidak lepas dari prinsip hidup yang ia pegang teguh. Luthfiya mengaku selalu menjadikan prestasi rekan-rekannya sebagai motivasi, bukan sumber rasa minder (insecure). "Kalau orang lain bisa, kita pasti lebih bisa. Percayalah pada kemampuan diri, dan bandingkan diri hanya dengan dirimu yang kemarin, bukan dengan orang lain," tuturnya membagikan motivasi.
Rumah Kepemimpinan sendiri dikenal sebagai lembaga beasiswa dengan visi inkubator pemimpin Indonesia yang berfokus pada Intensive Youth Development Program Scholarship. Selama dua tahun masa pembinaan, para awardee seperti Luthfiya ditempa melalui kurikulum Development Journey yang komprehensif. Fokus pembinaannya mencakup empat pilar jati diri: muslim produktif, pribadi berkarakter, life skills, dan pemimpin berdampak.
Bagi Luthfiya, kepemimpinan adalah keterampilan dasar yang wajib dimiliki setiap individu, terlepas dari jabatan atau posisi. Ia memandang kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin orang banyak, tetapi lebih fundamental lagi, yaitu memimpin diri sendiri.
"Kepemimpinan justru bermula dari diri sendiri dan untuk diri sendiri. Dengan memiliki keterampilan kepemimpinan, kita mampu mengarahkan diri menuju hal-hal yang lebih baik, mengambil keputusan yang tepat, serta terus berkembang tanpa terjebak dalam zona nyaman," jelasnya.
Pandangan inilah yang mendorongnya untuk terus berprogres, sekecil apapun langkahnya. "Progres sekecil apa pun tetaplah progress, yang penting kita terus maju dan mau berkembang menjadi lebih baik," pungkas Luthfiya. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa UIN Malang lainnya untuk aktif mengembangkan diri dan berani bersaing di kancah nasional. (af)
Reporter: Muh. Noaf Afgani
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A., hadir memberikan materi dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Moderasi Beragama yang diikuti 30 dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kehadiran Prof. Sahiron disambut antusias oleh para peserta yang tengah memperdalam pemahaman tentang penerapan nilai-nilai moderasi di lingkungan kampus. Rabu, 19 November 2025.
Dalam pemaparannya, Prof. Sahiron menegaskan bahwa kehidupan sosial tidak boleh diwarnai kekerasan. Menurutnya, setiap individu, terutama yang hidup dalam masyarakat majemuk, harus membangun kekuatan ruhani dan kejernihan akal agar mampu menciptakan harmoni.
Ia menekankan bahwa moderasi beragama bertumpu pada empat dasar sikap, yakni Toleransi, Anti-kekerasan, Penghormatan terhadap budaya lokal, dan Komitmen kebangsaan.
"Hanya empat poin ini saja landasan dasar moderasi beragama," ujarnya tegas.
Prof. Sahiron menjelaskan bahwa toleransi berarti menerima dan menghormati perbedaan keyakinan tanpa memaksakan kehendak kepada orang lain. Perbedaan tidak boleh dianggap sebagai ancaman, melainkan kenyataan sosial yang harus dihargai.
Ia menekankan bahwa orang yang toleran tidak berusaha mengubah keyakinan orang lain dengan cara-cara yang tidak etis, serta menghormati hak setiap individu untuk memiliki keyakinannya sendiri.
"Menghormati hak-hak orang lain untuk memiliki keyakinan dan tidak mengganggu mereka karena perbedaan tersebut," tegasnya.
Lebih lanjut ia mengajak peserta untuk bersikap terbuka, mau mendengarkan pandangan berbeda, dan menjauhi ekstremisme dalam bentuk apa pun. Kekerasan atas nama agama, katanya, tidak dapat dibenarkan.
"Jadilah orang yang selalu menebar kebaikan, karena itu ajaran agama yang universal," pesannya.
Prof. Sahiron menutup materinya dengan penegasan ayat Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 256, “La ikraha fid-din…” yang menandaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Setiap orang berhak menentukan keyakinannya tanpa intimidasi.
"Ayat ini menekankan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih agamanya sendiri. Tidak ada pemaksaan dalam agama," ungkapnya.
Kegiatan TOT Moderasi Beragama ini diharapkan mampu memperkuat peran dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan kepada mahasiswa, sehingga kampus dapat menjadi ruang yang inklusif, damai, dan berkeadaban.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, M.Si., hadir sebagai salah satu tokoh penting dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang digelar di Graha Universitas Negeri Surabaya. Konferensi yang berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 November 2025 ini menjadi momentum strategis bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan tinggi di Indonesia untuk menyatukan langkah menuju pembangunan sumber daya manusia unggul.
Tahun ini, KPPTI mengangkat tema besar “Kampus Berdampak: Konsolidasi dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang menekankan pentingnya peran transformasional perguruan tinggi dalam ekosistem nasional. Prof. Ilfi Nur Diana hadir bersama ratusan pemimpin perguruan tinggi dari berbagai kategori, menunjukkan komitmen UIN Malang dalam mendorong inovasi, riset, serta penguatan jejaring kolaboratif nasional maupun internasional.
Pembukaan konferensi dilakukan pada Rabu pagi dengan khidmat, disaksikan oleh jajaran pimpinan PTN, PTS, perguruan tinggi kedinasan (PTKL), perguruan tinggi luar negeri yang beroperasi di Indonesia (PTLN), LLDikti, dosen, tenaga pendidik, pemerhati pendidikan tinggi, industri, asosiasi profesi, mahasiswa, organisasi mahasiswa, ikatan alumni, mitra internasional, hingga diaspora Indonesia di luar negeri. Hadir pula media nasional dan internasional yang meliput jalannya kegiatan.
KPPTI 2025 sendiri diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemdiktisaintek bersama Dewan Pendidikan Tinggi (DPT). Pelaksanaan konferensi melibatkan berbagai institusi utama, seperti Forum Rektor Indonesia, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), serta kolaborator strategis lain dari sektor industri dan mitra global.
Konferensi ini dirancang sebagai forum konsolidasi tingkat nasional yang bertujuan memperkuat peta jalan Diktisaintek Berdampak, mendorong berbagi praktik baik antarperguruan tinggi, serta mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkaya ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Dalam jangka panjang, forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi akselerasi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Acara dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang sekaligus menyampaikan materi mengenai Arah dan Kebijakan Strategis Pendidikan Tinggi. Dalam pidatonya, Brian Yuliarto menegaskan bahwa masa depan pendidikan tinggi Indonesia ditentukan oleh kekuatan kolaborasi dan fokus pada hasil riset yang berdampak.
“Bapak/Ibu yang kami hormati, KPPTI 2025 ini adalah momentum kita bersama untuk memastikan perguruan tinggi Indonesia dapat berdiri sebagai fondasi kokoh untuk kemajuan Indonesia. Dengan kolaborasi yang solid, riset yang berorientasi pada hasil, dan akses pendidikan yang adil, saya percaya pendidikan tinggi Indonesia dapat menjadi motor utama kemajuan bangsa,” ujarnya.
Kehadiran Prof. Ilfi dalam KPPTI 2025 menjadi simbol komitmen UIN Maliki Malang dalam mengambil peran strategis dalam penguatan ekosistem pendidikan tinggi nasional. Beliau turut hadir dalam sesi-sesi diskusi utama bersama para rektor serta pemimpin lembaga pendidikan tinggi lainnya, yang membahas isu strategis seperti transformasi digital pendidikan, penguatan riset berbasis solusi, internasionalisasi kampus, serta integrasi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pada kesempatan ini, UIN Maliki Malang juga menunjukkan kesiapan untuk memperluas kerja sama dengan berbagai institusi, baik nasional maupun internasional, serta memperteguh kontribusinya terhadap pendidikan tinggi berbasis nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan. Melalui keikutsertaan dalam KPPTI 2025, UIN Maliki Malang menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari pendorong utama kemajuan pendidikan tinggi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
Dengan berlangsungnya KPPTI 2025, seluruh peserta diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis, memperkuat sinergi lintas sektor, dan mempercepat transformasi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia. Konferensi ini menjadi wadah penting bagi para pemimpin bangsa dalam memastikan perguruan tinggi mampu mencetak generasi unggul menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Reporter: Ariel Alvi
Editor: Azman Fawwazi
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Pada hari ketiga pelaksanaan Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, salah satu fasilitator sekaligus akademisi dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (Khas) Jember, Prof. Fawaizul Umam, memberikan penguatan materi mengenai nilai-nilai universal agama sebagai landasan teologis dalam mengembangkan sikap keberagamaan yang moderat. Rabu, 18 November 2025.
Dalam pemaparannya, Prof. Fawaizul menjelaskan bahwa nilai merupakan prinsip etika yang bersifat universal. Nilai yang dimaksud bukan tentang angka atau ukuran kuantitatif, tetapi terkait substansi moral yang membentuk pola sikap baik atau buruk seseorang dalam merespons berbagai persoalan kehidupan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun moderasi beragama.
Prof. Fawaizul mengajak peserta ToT untuk berdiskusi secara mendalam mengenai nilai universal dalam perspektif agama Islam yang dapat menjadi basis etik dalam keberagamaan yang moderat. Peserta juga diajak menganalisis sejumlah kasus aktual di masyarakat untuk melihat sejauh mana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sosial.
“Nilai-nilai universal dalam Islam dapat dijadikan dasar teologis bagi terwujudnya keberagamaan moderat,” jelasnya. Nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, persaudaraan kemanusiaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia disebut sebagai prinsip yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga dapat diterima oleh seluruh umat manusia.
Tidak berhenti pada analisis nilai-nilai universal, Prof. Fawaizul juga meminta para peserta untuk mengeksplorasi dan mengkritisi penafsiran atau pandangan keagamaan di internal umat Islam yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai universal tersebut.
“Peserta juga harus memberikan hasil penafsiran atau pandangan keagamaan yang muncul di internal umat Islam dan bertentangan dengan nilai-nilai universal,” terangnya.
Penekanan ini bertujuan agar para peserta ToT tidak hanya memahami dasar teologis moderasi beragama, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan dalam menghadapi pandangan atau praktik keagamaan yang berpotensi menimbulkan sikap ekstrem, intoleran, atau diskriminatif.
Dengan penguatan materi ini, peserta ToT diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal agama dalam kegiatan pembelajaran maupun pengabdian masyarakat, serta berperan aktif sebagai agen moderasi beragama yang berperspektif teologis, etis, dan humanis.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Memasuki hari ketiga kegiatan Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama, Master Instruktur Moderasi Beragama Kementerian Agama RI sekaligus Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Marzuki Wahid, kembali mengajak para peserta untuk mendalami konsep dasar moderasi beragama secara lebih komprehensif. Rabu, 19 November 2025.
Dalam pengantarnya, Marzuki mengutip kalimat penting dari Buku Moderasi Beragama yang berbunyi: “Indonesia adalah negara yang bermasyarakat religius dan majemuk. Meskipun bukan negara agama, masyarakat lekat dengan kehidupan beragama dan kemerdekaan beragama dijamin oleh konstitusi. Menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan menjadi tantangan bagi setiap warga negara.”
Kutipan tersebut, menurutnya, menjadi kunci memahami mengapa moderasi beragama menjadi sangat relevan di Indonesia. “Moderasi ada karena adanya dua kutub ekstrem. Dalam kehidupan selalu ada baik dan buruk, sehingga posisi moderat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan,” jelasnya.
Marzuki menegaskan bahwa sikap moderat selalu berkaitan dengan nilai keadilan, keberimbangan, serta memberikan yang terbaik dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Moderat, tuturnya, bukan berarti lemah, tetapi mengedepankan sikap tidak ekstrem, tidak radikal, dan tidak fanatik.
“Dalam konteks agama, moderat berarti memiliki pandangan yang tidak ekstrem dalam memahami ajaran agama, tidak memaksakan keyakinan sendiri kepada orang lain, dan menghormati perbedaan keyakinan,” terangnya.
Ia kemudian memaparkan sejumlah ciri penting dari pribadi moderat, antara lain terbuka terhadap perbedaan di masyarakat majemuk, toleran terhadap keyakinan orang lain, tidak ekstrem dalam pandangan, tidak fanatik buta, menghormati hak asasi manusia, berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan.
Menutup sesinya, Marzuki menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar pendekatan tekstual terhadap ayat atau doktrin keagamaan. “Moderasi beragama itu berada di tengah yang adil dan berimbang. Ia lebih menitikberatkan pada pendekatan kontekstual yang mengutamakan kemaslahatan,” tegasnya.
Dengan pendalaman materi ini, peserta ToT diharapkan mampu memahami esensi moderasi beragama secara utuh sehingga siap menjadi agen penguat nilai kebangsaan dan kerukunan keagamaan di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Memasuki hari ketiga pelaksanaan Training of Trainer (TOT) Moderasi Beragama bagi 30 dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, para peserta kembali diajak memperdalam pemahaman melalui sesi review menyeluruh atas materi yang telah diberikan pada hari sebelumnya. Kegiatan ini dipandu langsung oleh fasilitator TOT, Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rabu, 19 November 2025.
Pada sesi tersebut, peserta diminta melakukan telaah kembali atas materi yang disampaikan oleh narasumber ahli Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin serta rangkaian materi yang diberikan oleh tim fasilitator. Dr. Iklilah memandu jalannya proses review secara klasikal, memastikan setiap peserta memahami inti materi secara utuh.
Berdasarkan hasil diskusi kelompok, fasilitator menilai bahwa peserta mampu menyerap dan mengolah materi dengan baik. "Di akhir setiap sesi, tim fasilitator selalu memberikan pendalaman materi kepada para peserta training moderasi beragama," tegas Dr. Iklilah.
Ia menambahkan bahwa dalam TOT, proses review bersama menjadi bagian penting untuk memastikan pemahaman tidak hanya pada tataran substansi, tetapi juga pada metode penyampaiannya. “Menjadi calon trainer itu tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus memahami alur dan metodologinya,” ungkapnya.
Selain itu, Dr. Iklilah kembali menekankan pentingnya verifikasi dan validasi terhadap setiap informasi, terutama yang berkaitan dengan isu keagamaan. “Setiap sumber informasi yang diterima harus melalui proses verifikasi dan validasi untuk memastikan keakuratan dan kebenarannya. Ini penting untuk menghindari penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan, khususnya persoalan agama,” pesannya.
Melalui rangkaian kegiatan TOT ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep moderasi beragama, tetapi juga mampu menyampaikan kembali materi secara tepat, metodologis, dan bertanggung jawab sebagai calon trainer moderasi beragama di lingkungan akademik UIN Maliki Malang.
selain itu, tim fasilitator juga mengajak seluruh peserta untuk ice breaking melalui gerakan senam indoor dengan iringan shalawat.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, (tautan tidak tersedia), menekankan pentingnya moderasi beragama bagi dosen muda dalam acara Training of Trainer (ToT) Moderasi Beragama yang diikuti oleh 30 dosen muda UIN Maliki Malang. Selasa, 18 November 2025.
Dalam arahannya, Prof. Ilfi meminta para peserta untuk mengikuti kegiatan ini dengan baik dan harus lulus 100 persen. "Jangan sampai ada peserta ToT ini yang tidak lulus akibat kurang disiplin," tegasnya.
Oleh karena itu, peserta yang terpilih ini harus memanfaatkan kesempatan baik ini untuk lulus dalam pelatihan ini dan bisa menjadi fasilitator dalam muatan moderasi beragama di UIN Maliki Malang.
Prof. Ilfi juga menyampaikan bahwa sertifikat TOT Moderasi Beragama ini bisa digunakan untuk kenaikan pangkat dan juga untuk pengajuan guru besar. "Jadi ini menjadi kesempatan yang luar biasa dan jangan sampai di sia-siakan," pesannya.
Mantan Wakil Rektor Bidang AUPK ini juga menyampaikan bahwa dirinya sebagai Rektor UIN Malang belum bisa mengikuti TOT ini karena di tengah padatnya jadwal sebagai pimpinan tertinggi di UIN Maliki Malang. Akan tetapi, beliau juga suatu saat ingin mengikuti kegiatan ToT Moderasi Beragama ini karena sudah menjadi kebutuhan dosen di UIN Malang yang memiliki kewajiban tidak hanya mengajar saja tapi juga berdakwah di tengah masyarakat.
"Saya ucapkan selamat menjalani TOT dan niatkan ini untuk berjuang bersama dengan menjadi fasilitator moderasi beragama di kampus maupun di tengah masyarakat," tutupnya.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Menteri Agama RI periode 2014-2019, Dr. (HC) Lukman Hakim Saefuddin (LHS), hadir di tengah peserta TOT Moderasi Beragama Batch II yang diikuti 30 dosen muda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya moderasi beragama dalam mencegah intoleransi dan mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Selasa, 18 November 2025.
"Ajaran agama yang universal adalah ajaran yang diakui oleh semua manusia, apapun latar belakang dan agamanya," kata Lukman Hakim. "Contohnya, agama mengajarkan semua manusia harus dihormati dan dihargai. Tidak ada satu ajaran agama apapun yang mengajarkan untuk saling merendahkan satu sama lain."
Beliau juga menekankan bahwa moderasi beragama adalah kunci untuk mencegah radikalisme dan intoleransi. "Jika ada manusia yang keluar dari ajaran agama yang universal, maka dia menjadi radikal yang keluar dari inti ajaran agama itu sendiri," tegasnya.
Lukman Hakim juga menekankan bahwa keragaman adalah kehendak Allah SWT, dan Al-Qur'an memiliki multi tafsir. "Jika Allah berkehendak, ummatan Wahidan atau menjadikan semua manusia di muka bumi ini umat Islam semua jika Allah berkehendak pasti bisa," katanya. "Tapi, Allah berkehendak lain, keberagaman ini sudah menjadi ketentuan Allah." imbuhnya.
Beliau juga mengajak peserta untuk menebarkan kasih sayang dan menghormati satu sama lain, serta mencegah ujaran kebencian dan intoleransi. "Ajaran agama yang inti itu menebarkan kasih sayang, jangan sampai terjadinya perbedaan pendapat disikapi berlebihan mengatasnamakan agama," katanya.